Hutan Gunung Slamet sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan menahan tangan-tangan manusia yang merusak lingkungan. Di banyak titik lereng, tegakan pohon yang dulu rapat kini mulai menyisakan banyak ruang. Jejak perubahan lahan terlihat jelas, areal yang dulu tertutup hijau kini berubah menjadi lahan pertanian intensif sayuran dan tanaman non kehutanan lainnya. Kondisi ini semakin melemahkan fungsi hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga banjir di kawasan sekitarnya.
Betapa lelahnya hutan Gunung Slamet semakin terlihat setelah hujan deras melanda kawasan puncak Gunung Slamet pada akhir Januari 2026. Curah hujan ekstrem belum lama ini menyebabkan sejumlah sungai di hulu meluap dan membawa material kayu, batu, dan lumpur ke hilir. Luapan itu kemudian berubah menjadi banjir bandang yang menghantam permukiman dan infrastruktur di lima kabupaten di kaki gunung, yakni Tegal, Brebes, Pemalang, Banyumas, dan Purbalingga.
Di kawasan wisata Pemandian Air Panas Guci di Kabupaten Tegal, banjir bandang membawa material kayu besar yang merusak fasilitas wisata dan membuat jembatan serta jaringan pipa air bersih warga hanyut. Kuatnya arus air juga mampu membawa ekskavator, lapak pedagang, dan pagar pembatas sungai. Kerusakan itu terjadi karena aliran sungai dialiri dengan debit air yang sangat tinggi, membawa material dari hulu yang sudah rusak.
Karena kejadian ini, Ahmad Kholid, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Tegal, memutuskan untuk menutup sementara kawasan wisata Pancuran 13 dan Pancuran 5, serta menggratiskan tiket masuk kawasan wisata Guci selama masa pemulihan.
“Keselamatan menjadi prioritas utama. Untuk sementara kawasan ini kami tutup sampai benar-benar aman,” kata Kholid dalam keterangan resminya.
Air juga menghantam pemukiman
Di wilayah Jawa Tengah lainnya, dampak banjir bandang juga terjadi cukup parah di Purbalingga. Misalnya di Kecamatan Mrebet, aliran batu, kayu, dan lumpur menghantam pemukiman warga di Desa Sangkanayu. Air menghancurkan puluhan rumah, tujuh di antaranya hanyut, dan tiga lainnya rusak berat. Puluhan ternak mati serta sejumlah kendaraan hanyut terbawa arus. Sekitar 500 warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman.
Tidak jauh berbeda, banjir bandang juga melanda Kabupaten Brebes dan Pemalang. Banjir di Brebes menyebabkan 11 rumah warga hanyut, puluhan bangunan rusak, dan sejumlah fasilitas umum terdampak. Pemerintah daerah mengerahkan tim gabungan untuk evakuasi dan pendataan kerusakan sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Sementara itu di Pemalang, banjir bandang menerjang Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga, hingga menyebabkan seorang warga tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Puluhan rumah rusak, jembatan penghubung desa putus, serta ratusan warga terpaksa mengungsi.
Sedangkan di Kabupaten Banyumas, tepian sungai yang berhulu di Gunung Slamet seperti Kali Mengaji, Kali Logawa, dan Kali Pelus, tampak keruh karena sedimen dan pasir yang terbawa arus. Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Dwi Irawan Sukma mengimbau mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di sungai, demi mengantisipasi kemungkinan kenaikan debit air secara tiba-tiba.
“Perubahan kondisi sungai bisa terjadi sangat cepat ketika hujan deras turun di wilayah hulu. Oleh karena itu, masyarakat kami minta tidak memaksakan diri beraktivitas di sungai,” ujarnya.
Kerusakan hutan memperparah bencana
Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu langsung banjir bandang di kaki Gunung Slamet. Tetapi harus disadari, kerusakan ekosistem hutan di hulu Gunung Slamet menjadi faktor yang memperburuk dampak kejadian tersebut. Menurut Sungging Septiwiantio, pendamping perhutanan sosial sekaligus pegiat lingkungan, mengakui bahwa cuaca ekstrem di daerah puncak bukan satu-satunya penyebab utama banjir. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah adanya alih fungsi lahan hutan yang berubah menjadi tanaman non kehutanan seperti sayuran dan sejenisnya.
“Hutan rusak, sementara sungai tidak lagi mampu menampung, sehingga meluap dan berdampak pada pemukiman warga. Kalau di Banyumas, banjir bandang terjadi di sungai-sungai yang memiliki hulu di Gunung Slamet,” kata Sungging.
Data yang dihimpun oleh Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional menunjukkan, kerusakan hutan lindung sudah sangat mengkhawatirkan dengan catatan daerah rusak mencapai puluhan hektar di beberapa kabupaten, seperti Tegal dan Brebes. Di wilayah tertentu, kerusakan hutan tercatat puluhan hektar, menunjukkan bahwa resapan air yang dulu efektif kini makin berkurang.
Kerusakan ekologis demi ekonomi
Lebih jauh, kerusakan yang terjadi di lereng selatan Gunung Slamet juga terkait dengan kegiatan eksplorasi energi yang tidak pulih secara ekologis. Tri Agus Triono, pegiat lingkungan dari Banyumas Outdoor Center, mencatat adanya dampak dari pengeboran panas bumi di lereng Gunung Slamet telah meninggalkan lahan terbuka tanpa reklamasi dan reboisasi yang memadai. Menurutnya, hal ini membuat tanah tak mampu menahan debit air saat hujan berkepanjangan turun.
Tak hanya itu, aktivitas pertambangan batu dan pasir yang masih berizin pemerintah juga disebut turut memperparah kerusakan ekologis di kawasan. Ketika vegetasi hilang dan tanah menjadi telanjang, fungsi alami hutan sebagai penyerap air semakin terkikis, memperbesar risiko banjir bandang dan longsor.
“Deforestasi akibat pembukaan akses dan aktivitas tambang panas bumi belum dipulihkan. Lereng menjadi gundul, tanah telanjang tanpa pengikat akar pohon besar. Aktivitas tambang batu dan pasir yang masih diberi izin oleh pemerintah turut memperparah kerusakan ekologi di kawasan Gunung Slamet,” papar Tri.
Banjir bandang yang melanda lima kabupaten di kaki Gunung Slamet menjadi bukti nyata bencana hidrometeorologi bukan semata akibat hujan deras. Kejadian ini merupakan cerminan dari kondisi ekologis hulu yang terkikis, fungsi hutan yang menurun, serta penggunaan lahan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Jika perubahan penggunaan lahan terus berlangsung tanpa strategi rehabilitasi, peluang terjadinya bencana yang lebih besar di masa depan akan tetap mengintai.