
Mikroplastik tak hanya mencemari laut dan tanah. Tanpa disadari, partikel kecil ini juga perlahan menggerogoti kemampuan berpikir manusia. Temuan terbaru Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia menyebutkan, mikroplastik dalam tubuh manusia berpotensi menurunkan fungsi kognitif secara signifikan.
Penelitian ini menjadi alarm keras bahwa kontaminasi mikroplastik kini bukan lagi soal limbah atau ekosistem semata, melainkan menyangkut kesehatan otak manusia.
“Produksi sampah plastik yang terus meningkat tanpa diimbangi pengelolaan yang mumpuni telah menyebabkan pencemaran mikroplastik di berbagai aspek lingkungan – air, tanah, udara, dan produk konsumsi seperti ikan, daging, dan garam. Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran akan risiko kontaminasi mikroplastik pada manusia,” kata Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia, diakses dari keterangan resmi, Kamis, 17 April 2025.
Data dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat bahwa volume sampah plastik dunia melonjak tajam dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton hanya dalam dua dekade (2000–2019). Sementara di Indonesia, menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, jumlah sampah plastik pada 2023 mencapai 7,86 juta ton, atau hampir 20 persen dari total sampah nasional.
Kebanyakan sampah plastik ini akhirnya mencemari lingkungan atau berakhir di tempat pembuangan akhir. Dari sanalah mikroplastik masuk ke tubuh manusia—melalui makanan, udara, bahkan air minum.
Untuk menggali lebih dalam, Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia melakukan riset kolaboratif sepanjang Januari 2023 hingga Desember 2024. Penelitian ini berlangsung dalam dua tahap. Pertama, survei terhadap 562 responden di wilayah Jabodetabek untuk mengidentifikasi kelompok yang paling rentan terhadap paparan mikroplastik serta kebiasaan konsumsi plastik mereka. Tahap berikutnya, pengambilan sampel urin, darah, dan feses dari partisipan terpilih dilakukan guna mengukur kadar mikroplastik dalam tubuh mereka.
Hasilnya mencengangkan. Dari 67 partisipan, 95 persen terdeteksi mengandung mikroplastik. Pada sampel darah, ditemukan mikroplastik dengan kadar hingga 7,35 partikel per gram. Di urin, sebanyak 0,33 partikel per mililiter. Sementara dalam feses, kadarnya bisa mencapai 44,35 partikel per gram.
Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah Polyethylene Terephthalate (PET), dengan total 204 partikel terdeteksi. Partikel jenis ini lazim ditemukan dalam botol plastik, kemasan makanan siap saji, hingga serat pakaian.
Temuan yang lebih serius datang dari sisi medis. Menurut dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K), Ph.D, Ahli Saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), ada hubungan signifikan antara paparan mikroplastik dengan gangguan fungsi kognitif.
“Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup di antaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujarnya.
Evaluasi kognitif dalam penelitian ini menggunakan metode Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina), dikerjakan bersama tim dari Divisi Neurobehavior FKUI dan RS Cipto Mangunkusumo. Yang mengejutkan, partisipan dengan konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi menunjukkan risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.
Melihat dampak ini, Greenpeace mendesak pemerintah dan pelaku industri untuk segera bertindak. Ibar F. Akbar, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia, menyampaikan bahwa langkah sistemik mutlak dibutuhkan untuk mencegah risiko jangka panjang terhadap kesehatan publik.
“Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.
Tak hanya itu, menurut Ibar, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat, termasuk ambang batas aman untuk pangan dan lingkungan.
Di sisi lain, produsen juga tak bisa lepas tangan. Mereka diminta untuk segera mengurangi produksi plastik sekali pakai dan mulai menerapkan sistem pengemasan ulang.
“Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” tegasnya.
Kini, saat mikroplastik telah masuk ke dalam tubuh kita, bahkan memengaruhi cara otak berpikir dan mengingat, persoalan ini tak bisa lagi dianggap sepele. Penelitian Greenpeace dan UI ini menjadi penanda bahwa waktu untuk bertindak—baik dari individu, pemerintah, maupun industri—sudah mendesak. Mikroplastik tak terlihat, tapi dampaknya begitu nyata.
- Erupsi Gunung Berapi juga Berimbas Besar Terhadap Kehidupan Satwa LiarSemburan lahar panas, paparan abu vulkanik, hingga rusaknya ketersediaan sumber pakan dan air, menjadi pemicu utama penurunan populasi satwa, terutama di wilayah-wilayah kawasan konservasi yang terletak dekat dengan gunung api aktif.
- Game Jebakan Calo Awak Kapal IlegalAwas Calo! – Jerat Digital AKP Migran Awas Calo! Berdasarkan investigasi: “Jerat Digital Eksploitatif AKP Migran di Tegal” Status Keamanan Aman Judul Scene Teks narasi akan muncul di sini. Sebuah simulasi edukasi pencegahan TPPO dan jerat utang Awak Kapal Perikanan (AKP). Jika Anda atau kerabat mengalami indikasi penipuan, hubungi SBMI atau Disnaker setempat. Fakta Lapangan… Baca Selengkapnya: Game Jebakan Calo Awak Kapal Ilegal
- Menagih Komitmen Hulu di Tengah Tumpukan Sampah YogyakartaPenanganan krisis limbah di Yogyakarta dinilai tidak cukup hanya bersandarkan pada himbauan moral masyarakat. Perlu ada penyediaan sarana dan komitmen nyata dari pemerintah daerah.
- Rekor Kasus ISPA Melonjak, Koalisi Sipil Pertanyakan Kepemimpinan PrabowoPemerintah dinilai gagal mencegah kebakaran, melindungi warga, dan memberikan sanksi tegas kepada korporasi pembakar hutan.
- KPA: Nusron Wahid Tidak Paham Masalah Agraria StrukturalPerjuangan rakyat di wilayah-wilayah LPRA bukanlah aksi sepihak ataupun permintaan atas kemurahan hati negara.
- Api Melahap Kasepuhan di Sukabumi, Lemahnya Mitigasi Bencana Permukiman Adat jadi SorotanPeristiwa ini kembali menyoroti rapuhnya sistem mitigasi kebencanaan di lingkungan permukiman tradisional adat.


