
Di Pulau Pramuka, para wisatawan yang tengah menikmati akhir pekan September lalu mendapat pengalaman baru: mencoba sebuah dashboard yang menampilkan kondisi pasang surut dan cuaca secara real-time. Aplikasi ini bernama “Searibu”, dikembangkan oleh tim mahasiswa dan dosen Kelompok Keahlian Hidrografi, Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB.
Kegiatan diseminasi berlangsung pada 19–24 September 2025. Tim menyasar berbagai kelompok—wisatawan lokal dan mancanegara, pegawai Tourist Information Center, pengelola dive center, petugas Taman Nasional Kepulauan Seribu, hingga pengelola penangkaran penyu.
Informasi pasang surut dan cuaca menjadi kebutuhan penting bagi wilayah pesisir yang bergantung pada aktivitas wisata. Tinggi muka air laut dapat memengaruhi keberangkatan kapal, snorkeling, penyelaman, hingga pengelolaan kawasan konservasi. Sementara perubahan cuaca yang cepat kerap menjadi tantangan keselamatan.
Situasi itu mendorong tim Hidrografi ITB dalam Program Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Inovasi (PPMI) untuk merancang sistem yang mudah diakses publik. Dashboard “Searibu” dirancang sebagai penyedia marine data yang akurat dan dapat dipantau secara langsung.
“Pengembangan dashboard ini merupakan bagian dari kontribusi keilmuan Hidrografi dalam mendukung pengelolaan pariwisata berkelanjutan,” ujar Madam Taqiyya, Dosen KK Hidrografi ITB, dalam keterangan resmi.
Dengan menyediakan marine data yang akurat dan terpercaya, ia berharap wisatawan dapat lebih mendapat kepastian dan kenyamanan dalam berwisata, sementara pelaku pariwisata dapat memberikan pelayanan yang prima dan berbasis data dalam menjalankan usahanya.
Dalam sesi uji coba, wisatawan diajak menelusuri fitur-fitur utama—mulai dari grafik pasang surut, prakiraan cuaca, hingga informasi pendukung aktivitas laut. Sejumlah masukan disampaikan pengguna, terutama soal kebutuhan perluasan cakupan data.
“Untuk sementara ini, dashboard yang kami rancang datanya masih terbatas dan berfokus di Pulau Pramuka. Harapan ke depannya, kami dapat mengembangkan lebih lanjut dan memperluas jangkauan data yang digunakan agar dapat relevan untuk digunakan pada kegiatan pariwisata di Kepulauan Seribu,” tutur Evin, mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, 2022.
Tim mencatat respons positif dari para pemangku kepentingan. Akses data real-time dinilai akan membantu perencanaan perjalanan, keamanan aktivitas wisata, hingga kegiatan konservasi.
Melalui “Searibu”, tim berharap pariwisata Kepulauan Seribu dapat berkembang tanpa mengabaikan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
- Pertaruhan Ekosistem Laut Indonesia di Proyek Abadi Blok Masela
- Mata Pencaharian di Bawah Bayang-Bayang Tongkang Batubara
- Masyarakat Adat Malind Lawan PSN Merauke lewat Palu Pengadilan
- Belajar dari China: Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya Baru
- Perempuan Penjaga Samudra di Balik Birunya Laut Indonesia
- Perang dan Harga Minyak, Alarm Keras untuk Mengakhiri Ketergantungan pada Energi Fosil
