Karst Gunung Sewu bukan sekadar objek wisata atau sumber pendapatan. Kawasan ini merupakan ruang hidup yang kerap terabaikan.

​Di tengah geliat pembangunan pariwisata yang semakin intensif, bentang alam karst Gunung Sewu menghadapi tantangan yang tak ringan. Kawasan yang selama ini menjadi sumber kehidupan dan identitas masyarakat lokal kini berada di persimpangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Tekanan pembangunan pariwisata yang kurang berhati-hati telah memunculkan kekhawatiran serius terhadap kerusakan kawasan karst.

Karst sendiri merujuk pada bentang alam yang terbentuk dari pelarutan batuan karbonat seperti batugamping, sehingga memiliki sistem rongga bawah tanah dan saluran air khusus yang memengaruhi ketersediaan air sekaligus struktur tanah di sekitarnya. Karakter bentang alam yang membuatnya kaya fungsi ekologis sekaligus rentan terhadap gangguan. 

Dalam diskusi yang digelar Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada (UGM) belum lama ini, fokus pada masalah pembangunan pariwisata yang kerap mengabaikan karakter dasar kawasan karst. Diskusi bertajuk “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa” ini membuka ruang refleksi penting tentang relasi antara pembangunan, lingkungan, dan masyarakat.

“Karst Gunung Sewu adalah ruang hidup yang terbentuk dari relasi panjang antara manusia dan alam, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara hati-hati,” kata Sosiolog UGM, A. B. Widyanta.

Ruang hidup yang terabaikan

Widyanta memaparkan, ​​karst Gunung Sewu bukan sekadar objek wisata atau sumber pendapatan. Kawasan ini merupakan ruang hidup yang kerap terabaikan. Setiap gua, celah, dan aliran air bawah tanah adalah bagian dari cara masyarakat lokal memaknai dan memanfaatkan lingkungan mereka. 

Sementara pembangunan pariwisata sering hadir sebagai kekuatan dominan yang menggeser makna tersebut menjadi nilai ekonomi semata. Struktur sosial dan relasi masyarakat terhadap alam yang telah berakar lama kini berubah karena tekanan pembangunan.

“Bangunan pariwisata mungkin tampak megah, tetapi ia menghancurkan nilai luhur Gunungkidul yang selama ini dijaga masyarakat,” papar Widyanta.

Pergeseran fungsi ruang yang sistematis ini bukan sekadar soal estetika atau perubahan lanskap visual. Dampaknya jauh lebih dalam karena menimbulkan ketidakseimbangan ekologis yang memengaruhi ketersediaan air, stabilitas tanah, dan habitat lokal. Kerusakan karst tidak hanya berdampak pada gua dan relief permukaan, tetapi juga sistem air bawah tanah yang menjadi sumber kehidupan bagi komunitas yang bergantung pada sumur, mata air, dan pertanian tadah hujan setempat.

Kepentingan investor vs keberlanjutan ruang hidup

Lebih jauh, Widyanta mengatakan, pengambilan keputusan yang memprioritaskan investasi wisata sering kali terjadi tanpa keterlibatan publik yang memadai. Ketika suara masyarakat lokal tidak ditempatkan sejajar dengan kepentingan ekonomi investor, potensi konflik agraria muncul. Minimnya partisipasi publik dalam perencanaan pariwisata memperbesar risiko keputusan yang merugikan masyarakat sekaligus menekan daya dukung alam.

“Ketika pembangunan pariwisata ditempatkan di atas kepentingan ekologis, maka yang dikorbankan adalah keberlanjutan ruang hidup,” katanya.

Senada dengannya, Pitra Hutomo dari NGO Ruang yang turut hadir dalam diskusi tersebut menuturkan, kawasan karst sering disalahpahami sebagai objek ekonomi, bukan sebagai ekosistem hidup yang harus dijaga secara menyeluruh. Menurutnya, pengabaian terhadap fungsi ekologis kawasan ini memiliki implikasi langsung terhadap kerentanan lingkungan dan sosial masyarakat.

“Kawasan karst Gunung Sewu menyimpan nilai ekologis dan kultural yang saling terkait. Wilayah ini seharusnya dirawat sebagai ruang hidup, bukan diperlakukan sebagai wilayah eksploitasi,” tutur Pitra.

Proyek-proyek pembangunan yang membelah bentang karst Gunung Sewu secara fisik, seperti proyek On The Rock, sangat mengundang kekhawatiran karena tidak ramah lingkungan dan menyimpan risiko bencana. Proyek ini membawa ancaman serius terhadap stabilitas ekologis serta keselamatan masyarakat di sekitar lokasi. Dampak risiko seperti ini sering kali tidak diperhitungkan secara memadai.

Gunung Sewu memang memiliki potensi luar biasa sebagai kawasan geopark dan telah diakui dunia. Bentang karst yang membentang luas dan memiliki nilai ilmiah, ekologis, dan budaya yang tinggi memiliki daya tarik tersendiri. Namun, jika dieksploitasi tanpa strategi pengelolaan yang berkelanjutan, potensinya justru dapat menjadi ancaman bagi keberlanjutan hidup masyarakat.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses