Belum usai pemulihan bencana ekologis memilukan di Sumatera yang terjadi di akhir November 2025 lalu, di awal tahun 2026 ini masyarakat Indonesia kembali dihadapi bencana lain. Fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hingga awal pekan ini statusnya masih terus aktif.
Bencana ini memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Minggu (8/2/2026) jumlah pengungsi sudah mencapai 2.453 jiwa akibat pergerakan tanah tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memaparkan data pengungsi terdiri dari berbagai kelompok usia. Jumlah pengungsi itu terdiri atas 945 laki-laki dan 982 perempuan, termasuk kelompok rentan seperti 220 lansia, tiga ibu hamil, tiga ibu menyusui, 179 anak-anak, 40 balita, dan 65 batita.
“Tim BNPB telah bersiaga di lokasi terdampak dan melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat serta menyalurkan dukungan bantuan logistik dan makanan,” kata Muhari, dalam keterangannya.
Hingga saat ini, lanjut Muhari, para pengungsi kini telah menempati delapan titik pengungsian, yaitu Majlis Az Zikir wa Rotibain, Majelis & Dukuh Pengasinan, SDN 2 Padasari, Dukuh Lebak RW 05, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Ponpes Dawuhan Padasari, Dukuh Tengah Desa Tamansari, dan Desa Mokaha Kecamatan Jatinegara.
Kerusakan fisik dan infrastruktur
Dampak pergerakan tanah turut membuat sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan cukup serius. Menurut laporan terbaru, sekitar 464 rumah warga terdampak dengan kerusakan bervariasi mulai rusak ringan hingga berat.
Tak hanya rumah warga, pergerakan tanah juga merusak fasilitas pendidikan, peribadatan, serta jaringan jalan desa dan kabupaten. Besarnya kerusakan menunjukkan betapa luas dan beratnya dampak bencana ini terhadap kehidupan masyarakat sekitar.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, menjelaskan suara retakan pada bangunan menjadi salah satu tanda bahwa tanah di permukiman masih terus bergerak. Kondisi ini membuat warga harus segera mengosongkan rumah mereka demi keselamatan.
“Dengan intensitas hujan dan kondisi labil, pemantauan lapangan serta evakuasi warga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi kejadian susulan,” ujarnya.
Penyebab pergerakan tanah
Sejauh ini belum ada penjelasan lebih rinci mengenai penyebab pergerakan tanah. Tetapi hasil investigasi yang dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, menyebutkan bahwa pergerakan tanah di Tegal masuk dalam kategori creeping atau rayapan tanah.
Kepala ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, memaparkan gerakan tanah terjadi karena karakteristik geologi setempat, di mana lapisan tanahnya didominasi oleh jenis lempung (clay) yang ketika terkena air cenderung merayap secara perlahan. Fenomena creeping berbeda dengan likuifaksi. Creeping memerlukan kemiringan pada lereng tanah, sementara likuifaksi bisa terjadi di dataran datar tanpa perlu kemiringan.
“Jadi dari sisi geologi hasil investigasi dan kajian teman-teman memang creeping. Lapisan tanahnya itu jenisnya clay atau lempung, kemudian kena air sehingga merayap pelan-pelan. Ini salah satu jenis gerakan tanah yang berlangsung lambat namun terus-menerus,” papar Agus.
Penjelasan tersebut mempertegas akar permasalahan bukan sekadar hujan deras belaka, tetapi berkaitan erat dengan struktur tanah dan kondisi geologi lokal. Tingginya curah hujan menjadi pemicu saturasi pada lapisan lempung di dalam tanah.
Penanganan dan relokasi
Menanggapi kondisi darurat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten serta BNPB telah menyiapkan serangkaian langkah penanganan. Fokus utama saat ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pendataan warga terdampak secara detail, serta penyiapan lokasi hunian sementara (huntara) yang kelak dapat bertransformasi menjadi hunian tetap (huntap).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa relokasi warga merupakan solusi yang tidak bisa diabaikan mengingat pergerakan tanah yang masih berlangsung dan bahaya keselamatan yang nyata di lokasi lama.
“Bapak Ibu tidak usah memikirkan rumah yang di sana. Tanahnya masih bergerak dan sangat berbahaya. Barang-barang nanti akan kami amankan dan dipindahkan,” ujar Luthfi saat berdialog dengan warga terdampak.
Tantangan lingkungan di masa depan
Fenomena tanah bergerak di Tegal mencerminkan tantangan lebih luas terkait tekanan lingkungan dan perubahan hidrologi lokal. Dominasi lapisan tanah lempung yang menyerap air dalam jumlah besar tanpa drainase yang efektif, ditambah curah hujan tinggi, menciptakan kondisi yang rentan terhadap pergerakan tanah. Kondisi ini, jika tidak diiringi dengan mitigasi jangka panjang seperti pengelolaan air permukaan dan zonasi risiko, berpotensi berulang di sejumlah wilayah lain.
Sementara langkah darurat dan relokasi yang telah diprioritaskan hanya sebatas respon awal. Tantangan menghadapi realitas lingkungan yang kerap berubah akan menuntut upaya yang lebih sistematis dari perencanaan tata ruang hingga infrastruktur tahan bencana.
Tanah yang bergerak bukan hanya tantangan darurat sesaat, tetapi juga sinyal bahwa keseimbangan antara lingkungan dan pemukiman manusia semakin tipis di sejumlah kawasan Jawa Tengah.
