Siswoyo, seorang nelayan yang sudah sedari pagi menunggu pasangnya air di Sungai Siak, Tebing Tinggi Okura, Pekanbaru. Di atas sampan kecilnya yang kian lapuk, tangan Siswoyo menggenggam lukah, alat tangkap yang dipakainya sejak dua dekade lalu. Seperti yang dilaporkan oleh Mongabay, Siswoyo mengarungi sungai yang dulu dipenuhi kehidupan, tapi kini telah berubah muram.
Lukah yang diturunkan beberapa jam sebelumnya hanya menyisakan sedikit tangkapan udang dan ikan kecil. Siswoyo bersyukur, tetapi pendapatannya jauh merosot dibanding masa lalu. Nelayan lain di kawasan itu merasakan hal sama, ikan yang dulu melimpah kini jauh berkurang, dan nasib nelayan Sungai Siak semakin hari semakin tidak menentu.
Air yang menghitam
Masalah yang dialami nelayan Sungai Siak bukan sebatas berapa banyak ikan yang bisa mereka bawa pulang. Lebih dari itu, kualitas air Sungai Siak terus menurun dan kian menghitam. Sungai yang dahulu menjadi tumpuan hidup masyarakat Okura kini berubah menjadi saluran pembuangan.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Air (IKA) dari Dinas Lingkungan Hidup, Sungai Siak telah masuk dalam kategori tercemar sedang hingga berat. Penelitian dari Universitas Riau juga menunjukkan, parameter Timbal (Pb) di beberapa titik mencapai 0,052 mg/L, melampaui baku mutu air yang ditetapkan pemerintah. Parahnya, logam berat ini terakumulasi dalam ikan yang terjaring kemudian dikonsumsi langsung oleh masyarakat atau dijual ke pasar.
Beberapa penelitian lain menunjukkan pencemaran itu bersumber dari beragam aktivitas manusia serakah yang mementingkan dirinya sendiri di sepanjang daerah aliran sungai. Antara lain limbah industri pabrik kelapa sawit, pulp dan kayu lapis, hingga limbah domestik yang masuk ke sungai tanpa pengolahan yang memadai. Pencemaran itu memengaruhi komposisi air, sekaligus menurunkan kualitas fisik dan kimia air secara signifikan.
Ikan juga menjadi korban
Bukan hanya nelayan yang merasakan imbas dari keserakahan tersebut. Struktur komunitas ikan di Sungai Siak berubah tajam. Kajian ekologi yang pernah dilakukan menyebutkan banyaknya spesies ikan khas sungai yang usianya semakin langka atau tidak lagi ditemukan di lokasi tertentu. Pencemaran dan penurunan mutu air menyebabkan kondisi habitat menjadi kurang mendukung bagi spesies yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Kasus serupa juga pernah terjadi puluhan tahun silam, ketika ribuan ikan dilaporkan mati mendadak di Sungai Siak akibat pencemaran limbah yang menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan. Data lama ini juga menunjukkan fenomena tersebut berdampak pada ikan di permukaan hingga spesies yang hidup di dasar sungai.
Ketika logam berat seperti residu pestisida atau bahan organik berbahaya masuk ke dalam air, mereka tidak hanya mengancam ikan. Senyawa ini dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke rantai makanan yang digunakan manusia sebagai sumber protein. Dalam jangka panjang, hal ini memunculkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsi hasil tangkapan sungai. Parameter seperti Pb dan Cd yang melampaui batas aman menunjukkan ancaman serius terhadap ekosistem perairan dan kesehatan masyarakat.
Kondisi itu diperparah oleh fakta bahwa sebagian nelayan merasa suara mereka belum sungguh-sungguh didengar oleh pengurus negara terkait. Keluhan tentang bau busuk, air yang berubah warna, serta kematian ikan yang kerap terjadi, hanya didengar sebagai formalitas belaka, tanpa adanya langkah nyata untuk mengatasi pencemaran secara komprehensif dan menjangkau akar persoalan secara efektif.
Masalah kian kompleks dengan adanya tumpukan sampah plastik yang menutupi dasar sungai. Pada pemantauan Hari Lingkungan Hidup 2025, ditemukan bahwa sedimentasi plastik mengganggu area pemijahan ikan.
Pendangkalan ini juga berkontribusi pada bencana hidrometeorologi. Pada Maret 2025, luapan Sungai Siak merendam pemukiman dan berdampak pada 14.200 jiwa di Pekanbaru, membuktikan bahwa kerusakan sungai tidak hanya membunuh mata pencaharian nelayan, tetapi juga mengancam keselamatan warga kota.
Bagi Siswoyo dan para nelayan di Okura, sungai yang menghitam bukan sekadar angka dalam laporan dinas. Itu adalah hilangnya harapan. Tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap sumber pencemaran industri dan perkebunan sawit di sepanjang daerah aliran sungai, identitas Riau yang melekat pada Sungai Siak dan ikan Selais-nya akan benar-benar tinggal sejarah.