Peta

Krisis di Balik Tumpukan Sampah di Kota-Kota Besar Indonesia

Pengelolaan sampah di Indonesia tidak bisa lagi hanya "buang di TPA". Perlu paradigma baru dari ambil buang ke ekonomi sirkular

April 10, 2026 Monica Dian Adelina
Krisis di Balik Tumpukan Sampah di Kota-Kota Besar Indonesia

Visual peta belum tersedia

Halaman ini sudah terdaftar sebagai entri peta, tetapi kanvas atau embed interaktifnya belum dipasang. Konten editorial tetap bisa dibaca sambil tim melengkapi aset peta.

Indonesia saat ini tengah menghadapi “darurat sampah” yang semakin mendesak. Melalui rangkaian laporan mendalam, Ekuatorial memotret bagaimana kota-kota besar di Indonesia berjuang — dan sering kali gagal — dalam mengelola ribuan ton sampah yang dihasilkan setiap harinya. Berikut adalah ringkasan dari poin-poin krusial yang diangkat dalam laporan tersebut:

TPA yang Melampaui Kapasitas (Overcapacity)

Hampir semua kota besar di Indonesia mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping atau sanitary landfill yang kini sudah kritis. Contoh paling nyata adalah TPA Bantargebang yang menampung sampah Jakarta. Laporan ini menyoroti bahwa tumpukan sampah telah mencapai ketinggian ekstrem, dan tanpa solusi radikal di tingkat hulu, TPA-TPA di Indonesia diprediksi akan lumpuh total dalam waktu dekat.

Ambisi Teknologi: Pro dan Kontra PLTSa

Pemerintah pusat mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau insinerator sebagai solusi cepat untuk memusnahkan sampah dalam jumlah besar. Namun, artikel-artikel tersebut mengungkapkan adanya perdebatan sengit:

  • Sisi Pemerintah: Menganggap teknologi ini solusi efektif untuk mengurangi volume sampah secara instan.
  • Sisi Aktivis Lingkungan: Mengkhawatirkan emisi beracun (seperti dioksin), biaya operasional yang sangat tinggi (tipping fee), dan potensi menghambat gerakan pemilahan sampah di sumbernya karena insinerator membutuhkan sampah kering yang “layak bakar”.

Masalah Klasik: Pemilahan di Hulu yang Gagal

Salah satu benang merah dari kegagalan pengelolaan sampah di Indonesia adalah rendahnya tingkat pemilahan sampah dari rumah tangga. Meskipun regulasi sudah ada, implementasinya di lapangan masih minim. Sampah organik dan anorganik masih tercampur, sehingga mempersulit proses daur ulang dan mempercepat pembusukan di TPA yang menghasilkan gas metana berbahaya.

Potret Kota: Surabaya vs Bandung

Laporan ini memberikan perbandingan pendekatan antar kota:

  • Surabaya: Sering dipuji karena keberhasilan melibatkan komunitas dan kader lingkungan dalam mengurangi sampah dari sumbernya, meskipun beban TPA Benowo tetap berat.
  • Bandung: Masih berjuang menghapus trauma tragedi Leuwigajah dengan program “Kang Pisman” (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), namun tantangan logistik dan kesadaran masyarakat tetap menjadi hambatan besar.

Polusi Plastik dan Ancaman Perairan

Sampah yang tidak terkelola dengan baik di daratan berakhir di sungai dan bermuara di laut. Laporan Ekuatorial menekankan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Larangan plastik sekali pakai di beberapa kota (seperti Jakarta dan Bali) dipandang sebagai langkah awal yang baik, namun belum cukup kuat untuk memutus rantai polusi secara sistemik.

Peran Sektor Informal (Pemulung)

Artikel-artikel tersebut juga memberikan ruang bagi peran pemulung dan pelapak. Ironisnya, meskipun mereka adalah tulang punggung sistem daur ulang di Indonesia, keberadaan mereka sering kali tidak diakui secara resmi dalam sistem manajemen sampah kota dan bekerja dalam kondisi kesehatan yang berisiko tinggi.

Secara keseluruhan, rangkaian artikel di Ekuatorial menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan “buang di TPA”. Dibutuhkan pergeseran paradigma dari ekonomi linear (ambil-pakai-buang) menuju ekonomi sirkular. Solusi teknologi harus dibarengi dengan penegakan hukum yang tegas, dukungan anggaran yang memadai, dan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari dapur.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.