Ekuatorial

Environmental News Syndication

Nelayan Lhok Seudu Meneruskan Tradisi Penangkapan Ramah Lingkungan

Juni 13, 2018

Oleh Fahreza Ahmad

Aceh Besar, ACEH. Tiga belas tahun berlalu sejak ie beuna atau aloen buluek (red: tsunami) meratakan propinsi Aceh di tabun 2004, masyarakat Desa Teupin Layeu, Kabupaten Aceh Besar, yang sebagian besar merupakan nelayan, tetap setia melaut di Teluk Lhok Seudu secara tradisional.

Kehidupan masyarakat Lhok Seudu saat ini telah berdenyut kembali, tapi bukan berarti mereka telah melupakan peristiwa Tsunami yang telah dialami. Sebuah masjid tanpa kubah dibiarkan berdiri, menjadi pengingat bagi masyarakat di sana akan kuasa Tuhan YME pemilik Bumi.

Kebanyakan nelayan Lhok Seudu masih menggunakan palong, yaitu bagan apung yang ditopang oleh dua perahu lebih kecil, untuk menangkap ikan.

Nelayan di Lhokseudu biasanya menangkap ikan dengan meujhab. Meujhab merupakan jaring ikan yang berbentuk bulat dan bagian atasnya terbuka. Cara nelayan menangkap ikan memakai meujhab adalah dengan memasukkan alat ini ke dasar laut. Kemudian benda tersebut diterangi lampu dengan tujuan agar ikan-ikan masuk ke dalam area jhab.

Metode ini merupakan metode tradisional masyarakat Aceh yang sudah dijalani selama puluhan tahun dan dianggap lebih aman untuk lingkungan karena hanya menggunakan alat-alat sederhana, seperti lampu dan jaring untuk menarik perhatian dan menangkap ikan.

“Penggunaan Palong memang sudah lazim disini karena sasaran kami memang ikan-ikan kecil yang bisa ditangkap dengan jhab atau jaring palong,” kata Hasan Is, salah seorang pemilik palong.

Nelayan tersenyum di pagi hari usai semalaman bekerja keras menangkap ikan di atas palong. Dalam sehari mereka menerima bayaran Rp40 ribu. Perubahan iklim yang semakin ekstrim membuat mereka hanya bisa bekerja mengais rezeki di laut selama 6 bulan dalam setahun. Selebihnnya mereka rata-rata bekerja sebagai tukang bangunan.

Satu palong dipimpin oleh satu orang pawang (red: nahkoda) atau tekong yang bertugas mencari titik labuh dan lokasi ikan. Pawang biasanya dibantu oleh tujuh nelayan dalam mengoperasikan palong.

Para nelayan mulai bekerja pukul 2.30 dini hari hingga 6.30 pagi. Mereka bekerja menjelang pagi untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan mereka karena tidak membawa es.

Nelayan palong mengangkat ikan hasil tangkapan pada pukul enam pagi hari. Nelayan palong biasanya mulai bekerja sejak pukul 2.30 dini hari lalu langsung membawa ikan tangkapan ke TPI Lhokseudu agar ikan tetap segar.

“Kami bekerja pada pukul 2.30 pagi untuk menjaga hasil tangkapan agar tetap segar. Ikan-ikan kecil cenderung cepat busuk jika kami bekerja (misalnya) sejak pukul 10 malam,” jelas Zaenal, salah seorang nelayan Palong yang ditemui Ekuatorial.

Untuk menangkap ikan, mereka menyebarkan jaring (jhab) di sekitar palong yang dilengkapi oleh lampu dengan tujuan untuk menarik perhatian ikan.

Nelayan palong mengangkat jaring yang berisi ikan hasil tangkapan pada pukul enam pagi hari. Untuk menangkap ikan, mereka menyebarkan jaring (jhab) di sekitar palong yang dilengkapi oleh lampu dengan tujuan untuk menarik perhatian ikan.

“Lampu-lampu itu berguna untuk menarik perhatian ikan agar masuk ke dalam jhab, lanjutnya menambahkan mereka menebar dan menarik jhab hingga tiga kali dalam semalam.

Hasil tangkapan berupa ikan teri, cumi-cumi atau gurita akan langsung di angkut ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lhok Seudu tanpa menggunakan es dan pengawet.

Nelayan bertransaksi dengan para penampung di TPI Lhokseudu. Satu keranjang ikan segar di jual seharga 200 hingga 300 ribu rupiah. Namun bisa meningkat menjadi 700 ribu jika terjadi kelangkaan.

“Rata-rata palong tidak membawa es untuk menghemat biaya operasional,” kata Sabirin (42), pawang kapal Palong.

Untuk satu hari kerja, para nelayan akan mengambil satu keranjang lalu dibagikan untuk dibawa pulang dan sisanya dijual. Hasil penjualan tangkapan, jelas Zaenal, berkisar antara lima sampai sepuluh juta rupiah per minggu.

Zaenal, seorang nelayan beribadah shalat maghrib dalam perjalanan menuju laut. Nelayan adalah profesi mulia yang berkontribusi penting dalam menjaga ketersediaan ikan bagi masyarakat.

“Kalau cuaca lagi bagus, kami bisa membawa pulang 80 sampai 100 keranjang ikan teri per hari, satu sampai dua ton per minggunya. Tapi, kadang-kadang dalam sehari, ikan bisa tak ada,” sambung Zaenal menambahkan para nelayan biasanya bekerja enam hari seminggu, kecuali hari Jumat.

Nuriah (36), salah seorang pekerja di lokasi pengeringan ikan teri, Lhok Seudu, Aceh Besar. Ikan kering hasil olahan di Lhok Seudu biasanya dikirimkan ke Medan atau Padang. Jika cuaca baik, dalam seminggu biasanya mereka memproduksi 1 hingga 2 ton ikan kering dengan bayaran 250 ribu sampai 300 ribu perminggunya.

Hasan, pemilik palong, menjelaskan bahwa nelayan akan mendapatkan upah kerja tergantung dari hasil penjualan yang sudah dibagi dua, antara pemilik dan tujuh nelayan lainnya. Jumlah ini, lanjutnya, sudah dipotong biaya operasional sebanyak empat hingga lima juta rupiah per-minggu.

“Para nelayan menerima upah kerja setiap Jumat per minggunya. Jumlahnya bervariasi tergantung hasil penjualan yang dibagi dua antara pemilik palong dan tujuh orang nelayan,” jelas Hasan yang memiliki satu palong.

Lhokseudu yang dalam bahasa lokal berarti lautan yang teduh. Inilah tempat bersandar sebagian besar masyarakat disini menggantungkan hidup mereka.

Meski dianggap adil, Zaenal menyatakan bahwa para nelayan masih belum puas karena belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Perjanjian bagi hasil antara nelayan dan pemilik palong sudah adil dan sesuai dengan penjualan, tapi kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari memang belum memadai,  maka untuk menambal kebutuhan sehari-hari setiap pagi sepulang dari melaut saya bertani bersama istri saya, siang beristirahat lalu kembali melaut sore harinya,” ungkap Zaenal. Ekuatorial.

Fahreza Ahmad adalah jurnalis foto lepas yang berasal dan berbasis di Banda Aceh.

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta