Banjir bandang merusak kebun kopi di delapan kecamatan di Bener Meriah. Dampak bencana meluas ke sektor pertanian lainnya.
Banjir bandang menghantam Kabupaten Bener Meriah, Aceh dan merusak tidak hanya permukiman serta infrastruktur, tetapi juga menyerang langsung jantung ekonomi masyarakat, yakni kebun kopi di dataran tinggi Gayo. Pos Komando Penanganan Bencana Aceh mencatat luas kebun kopi yang rusak mencapai lebih dari 445 hektare akibat bencana hidrometeorologi tersebut.
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, menyebut kerusakan terbesar muncul karena sebagian besar wilayah yang terkena banjir bandang merupakan sentra produksi kopi Gayo, sumber utama penghidupan warga.
“Kerusakan kebun kopi mendominasi dampak bencana di Bener Meriah dan sangat memengaruhi mata pencaharian masyarakat,” kata Murthalamuddin, Jumat (9/1/2026).
Banjir bandang merusak kebun kopi di delapan kecamatan di Bener Meriah. Kecamatan Bukit mencatat kerusakan terluas dengan 198,179 hektare kebun terdampak, di ikuti Kecamatan Mesidah seluas 122,147 hektare dan Kecamatan Wih Pesam 76,700 hektare.
Banjir bandang juga merusak kebun kopi di Kecamatan Permata seluas 36,650 hektare, Gajah Putih 8,469 hektare, Bener Kelipah 1,750 hektare, Bandar 1,563 hektare, serta Timang Gajah 0,125 hektare. Sementara itu, Kecamatan Pintu Rime Gayo dan Syiah Utama tidak mengalami kerusakan pada sektor kopi.
Dampak bencana meluas ke sektor pertanian lainnya. Banjir dan longsor merusak sawah seluas 68,732 hektare, menghantam perkebunan lain seluas 214,270 hektare di Kecamatan Syiah Utama, serta merusak kolam masyarakat seluas 2,505 hektare. Secara keseluruhan, bencana merusak 731,089 hektare lahan pertanian dan perkebunan di Bener Meriah.
Banjir bandang dan longsor juga merusak infrastruktur serta fasilitas publik. Bencana ini merusak 166 jembatan dan 81 ruas jalan, serta menyebabkan 61 titik longsor dan 27 lokasi banjir di berbagai kecamatan. Selain itu, bencana merusak 1.797 rumah warga dengan tingkat kerusakan yang beragam.
Bencana yang terjadi pada Rabu, 26 November 2025 itu juga menelan korban jiwa. Peristiwa tersebut merenggut nyawa 31 orang, menghilangkan 14 orang, dan melukai lima orang.
Secara keseluruhan, bencana mempengaruhi kehidupan 183.043 warga yang tersebar di 10 kecamatan dan 232 desa. Sebagian warga mengungsi ke lokasi pengungsian terpusat sebanyak 2.116 orang, sementara 2.452 orang lainnya mengungsi secara mandiri.
Murthalamuddin menyatakan pemerintah daerah bersama unsur terkait terus menjalankan upaya pemulihan meski masa tanggap darurat telah berakhir. Saat ini, Kabupaten Bener Meriah memasuki masa transisi hingga 6 April 2026.
“Fokus kami mencakup pemulihan akses, penanganan korban, serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama sektor pertanian dan kebun kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Banjir bandang ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi kopi Gayo yang selama ini menopang ekonomi lokal dan menembus pasar global.
- Banjir bandang hantam jantung kebun kopi Gayo di Bener Meriah
- Banjir dan longsor belum usai, Aceh perpanjang status darurat
- Percepatan proyek PSEL bukan solusi tepat tapi masalah yang dibungkus kilat
- Mahasiswa IPB ciptakan alat pembakaran sampah tanpa asap pekat
- Langkah pulang seorang ranger Leuser
- Kilau tambang emas ilegal menganiaya Nenek Saudah hingga lebam
