Sudah lebih tiga bulan pasca bencana ekologis yang terjadi di Sumatera pada akhir November 2025 lalu. Tetapi hingga saat ini, situasi lokasi bencana yang disebabkan oleh deforestasi ini belum juga pulih. Masyarakat yang menjadi korban harus menanggung beban berat yang tidak sebentar, sementara pemerintah mengklaim perbaikan di lokasi bencana dilakukan cepat meskipun tidak begitu sesuai dengan realita.
Deforestasi yang menimpa banyak hutan di Indonesia ternyata tidak hanya menyebabkan bencana ekologis. Menurut Ahli Entomologi dari IPB University, Upik Kusumawati Hadi, hilangnya hutan secara permanen akibat keserakahan manusia terbukti meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya.
Upik menjelaskan, deforestasi dapat mengubah kawasan hutan menjadi lahan non-hutan secara irreversible dan melenyapkan fungsi ekologis hutan. โHutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,โ jelas Upik.
Ledakan Nyamuk Akibat Deforestasi
Salah satu dampak paling konkret dari deforestasi adalah perubahan perilaku nyamuk. Menurut Upik, hilangnya hutan berarti hilangnya habitat alami dari banyak spesies, termasuk inang yang digunakan nyamuk di alam liar. Ketika hutan rusak dan satwa liar yang menjadi bagian dari ekosistem hilang, nyamuk kehilangan sumber nutrisi alaminya.
โManusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,โ jelas Prof. Upik.
Fenomena ini tidak terjadi secara terpisah. Banyak laporan penelitian menunjukkan, di wilayah dengan tingkat deforestasi yang tinggi, populasi nyamuk justru lebih melimpah dan risiko penyakit yang dibawa oleh nyamuk meningkat. Perubahan struktur lingkungan akibat konversi hutan, meningkatkan peluang interaksi antara nyamuk dan manusia yang sebelumnya jarang terjadi di habitat alami.
Lebih lanjut, berkurangnya keanekaragaman hayati turut menghilangkan penyangga alami dalam siklus penularan penyakit. Dalam kondisi alam sebelum deforestasi, predator dan inang alternatif membantu menghambat penyebaran organisme pembawa penyakit. Tetapi ketika vegetasi dan fauna hutan terus menyusut, nyamuk oportunis menemukan lebih banyak akses ke manusia sebagai sumber darah.
Risiko Penyakit Berbahaya
Nyamuk bukan sekadar gangguan kesehatan ringan. Nyamuk dikenal sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning.
Peningkatan kasus penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk mencerminkan hubungan langsung antara kerusakan ekosistem hutan dan kesehatan manusia. Penyakit-penyakit yang disebutkan sudah lama dikenal sebagai ancaman di wilayah tropis seperti Indonesia. Sementara bagi area yang sebelumnya hutan alami dan berubah menjadi permukiman atau lahan pertanian, penyakit yang dibawa nyamuk jauh lebih mudah mewabah.
Deforestasi terbukti secara ilmiah membawa banyak masalah bagi masyarakat. Selain ledakan nyamuk dan ancaman penyakit, deforestasi mengganggu siklus air melalui hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah yang dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Proses degradasi ekologis tidak hanya menghancurkan habitat, tetapi juga menimbulkan berbagai masalah baru yang saling terkait.
Di banyak tempat masyarakat sudah paham dan terus aktif merawat, menjaga, dan melestarikan hutan serta lingkungan sekitar karena hutan adalah sumber kehidupan. Perusaknya justru sering kali berasal dari izin yang diberikan petugas negara kepada pihak-pihak tertentu untuk melakukan aktivitas penggundulan hutan secara masif.
Penegakan hukum yang berpihak kepada korporasi bukan kepada masyarakat, semakin membuat lebam semua luka yang dirasakan oleh rakyat. Kritik dan keluhan yang dianggap sebagai ketidaksukaan kepada petugas negara turut menambah masalah yang seharusnya tidak ada.
