Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Angka Deforestasi di Indonesia Naik, Tata Kelola Hutan Kembali Dipertanyakan

Setelah beberapa tahun menunjukkan penurunan, laju deforestasi Indonesia kembali meningkat pada 2025. Kenaikan ini cukup tajam dan menandai perubahan tren yang sebelumnya dianggap membaik.

Data dari Auriga Nusantara mencatat luas kehilangan hutan mencapai sekitar 433.751 hektare sepanjang 2025. Angka ini meningkat sekitar 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Yayasan Auriga Nusantara, Timer Manurung, menyebut lonjakan ini sebagai perkembangan yang perlu menjadi perhatian serius. “Peningkatannya dua kali lipat,” ujarnya, menggambarkan perubahan signifikan dalam satu tahun terakhir.

Kenaikan ini menempatkan Indonesia kembali pada situasi deforestasi yang lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, setelah sempat ditekan melalui berbagai kebijakan, termasuk moratorium izin baru di hutan primer dan lahan gambut.

Deforestasi Terjadi di Hutan Negara

Salah satu temuan penting adalah lokasi deforestasi yang masih didominasi kawasan hutan. Sekitar 71 persen kehilangan hutan terjadi di dalam kawasan hutan negara, baik hutan produksi maupun hutan lindung.

Temuan ini menunjukkan bahwa status kawasan belum sepenuhnya mampu mencegah pembukaan lahan. Kawasan yang secara hukum dilindungi atau diatur negara tetap menjadi lokasi utama deforestasi.

Kondisi ini juga mencerminkan tantangan dalam pengawasan dan pengendalian aktivitas di dalam kawasan hutan, termasuk terkait izin konsesi dan praktik pembukaan lahan di lapangan.

Kalimantan dan Papua Jadi Episentrum

Secara spasial, Kalimantan menjadi wilayah dengan kehilangan hutan terbesar. Berdasarkan total luasan deforestasi pada 2025, Kalimantan masih menempati posisi teratas dengan 158.283 hektare.

Perubahan lanskap di pulau ini sudah berlangsung dalam beberapa dekade terakhir dan masih berlanjut hingga kini. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, serta kehutanan tanaman industri menjadi faktor dominan yang mendorong deforestasi di wilayah ini. Hutan alam yang tersisa semakin terfragmentasi dan beralih fungsi.

Papua, yang selama ini dikenal memiliki tutupan hutan luas dan relatif utuh, juga menunjukkan peningkatan tekanan. Proyek-proyek skala besar, terutama yang berkaitan dengan pangan dan energi, mulai memperluas pembukaan lahan di wilayah ini.

Papua mengalami deforestasi paling signifikan selama satu tahun ke belakang. Angka deforestasi di Papua meningkat 60.337 hektare atau sekitar 348% dari angka deforestasi pada 2024. 

Selain dua wilayah tersebut, Sumatra tetap menjadi kontributor deforestasi, meskipun dengan karakter tekanan yang sudah berlangsung lebih lama, terutama dari sektor perkebunan dan infrastruktur.

Dorongan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan

Kenaikan deforestasi tidak terlepas dari dorongan terhadap sektor berbasis lahan. Kebutuhan akan pangan, energi, dan bahan baku industri mendorong ekspansi ke wilayah-wilayah berhutan.

Timer Manurung menilai bahwa program ketahanan pangan dan energi turut berkontribusi terhadap pembukaan hutan. Menurutnya, beberapa proyek bahkan dilakukan di lahan dengan fungsi ekologis penting, termasuk gambut.

Program ketahanan pangan yang mengalokasikan 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk pangan, energi, dan cadangan air disebut menyumbang 18 persen deforestasi nasional. Artinya 78.123 hektar terjadi dalam area yang ditetapkan tersebut.

Di sisi lain, faktor struktural seperti ekspansi sawit, pertambangan, dan hutan tanaman industri masih terus berlangsung. Aktivitas ini telah menjadi pendorong utama deforestasi dalam jangka panjang.

Kombinasi antara kebijakan pembangunan baru dan tekanan industri yang sudah ada membuat laju kehilangan hutan sulit ditekan secara konsisten.

Tantangan Tata Kelola dan Pengawasan

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan akan terus memperkuat pengawasan serta mengevaluasi kebijakan pembangunan agar tetap memperhatikan perlindungan hutan.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa tantangan implementasi masih besar. Pengawasan di lapangan, koordinasi antar lembaga, serta transparansi data menjadi faktor yang sering disorot.

Selain itu, keberadaan izin di dalam kawasan hutan juga menjadi isu penting. Banyak kawasan yang secara legal masih berstatus hutan, tetapi telah dibebani berbagai izin pemanfaatan yang membuka peluang terjadinya deforestasi.

Implikasi terhadap Iklim dan Lingkungan

Kenaikan deforestasi berdampak langsung terhadap komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami, sehingga kehilangan tutupan hutan akan meningkatkan emisi.

Selain itu, deforestasi juga berdampak pada keanekaragaman hayati, siklus air, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Dengan tekanan yang terus meningkat, peran hutan sebagai penyangga ekosistem menjadi semakin penting, sekaligus semakin rentan.

Menjaga Hutan di Tengah Tekanan

Data deforestasi 2025 menunjukkan bahwa upaya perlindungan hutan masih menghadapi tantangan yang kompleks. Tidak hanya soal penegakan hukum, tetapi juga arah kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.

Tren yang kembali meningkat ini menjadi pengingat bahwa pengendalian deforestasi memerlukan pendekatan yang konsisten, mulai dari perencanaan, perizinan, hingga pengawasan di lapangan.

Sejauh ini, angka-angka tersebut belum menunjukkan bahwa tekanan terhadap hutan benar-benar mereda. Yang berubah adalah bentuk dan skalanya. Dan di tengah perubahan itu, keberlanjutan hutan Indonesia tetap bergantung pada bagaimana tata kelola dijalankan ke depan.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses