Mikroplastik adalah ancaman tersembunyi bagi perairan. Temukan dampaknya pada organisme laut dan kemampuan penyimpanan karbon.
Air laut yang tampak tenang terkadang menyimpan dinamika yang tak terlihat. Di balik kejernihannya, laut memberikan kontribusi besar dalam mengatur iklim Bumi. Laut mampu menyerap karbon dari atmosfer dan memperlambat terjadinya pemanasan global yang kian melaju cepat. Tetapi perannya kini semakin terganggu oleh mikroplastik, sebuah partikel plastik berukuran sangat kecil yang telah tersebar luas di perairan. Partikel tersebut telah mengurangi efektivitas laut dalam menyerap dan menyimpan karbon.
Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari IPB University, Etty Riani, menjelaskan mikroplastik memang bukanlah penyebab utama penurunan kemampuan laut menyerap karbon. Namun, sejumlah hasil riset menunjukkan keberadaan mikroplastik kontribusi mengurangi efektivitas laut dalam menyerap dan menyimpan karbon dengan cara mengganggu organisme kunci dan proses biogeokimia di laut.
Laut menyerap karbon melalui rantai proses biologis yang kompleks. Penyerapan dimulai dari organisme mikro seperti fitoplankton, mirip dengan tanaman kecil di permukaan laut. Melalui proses bernama fotosintesis, fitoplankton menyerap karbon dioksida lalu dipindahkan ke organisme yang lebih besar dan akhirnya ke dasar laut.
“Mikroplastik dapat mengganggu fitoplankton, organisme laut yang berperan penting menyerap karbon melalui fotosintesis. Mikroplastik seperti nanoplastik yang menempel di permukaan fitoplankton, dapat menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton menyerap karbon,” jelas Etty, dalam keterangannya di laman IPB University.
Ketika fitoplankton tidak dapat menjalankan fungsi fotosintesisnya secara optimal, penyerapan karbon juga akan terganggu. Jika dibiarkan semakin parah, masalah ini menjadi ancaman serius karena laut selama ini menjadi carbon sink besar yang membantu menyeimbangkan emisi karbon manusia dan iklim.
Selain itu, lanjut Etty, mikroplastik juga memengaruhi rantai makanan laut. Zooplankton yang seharusnya memakan fitoplankton malah mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya yang mirip. Kondisi tersebut menyebabkan zooplankton kekurangan nutrisi dan energi sehingga populasinya berpotensi menurun. Padahal, zooplankton berperan penting dalam membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran dan bangkainya yang dikenal sebagai marine snow.
Dampak mikroplastik tidak hanya terbatas pada gangguan mekanisme biologis. Etty juga memaparkan, mikroplastik dapat menjadi inang bagi bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti logam berat. Ketika logam berat menempel pada mikroplastik, senyawa berbahaya ini dapat dibawa ke dalam tubuh organisme laut sekaligus mengganggu proses fisiologis mereka, hingga menurunkan populasi biota laut secara umum.
“Kondisi ini pada akhirnya melemahkan kemampuan ekosistem laut menyimpan karbon dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Solusi dimulai dari perubahan perilaku manusia
Upaya mengatasi akumulasi mikroplastik di laut harus dilakukan secara komprehensif. Etty mengatakan, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan mikroplastik primer seperti microbeads dalam produk kosmetik harus menjadi langkah awal. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat di semua kalangan, dari usia dini hingga perguruan tinggi.
Limbah plastik memang sudah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai “sampah” yang tidak berguna, tetapi sebagai nilai ekonomi potensial jika dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular. Penguatan sistem reduce, reuse, recycle (3R) menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang dapat membantu mengurangi aliran mikroplastik ke laut.
Ancaman mikroplastik di laut bisa berhenti ketika terciptanya sinergi antara kebijakan yang efektif, teknologi inovatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Peningkatan pemantauan mikroplastik di seluruh perairan Indonesia melalui kerja sama lintas instansi, menjadi upaya sangat penting untuk meminimalkan sumber masalah ini.
“Yang terpenting saat ini adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten agar sumbangan mikroplastik ke laut dapat diminimalkan,” tandas Etty.
- Mikroplastik ganggu penyerapan karbon di laut dan keseimbangan iklim
- Hutan Sumatera sudah luka, pemulihan tidak bisa hanya pencabutan izin usaha
- Tekanan pariwisata menghimpit ruang hidup kawasan karst Gunung Sewu
- RUU iklim dinilai belum layak, WALHI berikan tujuh catatan kritis
- Tekanan ekologis di Batam menelan 90% tutupan mangrove dalam 50 tahun
- Beban lingkungan yang berulang di balik wacana pemangkasan batu bara
