Energi dari PLTMH adalah hadiah dari sungai yang terus mengalir karena hutannya dijaga dengan cinta dan hormat.

Jauh sebelum mata dapat menangkap wujudnya, telinga lebih dulu disapa oleh gemericik yang persisten. Di balik dinding tebal hutan tropis Kalimantan Barat, sebuah aliran air—yang sekilas tak lebih lebar dari parit kota—mengalir bening membelah kesunyian.

Bagi orang asing, sungai ini mungkin hanya satu dari ribuan nadi air yang menyusuri lantai hutan Borneo. Namun, bagi warga Kampung Silit, Dusun Silit, Desa Nanga Pari, aliran ini adalah detak jantung kehidupan. Di tepiannya, sebuah bangunan beton setinggi dada orang dewasa berdiri kokoh, menjadi rumah bagi turbin yang mengubah arus tenang itu menjadi pijar cahaya.

Inilah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Peraya Pagelang Bersinar. Di kampung yang terisolasi ratusan kilometer dari hiruk pikuk kota ini, sungai bukan sekadar air; ia adalah energi.

Mencapai Kampung Silit adalah sebuah ujian kesabaran. Berjarak sekitar 500 kilometer dari Pontianak, perjalanan ini mengupas lapis demi lapis wajah Kalimantan. Dari aspal mulus jalan negara, rute perlahan berubah menjadi jalur tanah merah yang berdebu saat kemarau dan menjadi bubur lumpur saat hujan.

Setelah menempuh perjalanan darat ratusan kilometer hingga ke Kecamatan Sepauk, pengunjung masih harus menembus jalan tikus yang diapit dinding hutan. Tidak ada sinyal seluler, tidak ada lampu jalan. Isolasi geografis inilah yang selama bertahun-tahun memaksa warga Silit bersahabat dengan gulita.

Sebelum turbin berputar, malam di Silit adalah sinonim dengan kesunyian yang pekat, hanya dipecahkan oleh dengung genset yang boros bahan bakar atau kedip suram lampu pelita.

Pertaruhan enam ratus juta

Perubahan itu bermula dari keberanian kolektif pada 2014. Warga sadar, menunggu jaringan listrik negara (PLN) menembus rimba raya adalah penantian yang tak pasti ujungnya. Dalam serangkaian musyawarah kampung yang intens, sebuah keputusan besar diambil: mereka akan membangun pembangkit listrik sendiri.

Pada 2016, dengan modal nekat dan harapan, warga meminjam dana sebesar Rp600 juta dari sebuah Credit Union lokal. Angka yang fantastis bagi komunitas petani di pedalaman. Namun, semangat gotong royong melampaui keraguan.

Laki-laki mengangkut pipa logam raksasa menembus semak belukar, sementara kaum ibu memastikan dapur umum tetap mengepul. Ketika air sungai akhirnya dialirkan menabrak sudu-sudu turbin dan generator berdesing untuk pertama kalinya, sorak sorai warga meledak. Kapasitas 96 kilowatt yang dihasilkan bukan sekadar angka teknis; itu adalah proklamasi kemandirian. Sebanyak 52 rumah pun akhirnya teraliri listrik.

Namun, mengelola pembangkit mandiri bukanlah dongeng tanpa konflik. Yohanes Diman, Ketua Pengelola PLTMH, ingat betul masa-masa sulit ketika mesin itu dipaksa bekerja 24 jam nonstop selama enam bulan pertama.

“Risikonya terlalu besar,” kenang Yohanes. Turbin pernah jebol, menelan biaya perbaikan hingga Rp8 juta dan memadamkan kampung selama seminggu penuh.

Belajar dari pengalaman pahit itu, warga berdamai dengan keterbatasan. Kini, listrik “hanya” menyala dari pukul 16.00 sore hingga 07.00 pagi. Iuran warga dipatok Rp30 ribu per bulan—angka yang sangat terjangkau untuk merawat mesin tua yang berjasa besar itu.

Awal 2025 membawa babak baru. Tiang-tiang beton PLN akhirnya menancap di tanah Kampung Silit, membawa aliran listrik negara yang stabil 24 jam. Sebuah kemewahan yang dulu hanya mimpi.

Namun, kehadiran raksasa energi negara tidak lantas mematikan inisiatif lokal. Realitas ekonomi berbicara. Krisnanda, seorang pemuda setempat, mengungkapkan bahwa tagihan PLN bisa melonjak hingga Rp100 ribu per bulan—tiga kali lipat dari iuran PLTMH.

Alhasil, sebuah pola hibrida yang unik terbentuk. Warga menggunakan listrik PLN di siang hari untuk kebutuhan produktif, namun saat malam turun, mereka kembali memutar sakelar ke jaringan mikrohidro. Bahkan, sekitar 10 rumah memilih setia sepenuhnya pada turbin desa.

Lebih dari sekadar penghematan, bagi warga Silit—mayoritas masyarakat adat Dayak Seberuang—PLTMH adalah simbol identitas dan hubungan spiritual dengan alam.

Hutan adalah baterai

Di hulu sungai, filosofi itu terlihat paling nyata. Debit air yang memutar turbin sangat bergantung pada kesehatan hutan di sekelilingnya. Jika pohon ditebang, tanah tak lagi mampu menyimpan air, dan sungai akan menyusut. Turbin pun akan diam.

“Kalau hutan hilang, listrik hilang,” ujar seorang tetua kampung dengan tatapan tajam ke arah rimbunan pohon.

Kalimat sederhana itu merangkum kearifan ekologis yang mendalam. Di Kampung Silit, menjaga hutan bukan slogan kampanye lingkungan, melainkan syarat mutlak agar lampu di ruang tamu tetap menyala.

Malam ini, di tengah belantara Sintang, lampu-lampu di Kampung Silit kembali benderang. Cahaya itu bukan berasal dari batu bara atau diesel, melainkan hadiah dari sungai yang terus mengalir karena hutannya dijaga dengan cinta dan hormat. Sebuah bukti kecil namun terang, bahwa energi bersih dan kemandirian masyarakat adat adalah masa depan yang nyata.

Reportase kolaboratif Ekuatorial dengan Kolase.ID

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses