
Universitas Padjadjaran (Unpad) meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) dan Mesin Daur Ulang Bakti BCA dengan PT Bank Central Asia Tbk di Unpad Kampus Jatinangor, 4 Oktober 2024.
Kegiatan tersebut bagian dari program berkelanjutan Unpad yang selaras dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unpad yaitu “Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dalam Pembangunan Nasional.”
“Ini adalah bentuk inovasi di mana kita konsisten mengimplementasikan Pola Ilmiah Pokok kita. Unpad senantiasa konsisten untuk menjadi yang terdepan dalam menjaga lingkungan, antara lain dengan menggunakan energi bersih (PLTS) dan mesin pemilah botol plastik,” ujar Rektor Unpad Rina Indiastuti, diakses dari laman resmi, Selasa, 8 Oktober 2024.
Unpad bertekad untuk terus menjadi pelopor dalam pelestarian lingkungan di Indonesia. Maka dari itu, Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Mesin Daur Ulang merupakan langkah konkret Unpad dalam mencerminkan komitmen kampus untuk mendukung keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem.
“Keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama yang kita usahakan bersama. Kita berkomitmen untuk menjaga lingkungan hidup dengan cara yang proaktif, efeknya jelas, yaitu kelestarian lingkungan, perlindungan satwa-satwa langka, serta pengelolaan sumber daya air yang baik, dan banyak aspek lainnya,” ujar Rektor.
Sementara Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Unpad Hendarmawan mengatakan, bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya merupakan salah satu bentuk implementasi energi hijau, dan juga sebagai upaya nyata dalam mengurangi emisi karbon.
“Kami ingin menunjukkan perhatian yang serius terhadap lingkungan. Dengan terpasangnya fasilitas ini, Unpad dapat menjadi ikon bagi masyarakat, terutama bagi lembaga-lembaga yang masih bergantung pada sumber energi yang tidak terbarukan,” ujar Prof. Hendarmawan.
Direktur Utama PT EMITS, Yovie Priadi, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam mendukung program Eco Campus di lingkungan Unpad. “Ini adalah program yang memang sudah menjadi keharusan. Kami melihat potensi besar untuk penambahan kapasitas di wilayah kampus Unpad,” ujar Yovie.
Mesin Daur Ulang Sementara itu saat menerima Mesin Daur Ulang Bakti BCA, Kepala Pusat Keselamatan, Keamanan, dan Ketertiban Lingkungan Unpad, Teguh Husodo, menjelaskan, kerja sama pemilahan botol sampah ini merupakan kelanjutan dari program Unpad yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun, meskipun sebelumnya menggunakan mekanisme yang masih konvensional.
Dengan adanya Mesin Daur Ulang Bakti BCA, akan sangat membantu dalam pemilahan botol plastik menggunakan teknologi modern.
“Dengan model modern seperti ini, maka diharapkan mampu menekan pemilahan sampah dari sumber tidak lagi kami tempatkan di tempat akhir, tapi dari sumber sudah bisa diselesaikan. Sehingga pada masa mendatang, limbah yang masuk ke TPS Unpad, sudah tidak ada lagi limbah-limbah plastik,” papar Teguh.
Vice President Institutional Relations BCA, Endang Sri Kuncorowati, mengatakan bahwa sampah plastik yang tidak dikelola dapat menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, kesadaran tentang pentingnya memilah sampah sangat krusial, terutama bagi generasi muda.
“Universitas Padjadjaran berperan sebagai motor penggerak perubahan sosial menuju terciptanya kebiasaan dan perilaku generasi muda yang lebih ramah lingkungan,” ujarEndang.
Kolaborasi antara Unpad, PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya, dan PT Bank Central Asia Tbk merupakan bentuk komitmen Unpad dalam mengimplementasikan solusi energi bersih dan pengelolaan limbah yang lebih efektif.
Melalui inisiatif ini, Unpad bertekad untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.
- Menembus Lingkaran Setan Tata Kelola Alam yang Gagap di Indonesia
Pemerintah daerah seringkali kekurangan otoritas dan kapasitas teknis untuk mendanai inisiatif rendah karbon secara mandiri. Hal ini menciptakan disinsentif karena daerah lebih memilih sektor ekstraktif untuk mengejar target pendapatan daerah. - Kemarau 2026 Ajak Nelayan Menjemput Panen Raya Ikan di Laut Indonesia
BMKG mengungkapkan kedatangan kemarau 2026 yang lebih awal memicu pergerakan Angin Timuran yang kuat. - Kopi Berkelanjutan Absolute Coffee, Merawat Hutan Menyeduh Masa Depan
Visi Absolute Coffee melampaui lembaran rupiah. Kopi berkelanjutan adalah ekosistem yang menuntut adanya regenerasi dan edukasi. - Merdeka Tanpa Geothermal, Masyarakat Poco Leok Menang di PTUN Kupang
Penolakan warga Poco Leok pada pembangunan geothermal dipicu oleh kekhawatiran ekologis, wilayah itu rawan longsor. - Lebaran di Bawah Terpal Menjelang Empat Bulan Bencana Sumatera
Krisis di Aceh saat ini bukan sekadar masalah teknis pembangunan rumah, melainkan persoalan ekologi politik. - Ketika Gunungan Sampah Menjadi Bom Waktu
Longsor gunung sampah bukan hanya persoalan satu kota tapi merupakan bagian dari krisis pengelolaan sampah di Indonesia.