Bekas tambang minyak ilegal di areal Hutan Harapan, hingga kini jejaknya masih terlihat jelas. Ada sumur yang terus menyemburkan gas
Aktivitas penambangan minyak ilegal di Hutan Harapan yang sempat marak akhir 2024 hingga awal 2025, sudah berhenti total. Akses utama masuk ke lokasi tersebut juga telah diputus. Pengamanan ditingkatkan PT REKI, perusahaan pengelola kawasan hutan restorasi pertama di Indonesia itu.
Cuaca cukup terik kala mengitari wilayah yang secara administratif berada di Provinsi Sumatera Selatan itu, Kamis (27/11/2025). Kondisi demikian tidak menyurutkan langkah Dicky Kurniawan jalan kaki ratusan meter dari titik mobil parkir ke areal bekas tambang ilegal minyak dan pondok penambang itu. Dicky dari tim independen dan rekannya, bersama beberapa jurnalis, yang didampingi petugas dari PT REKI memantau hasil penyelesaian konflik tersebut.
Ia mengamati sejumlah bekas sumur minyak yang sudah ditutup. Sesekali melempar pertanyaan kepada staf REKI yang mendampingi. Bibit pohon yang ditanam di bekas sumur tersebut juga diamati proses tumbuhnya. Ia minta proses pemeliharan bibit pohon yang terlihat mulai beradaptasi tersebut terus diperhatikan.
Dikatara, staf REKI di Departemen Restorasi dan Monitoring, yang ikut dalam pemantauan ini menjelaskkan, di kawasan bekas illegal drilling ini sekitar 3.000 bibit pohon yang mereka tanam. Tidak semuanya mampu tumbuh dengan baik. Mereka harus melakukan penyisipan bibit.
Pada proses penananam bibit, mereka menggunakan aquasief berbentuk gel atau hidrogel. Bahan ini berfungsi menyerap dan menyimpan air, sehingga kebutuhan air pada bibit yang sudah ditanam tetap bisa tercukupi pada kondisi musim kemarau untuk durasi waktu tertentu.
“Di wilayah ini kami menanam bibit pohon yang memang relatif mudah tumbuh dan beradaptasi. Kami cukup senang melihat pertumbuhannya, dan hampir semuanya terlihat bagus,” kata Dikatara. Di antara jenis bibit yang di tanam adalah birisil, balam putih, merawan, merasawa, kenari, dan yang lainnya.
Lokasi ini dulu sudah sempat terbuka akibat aktivitas di sana yang mirip perkampungan. Ada 113 sumur minyak ilegal yang beroperasi, dan puluhan pondok pekerja tambang. Sudah ada juga warung yang menjual kebutuhan warga yang bekerja di tambang minyak ini maupun mitra mereka yakni para pelansir minyak.
“Tiap hari dulu di sini sudah kayak pasar, apalagi mereka beroperasi 24 jam sehari. Ratusan sepeda motor hilir mudik tiap hari melansir minyak dari sini ke Jambi,” ungkap Adrian, dari Departemen Perlindungan Hutan PT REKI. Penertiban secara keseluruhan dilakukan pada medio Februari lalu.
Kondisinya kini telah terbalik 180 derajat. Tidak ada lagi sepeda motor yang lewat kecuali petugas kawasan restorasi yang rutin patroli di sana. Wilayah yang dulu terbuka itu kini mulai tertutup dengan belukar dan bibit yang ditanami. Akses jalan sepeda motor para pelansir minyak mulai tertutup tanaman.
Upaya menghindari kembali datangnya para penambang masuk melalui wilayah Jambi, REKI menggali jalan menuju kawasan restorasi yang berbatasan dengan perusahaan HTI PT AAS. Parit yang dibuat kedalamannya lebih dari tiga meter dengan lebar hampir 5 meter.
“Pembuatan parit gajah ini memang salah satu rekomendasi dari kami tim independen. Akses ke sini harus benar-benar diputus supaya tidak bisa lagi penambang masuk,” ungkap Dicky Kurniawan. Bila hanya melakukan penutupan sumur minyak tanpa ada penutupan akses masuk, menurutnya akan membuat penambang kembali masuk di kemudian hari.

Semburan gas tak henti
Bekas tambang minyak ilegal di areal Hutan Harapan, hingga kini jejaknya masih terlihat jelas. Ada satu sumur yang hingga kini belum bisa benar-benar ditutup akibat adanya semburan gas yang terus muncul dari dalam tanah.
Pada sebidang galian berbentuk kolam kecil yang berisi air, selalu muncul gelembung yang tidak berhenti. Bau yang dikeluarkan menyengat seperti gas. “Semburan gas di sumur ini tak pernah berhenti,” ungkap Adrian. Dia menambahkan, lokasi semburan gas ini merupakan satu di antara tiga sumur yang hasilkan minyak cukup besar.
“Istilah penambang di sini minyaknya meluwing,” jelasnya. Makna meluwing bagi penambang adalah volume minyak yang didapat setiap kali penyedotan jauh lebih besar dibanding rig pada umumnya. Hasil tiap sumur minyak ini berbeda-beda. Ada yang hanya sampai 1 drup per hari, namun ada juga yang lebih dari 2 drum per hari.
“Pelaku illegal drilling ini dulu menolak saat kita minta angkat kaki dari sini. Apalagi yang punya sumur meluwing. Tapi pada akhirnya semua mau angkat kaki, sehingga penertiban relatif berjalan lancar,” terangnya.
Informasi yang diperoleh, di Jambi pada November 2025 ini, harga rata-rata minyak mentah hasil tambang ilegal di lokasi tambang sekitar Rp 1 juta-Rp 1,1 juta per drum. Minyak itu akan dibawa oleh pelansir pakai sepeda motor.
Minyak dimasukkan ke dalam jeriken. Satu sepeda motor bisa mengangkut antara 8-10 jeriken sekali jalan, untuk membawa dari tambang ke penampungan. Pelansir akan mendapat upah sekitar Rp 10 ribu per jeriken. Ada yang bisa melansir minyak hingga lebih dari 5 kali sehari.
Areal penambangan minyak ini berada di Sumatera Selatan. Penambang masuk melalui Jambi, dan dilansir hasilnya juga ke Jambi. Pemutusan akses telah menyulitkan penambang masuk lagi. Tapi hanya berjarak kurang dari 2 kilometer dari bekas penambangan di Hutan Harapan, terpantau ada ratusan sumur minyak ilegal yang beroperasi secara aktif, berada di konsesi sebuah perusahaan kehutanan.
Manajemen PT REKI menambah pos untuk memantau dan menjaga kawasan restorasi hutan harapan. Pos baru yang kini sedang tahap pembangunan berada di kawasan Sungai Makela, di sekitar perbatasan Jambi dan Sumsel.
Rencananya, akhir tahun ini, pos itu sudah bisa digunakan. Pos akan diisi personel yang bertugas menjaga hutan restorasi. “Wilayah perbatasan ini salah satu titik penting pengawasan dan pengamanan kawasan,” jelas Adrian. [Suang Sitanggang]
- Bekas tambang minyak di Hutan Harapan mulai menghijau
- Kolaborasi menguak jejak uang di balik transisi energi
- Pencemaran mikroplastik semakin luas mengancam kesehatan masyarakat
- Belém Mutirão dan paradoks diplomasi Indonesia di Amazon
- Aksi hijau pelajar Sukabumi di Hari Guru Nasional 2025
- Ketika iman menggugat keadilan iklim di tengah kepungan lobi fosil
