{"id":63096,"date":"2014-03-29T10:51:16","date_gmt":"2014-03-29T03:51:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/"},"modified":"2024-01-13T02:18:40","modified_gmt":"2024-01-12T19:18:40","slug":"idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/","title":{"rendered":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\">Selain <em>Earth Hour<\/em> yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga punya Nyepi Segara untuk memulihkan kualitas sumberdaya laut dan pesisir.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\">Di penghujung Maret ini, dunia akan merayakan indahnya konservasi. \u00a0Acara hemat energi versi WWF yakni\u00a0<em>Earth Hour<\/em>\u00a0 digelar pada malam tanggal 29 Maret dengan mematikan listrik selama satu jam, dan lusanya pada 31 Maret 2014\u00a0<span style=\"font-size: 14px; line-height: 1.5em;\">Hari Raya Nyepi\u00a0 akan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Hindu di Indonesia. Dalam Nyepi, tradisi menghemat energi telah berusia lebih dari 2000 tahun.<\/span><\/p>\n<p><b><strong>Matikan Listrik 1 Jam<\/strong><\/b><\/p>\n<p><i><em>Earth Hour<\/em><\/i> (EH) merupakan gerakan mematikan listrik selama satu jam yang diperkenalkan oleh lembaga internasional untuk pelestarian lingkungan, WWF (<i><em>World Wide Fund for Nature<\/em><\/i>). Gerakan ini pertama kali dicetuskan di Sydney, Australia pada tahun 2007 dan dengan cepat diikuti berbagai negara pada tahun berikutnya. Tahun 2009, Jakarta menjadi kota besar Indonesia pertama yang mendukung kampanye global penghematan energi ini. Laporan WWF pada tahun 2013, tercatat sekurangnya 7000 kota di 162 negara dan 30 kota dari Sabang hingga Merauke turut berpartisipasi secara sukarela mendukung gerakan ini.<\/p>\n<p>WWF mengklaim, dari EH tahun 2013 di Jakarta saja dapat menghemat 236 megawatt listrik, yang setara dengan 260 juta rupiah. Memasuki tahun keenam pelaksanaanya pada hari Sabtu (29\/3), 32 kota se-Indonesia telah menyatakan komitmen untuk berpartisipasi. Dari jumlah ini, terdapat dua kota, yaitu Palembang dan Padang yang baru kali pertama secara resmi mendukung kampanye ini.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia adalah salah satu lokasi <i><em>Earth Hour<\/em><\/i> di dunia yang paling kuat digerakkan komunitas dan digital. Tahun 2014 ini WWF mengampanyekan bukan hanya menghemat energi dengan mematikan lampu, tapi juga mengajak masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, mengurangi penggunaan plastik serta bijak menggunakan kertas,\u201d kata Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF, Nyoman Iswarayoga saat dihubungi <i>Ekuatorial<\/i> (26\/3). Tahun ini tema <em>Earth Hour<\/em> adalah <em>Use Your Power, <\/em>yang menurut Nyoman\u00a0\u00a0dimaksudkan untuk menyadartahukan masyarakat secara luas agar memilih produk-produk yang menjalankan produksi ramah lingkungan serta berpihak pada pelestarian hutan.<\/p>\n<p><b><strong>Warisan Leluhur Hindu<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Jika <em>Earth Hour<\/em> pertama digalakkan pada 2007, masyarakat Hindu Bali ternyata telah memiliki kesadaran serupa untuk melestarikan energi sejak tahun 78 masehi. Ritual yang dikenal secara luas dengan Nyepi ini diperingati setiap pergantian tahun baru Saka, tahun baru menurut kalender Hindu. \u201cSumber perayaan Nyepi menjadi jelas setelah kitab Negara Kertagama mencatat adanya perayaan Nyepi di Kerajaan Majapahit yang disebut Citramaisa,\u201d terang Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar \u00a0Prof. I Made Titib.<\/p>\n<p>Bagi masyarakat Hindu di Bali, Nyepi merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam manusia (<i><em>buwana alit<\/em><\/i>) dan alam semesta (<i><em>buwana agung<\/em><\/i>). Dalam menjalankan ritual, terdapat beberapa kegiatan pokok yang harus dijalankan, seperti <i><em>amati karya<\/em><\/i> (tidak bekerja), <i><em>amati geni<\/em><\/i> (tidak menyalakan api atau cahaya), <i><em>amati leluangan<\/em><\/i> (tidak bepergian) dan <i><em>amati lelanguan<\/em><\/i> (tidak bersenang-senang).<\/p>\n<p>Praktis, segala kegiatan di lingkungan Bali \u2013kecuali rumah sakit dan keperluan darurat lainnya- berhenti total selama 24 jam penuh. Pecalang, pasukan yang ditunjuk khusus untuk memastikan Nyepi berlangsung kondusif akan mengontrol setiap aktifitas masyarakat selama perayaan ini. Selama sehari inilah masyarakat bisa merasakan kembali lingkungan yang bebas polusi, baik yang berasal dari asap kendaraan bermotor, cahaya atau bentuk polusi lain yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat yang tinggal di perkotaan. Pada tahun 2013 silam, sebagaimana disampaikan Humas PLN Distribusi Bali, Agung Mastika, perayaan Nyepi berhasil menghemat penggunaan listrik sekurangnya 290 megawatt atau setara 4 milyar rupiah.<\/p>\n<p>Disamping itu, kearifan budaya Bali yang menghargai lingkungan ternyata tak hanya Nyepi. Masyarakat di Kepulauan Nusa Penida, sejak tahun 1600 telah rutin menjalankan Nyepi Segara, yakninya menghentikan aktifitas melaut sehari penuh pada saat purnama keempat berdasar penanggalan Bali. Kepercayaan yang ditaati warga di Nusa Gede, Lembongan dan Cenongan ini dikenal dengan Nyepi Segara. \u201cNyepi Segara tidak hanya berlaku bagi aktifitas nelayan, namun juga aktifitas transportasi laut dan wisata. Pada saat tersebut, Dewa Baruna yang menjadi penguasa laut sedang melakukan Tapa Yoga Semadi, makanya kalau diganggu akan terjadi bencana,\u201d jelas I Wayan Sukasta, tokoh masyarakat Nusa Gede kepada <i>beritabali.com<\/i> beberapa waktu lalu.<b> <strong>Azhari Fauzi &amp; Januar Hakam<\/strong><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>\u00a0<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga punya Nyepi Segara untuk memulihkan kualitas sumberdaya laut dan pesisir. Di penghujung Maret ini, dunia akan merayakan indahnya konservasi. \u00a0Acara hemat energi versi WWF yakni\u00a0Earth Hour\u00a0 digelar pada malam tanggal 29 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":65535,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3913,3914,4003,3996],"tags":[4074,4080],"partner":[],"coauthors":[3926],"class_list":["post-63096","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biodiversity","category-climate-change","category-kalimantan-en","category-papua-en","tag-climate-change-2-en","tag-perubahan-iklim-en"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v27.4 (Yoast SEO v27.5) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ekuatorial\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Ekuatorial\/\" \/>\n<meta property=\"article:author\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/florence.armein\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-03-29T03:51:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-01-12T19:18:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"666\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Florence Armein\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@Mad_Firenze\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ekuatorialmap\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Florence Armein\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"NewsArticle\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Florence Armein\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/031e286c00f0aedb80e8e4dfc92399ce\"},\"headline\":\"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun\",\"datePublished\":\"2014-03-29T03:51:16+00:00\",\"dateModified\":\"2024-01-12T19:18:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/\"},\"wordCount\":634,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/03\\\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1\",\"keywords\":[\"climate change\",\"perubahan iklim\"],\"articleSection\":[\"Biodiversity\",\"Climate change\",\"Kalimantan\",\"Papua\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/\",\"name\":\"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/03\\\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1\",\"datePublished\":\"2014-03-29T03:51:16+00:00\",\"dateModified\":\"2024-01-12T19:18:40+00:00\",\"description\":\"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/03\\\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/03\\\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1\",\"width\":1000,\"height\":666,\"caption\":\"suasana hari raya Nyepi di Kuta, Bali\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/2014\\\/03\\\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/\",\"name\":\"Ekuatorial\",\"description\":\"Data. Maps. Storytelling.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#organization\",\"name\":\"Ekuatorial\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/04\\\/ekuatorial-logo.png?fit=1600%2C600&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/www.ekuatorial.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/04\\\/ekuatorial-logo.png?fit=1600%2C600&ssl=1\",\"width\":1600,\"height\":600,\"caption\":\"Ekuatorial\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Ekuatorial\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/ekuatorialmap\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UCCGP9Ia-Muud1Gv7YshQIEA\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/Ekuatorial_com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/031e286c00f0aedb80e8e4dfc92399ce\",\"name\":\"Florence Armein\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g3efbcfc1a81f29c97f34982f55723fe3\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Florence Armein\"},\"description\":\"Florence Armein is the Indonesia Content Coordinator for EJN's Asia-Pacific project where she manages Ekuatorial, a GeoJournalism site that uses geographic data and news stories to cover climate change in Indonesia. She joins EJN with over 10 years of experience in radio and television. At BeritaSatu Media Holdings, where she worked for five years, she managed a student publication, special media projects and established Indonesia\u2019s first English news channel. Prior to her media work, Florence worked on development projects relating to judicial reform funded by MCC and USAID. Prior to joining EJN, Florence was working part-time as General Manager for Da Vinci Learning, a science and knowledge channel from Germany, and served as a Video Content Coordinator for the Indonesia Economic Forum and Indonesia Property Forum. Florence is based in Jakarta, Indonesia.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/florence.armein\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/madflorence\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/florence-armein-0564b0121\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/Mad_Firenze\"],\"gender\":\"female\",\"knowsLanguage\":[\"Indonesian\",\"Malaysian\",\"English\"],\"jobTitle\":\"Indonesia Content Coordinator\",\"worksFor\":\"Internews&#39; Earth Journalism Network\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ekuatorial.com\\\/en\\\/author\\\/florence-armein\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun","description":"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun","og_description":"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga","og_url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/","og_site_name":"Ekuatorial","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Ekuatorial\/","article_author":"https:\/\/www.facebook.com\/florence.armein","article_published_time":"2014-03-29T03:51:16+00:00","article_modified_time":"2024-01-12T19:18:40+00:00","og_image":[{"width":1000,"height":666,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Florence Armein","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@Mad_Firenze","twitter_site":"@ekuatorialmap","twitter_misc":{"Written by":"Florence Armein","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"NewsArticle","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/"},"author":{"name":"Florence Armein","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#\/schema\/person\/031e286c00f0aedb80e8e4dfc92399ce"},"headline":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun","datePublished":"2014-03-29T03:51:16+00:00","dateModified":"2024-01-12T19:18:40+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/"},"wordCount":634,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1","keywords":["climate change","perubahan iklim"],"articleSection":["Biodiversity","Climate change","Kalimantan","Papua"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/","url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/","name":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1","datePublished":"2014-03-29T03:51:16+00:00","dateModified":"2024-01-12T19:18:40+00:00","description":"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 2000 tahun lalu. Kini mereka juga","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#primaryimage","url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1","width":1000,"height":666,"caption":"suasana hari raya Nyepi di Kuta, Bali"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/2014\/03\/idnyepi-tradisi-konservasi-berusia-2000-tahun\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"[:id]Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#website","url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/","name":"Ekuatorial","description":"Data. Maps. Storytelling.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#organization","name":"Ekuatorial","url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ekuatorial-logo.png?fit=1600%2C600&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ekuatorial-logo.png?fit=1600%2C600&ssl=1","width":1600,"height":600,"caption":"Ekuatorial"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Ekuatorial\/","https:\/\/x.com\/ekuatorialmap","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCCGP9Ia-Muud1Gv7YshQIEA","https:\/\/www.instagram.com\/Ekuatorial_com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/#\/schema\/person\/031e286c00f0aedb80e8e4dfc92399ce","name":"Florence Armein","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g3efbcfc1a81f29c97f34982f55723fe3","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ae67d50b330bffe276b5ce71705cb4129523e7d3225aa78df6d1350e583acb3d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Florence Armein"},"description":"Florence Armein is the Indonesia Content Coordinator for EJN's Asia-Pacific project where she manages Ekuatorial, a GeoJournalism site that uses geographic data and news stories to cover climate change in Indonesia. She joins EJN with over 10 years of experience in radio and television. At BeritaSatu Media Holdings, where she worked for five years, she managed a student publication, special media projects and established Indonesia\u2019s first English news channel. Prior to her media work, Florence worked on development projects relating to judicial reform funded by MCC and USAID. Prior to joining EJN, Florence was working part-time as General Manager for Da Vinci Learning, a science and knowledge channel from Germany, and served as a Video Content Coordinator for the Indonesia Economic Forum and Indonesia Property Forum. Florence is based in Jakarta, Indonesia.","sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/florence.armein","https:\/\/www.instagram.com\/madflorence\/","https:\/\/www.linkedin.com\/in\/florence-armein-0564b0121\/","https:\/\/x.com\/Mad_Firenze"],"gender":"female","knowsLanguage":["Indonesian","Malaysian","English"],"jobTitle":"Indonesia Content Coordinator","worksFor":"Internews&#39; Earth Journalism Network","url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/author\/florence-armein\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1","jetpack-related-posts":[{"id":6812,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2014\/03\/indonesian-nyepi-tradisi-konservasi-berusia-1000-tahun\/","url_meta":{"origin":63096,"position":0},"title":"Nyepi, Tradisi Konservasi Berusia 2000 Tahun","author":"Florence Armein","date":"March 29, 2014","format":false,"excerpt":"Selain Earth Hour yang dikenal dunia, orang Bali ternyata punya tradisi konservasi energi melalui Hari Raya Nyepi sejak 1000 tahun lalu. Kini mereka juga punya Nyepi Segara untuk memulihkan kualitas sumberdaya laut dan pesisir. Di penghujung Maret ini, dunia akan merayakan indahnya konservasi. \u00a0Acara hemat energi versi WWF yakni\u00a0Earth Hour\u00a0\u2026","rel":"","context":"In &quot;Jawa&quot;","block_context":{"text":"Jawa","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/wilayah\/jawa\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/nyepi-bali.jpg?fit=1000%2C666&ssl=1&resize=700%2C400 2x"},"classes":[]},{"id":466,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2010\/03\/earth-hour-matikan-lampu-suarakan-masa-depan-bumi\/","url_meta":{"origin":63096,"position":1},"title":"EARTH HOUR, MATIKAN LAMPU SUARAKAN MASA DEPAN BUMI","author":"Florence Armein","date":"March 26, 2010","format":false,"excerpt":"Anjuran mematikan lampu dan perangkat listrik selama satu jam atau Earth Hour dimulai tahun 2007 di Sidney. Saat itu sekitar 2,2 juta rumah tangga dan bisnis mematikan lampu sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye perubahan iklim.\u00a0Setahun kemudian menjadi gerakan global, sebanyak 50 juta penduduk dari 35 negara ikut berpartisipasi. Ciri khas\u2026","rel":"","context":"In &quot;Jawa&quot;","block_context":{"text":"Jawa","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/wilayah\/jawa\/"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6858,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2014\/04\/party-celebration-sending-wrong-message\/","url_meta":{"origin":63096,"position":2},"title":"Pesta Selebrasi yang Salah Mengirim Pesan","author":"","date":"April 3, 2014","format":false,"excerpt":"Menakjubkan rasanya melihat lokasi-lokasi penting dunia, tiba-tiba mematikan lampu secara bersamaan, Jumat (28\/3) lalu. Aksi tersebut merupakan tanda nyata dari upaya mengurangi beban dunia melalui energi yang digunakan. \u00a0Peneliti politik dari Swedia, Bjorn Lomborg, menyatakan kegiatan mematikan lampu (earth hour) hanya menjadi solusi kecil dari masalah besar sebenarnya dari pemanasan\u2026","rel":"","context":"In &quot;Jawa&quot;","block_context":{"text":"Jawa","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/wilayah\/jawa\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/Earth-Hour-Neets-and-Dre1.jpg?fit=320%2C313&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":103933,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2025\/10\/dari-kilau-surya-dan-jantung-bumi-ke-jalan-raya\/","url_meta":{"origin":63096,"position":3},"title":"Dari kilau surya dan jantung bumi ke jalan raya","author":"Redaksi Ekuatorial","date":"October 3, 2025","format":false,"excerpt":"Swasembada energi dari hulu ke hilir: energi bersih dari sumber daya domestik, digunakan untuk transportasi tanpa emisi.","rel":"","context":"In &quot;Artikel&quot;","block_context":{"text":"Artikel","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/tipe\/artikel\/"},"img":{"alt_text":"nol emisi PLN dan ujian keadilan energi","src":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-07-08-at-19.29.58_7e80be17.avif","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-07-08-at-19.29.58_7e80be17.avif 1x, https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-07-08-at-19.29.58_7e80be17.avif 1.5x, https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-07-08-at-19.29.58_7e80be17.avif 2x, https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-07-08-at-19.29.58_7e80be17.avif 3x"},"classes":[]},{"id":102181,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2025\/01\/menanti-pencabutan-izin-pltu-ombilin-sawahlunto\/","url_meta":{"origin":63096,"position":4},"title":"Menanti Pencabutan Izin PLTU Ombilin Sawahlunto","author":"Noura Arifin","date":"January 20, 2025","format":false,"excerpt":"PLTU Ombilin di Sawahlunto menuai kritik akibat pencemaran lingkungan dan dampak kesehatan sejak awal 2000-an.","rel":"","context":"In &quot;Artikel&quot;","block_context":{"text":"Artikel","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/tipe\/artikel\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-20-at-15.46.30.jpeg?fit=900%2C1200&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-20-at-15.46.30.jpeg?fit=900%2C1200&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-20-at-15.46.30.jpeg?fit=900%2C1200&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2025-01-20-at-15.46.30.jpeg?fit=900%2C1200&ssl=1&resize=700%2C400 2x"},"classes":[]},{"id":104846,"url":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/2026\/01\/pltmh-swadaya-di-jantung-rimba-kampung-silit\/","url_meta":{"origin":63096,"position":5},"title":"PLTMH swadaya di jantung rimba Kampung Silit","author":"Alfiyah Ajeng Nurardita","date":"January 5, 2026","format":false,"excerpt":"Energi dari PLTMH adalah hadiah dari sungai yang terus mengalir karena hutannya dijaga dengan cinta dan hormat.","rel":"","context":"In &quot;Artikel&quot;","block_context":{"text":"Artikel","link":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/kategori\/tipe\/artikel\/"},"img":{"alt_text":"Energi dari PLTMH adalah hadiah dari sungai yang terus mengalir karena hutannya dijaga dengan cinta dan hormat.","src":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Sungai-Kampung-Silit.avif","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Sungai-Kampung-Silit.avif 1x, https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Sungai-Kampung-Silit.avif 1.5x, https:\/\/www.ekuatorial.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Sungai-Kampung-Silit.avif 2x"},"classes":[]}],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63096","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63096"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63096\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63096"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63096"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63096"},{"taxonomy":"partner","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/partner?post=63096"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ekuatorial.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=63096"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}