Penurunan produksi di dalam negeri tetap menjadi warisan jangka panjang kerusakan lingkungan yang sudah terjadi di wilayah tambang.

Wacana pemangkasan produksi batu bara kembali mengemuka di tengah perdebatan arah kebijakan energi nasional. Di satu sisi, kebijakan ini digadang-gadang sebagai langkah mengatur pasar dan menjaga stabilitas harga. Namun di sisi lain, diskusi mengenai dampaknya terhadap lingkungan justru kerap terpinggirkan. Padahal, di balik angka produksi dan penerimaan negara, terdapat bentang alam yang terus menanggung konsekuensi dari eksploitasi energi fosil tersebut.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Ardyanto Fitrady, menilai pemangkasan produksi batu bara bukanlah solusi strategis, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan sumber daya.

Ia memaparkan, Indonesia hanya memiliki sekitar 3 persen cadangan batu bara dunia, jauh lebih kecil dibandingkan negara produsen besar lain seperti Amerika Serikat, China, India, dan Australia. Kondisi ini membuat posisi Indonesia sebenarnya tidak cukup kuat untuk memengaruhi harga batu bara global secara signifikan.

“Perekonomian kita sangat eksploitatif. Kita mengambil sebanyak-banyaknya sekarang, sementara negara lain justru menjaga cadangannya,” ujar Ardyanto dikutip dari laman UGM.

Lebih dari itu, pernyataan tersebut bukan hanya menggambarkan persoalan ekonomi, tetapi juga menyingkap pola pemanfaatan sumber daya alam yang minim pertimbangan keberlanjutan lingkungan.

Ancaman lingkungan bagi Indonesia

Produksi batu bara Indonesia selama ini didominasi oleh batu bara berkalori rendah. Jenis batu bara ini umumnya memerlukan volume pembakaran lebih besar untuk menghasilkan energi yang sama, sehingga berdampak pada peningkatan emisi dan memberikan ancaman besar terhadap lingkungan. Wacana pemangkasan produksi batu bara seharusnya dibaca bukan semata sebagai instrumen ekonomi, melainkan momentum untuk mengevaluasi ketergantungan terhadap sumber energi yang memiliki jejak ekologis tinggi.

Ardyanto mengingatkan, pemangkasan produksi tidak otomatis mengurangi dampak lingkungan secara global. Jika Indonesia mengurangi produksi, kekosongan pasokan akan dengan cepat diisi oleh negara lain yang memiliki cadangan lebih besar. “Batu bara tidak seperti nikel, di mana Indonesia punya posisi strategis dari sisi cadangan dan produksi,” jelasnya.

Artinya, penurunan produksi di dalam negeri tidak serta-merta menurunkan konsumsi batu bara dunia, sementara kerusakan lingkungan yang sudah terjadi di wilayah tambang Indonesia tetap menjadi warisan jangka panjang.

Dari perspektif lingkungan, kondisi ini menunjukkan paradoks kebijakan. Indonesia menanggung beban ekologis dari penambangan intensif, sementara manfaat pengendalian pasar global relatif terbatas. Meski produksi ditekan demi stabilisasi harga, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan masih berlangsung secara signifikan.

Pemangkasan justru menekan penerimaan negara

Lebih jauh, Ardyanto menyoroti pemangkasan produksi justru berpotensi menekan penerimaan negara. Dalam perhitungannya, penurunan volume produksi yang lebih besar dibanding kenaikan harga akan menghasilkan total penerimaan yang lebih kecil. Bagi lingkungan, situasi ini penting karena penerimaan negara kerap dijadikan justifikasi untuk terus mempertahankan eksploitasi batu bara.

Penurunan produksi akan langsung berdampak pada berkurangnya volume ekspor batu bara, sementara di saat yang sama permintaan sejumlah negara tujuan ekspor utama juga tengah mengalami pelemahan permintaan. Ia mencontohkan, ekspor batu bara Indonesia ke China tercatat mengalami penurunan sekitar 30 persen, sementara ekspor ke India turun sekitar 15 persen. Hal itu menjadikan kontribusi batu bara terhadap surplus neraca perdagangan menjadi semakin terbatas.

Dalam situasi tersebut, ketergantungan pada batu bara bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sudut pandang lingkungan. Eksploitasi yang terus digenjot tanpa posisi tawar kuat di pasar global berisiko memperpanjang kerusakan ekosistem, mulai dari degradasi lahan hingga pencemaran air dan udara di sekitar wilayah tambang.

Wacana pemangkasan produksi batu bara seharusnya tidak berhenti pada soal menjaga harga atau penerimaan negara, melainkan menjadi pintu masuk untuk membahas ulang ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Selama batu bara masih ditempatkan sebagai tulang punggung energi tanpa strategi pengurangan yang jelas dan berkeadilan, beban lingkungan akan terus berulang.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses