Rumah Sri Ksetra membuktikan bahwa untuk menjaga bumi, kita harus mulai dengan mengenali kembali identitas kebudayaan

Di abad ke-7, Kedatuan Sriwijaya membangun sebuah taman bernama Sri Ksetra. Bukan sekadar ruang terbuka hijau, taman itu adalah simbol keharmonisan antara manusia, air, dan tanah di tanah Sumatera. Beribu tahun kemudian, semangat “taman” itu hidup kembali, bukan dalam bentuk fisik, melainkan melalui rekaman visual dan tulisan yang mencoba menyelamatkan sisa-sisa peradaban berbasis ekologi yang kian tergerus zaman.

Upaya pendokumentasian itu dilakukan oleh Rumah Sri Ksetra, sebuah kolektif jurnalis dan penggiat budaya yang baru saja dianugerahi Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 untuk kategori media. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Rabu (17/12/2025).

Budaya sebagai penjaga alam

Bagi Rumah Sri Ksetra, budaya Sumatera Selatan tidak bisa dipisahkan dari bentang alamnya. Dari rimbunnya hutan dataran tinggi hingga basahnya rawa dan gambut di dataran rendah, masyarakat adat di wilayah ini telah lama memiliki sistem “teknologi hijau” dalam bentuk kearifan lokal.

“Visi kami adalah keberagaman hayati, kekayaan budaya,” ujar Nopri Ismi, Ketua Rumah Sri Ksetra.

Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar piala di atas meja, melainkan “energi baru” untuk terus menggali pengetahuan lokal yang sering kali menjadi kunci keberlanjutan lingkungan yang terabaikan oleh modernitas.

Karya-karya mereka—mulai dari film dokumenter hingga artikel mendalam—menjadi jembatan yang menghubungkan realitas krisis ekologi dengan ketahanan masyarakat adat. Mereka merekam bagaimana masyarakat di tepian sungai memperlakukan air sebagai nadi kehidupan, atau bagaimana komunitas di pedalaman menjaga hutan sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati sekaligus sumber pangan yang berkelanjutan.

Ekosistem Kolaborasi

Keberlanjutan lingkungan tidak bisa diperjuangkan sendirian. Begitu pula dengan pelestarian budaya. Kesadaran inilah yang membawa Rumah Sri Ksetra membangun sebuah “ekosistem” kolaborasi yang luas.

Dalam perjalanannya, mereka menggandeng berbagai pihak yang memiliki napas perjuangan serupa. Mulai dari media yang fokus pada isu lingkungan, dan akademisi. Kemudian dari para aktivis lingkungan, seperti WALHI Kepulauan Bangka Belitung dan Hutan Kita Institute (HaKI). Serta berbagai kalangan akar rumput, seperti Komunitas Kampung Inggris Tempirai dan para tokoh adat di penjuru Sumatera Selatan.

“Ini adalah buah dari hasil kolaborasi. Pemajuan kebudayaan—dan pelestarian alam—harus dilakukan secara bersama oleh pemerintah, pelaku budaya, perguruan tinggi, dan masyarakat,” tegas Nopri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Pandji Tjahjanto, serta Kristanto Januardi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI, sepakat bahwa kerja-kerja kreatif berbasis data dan narasi ekologi seperti ini adalah motor penggerak daerah.

Sumatera Selatan bukan sekadar lumbung energi, tapi juga lumbung pengetahuan ekologi. Di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lahan, dokumentasi yang dilakukan Rumah Sri Ksetra menjadi arsip penting mengenai bagaimana leluhur kita bertahan hidup selaras dengan alam—sebuah cetak biru yang mungkin sangat kita butuhkan untuk masa depan.

Rumah Sri Ksetra membuktikan bahwa untuk menjaga bumi, kita harus mulai dengan mengenali kembali identitas kebudayaan kita yang paling akar. Nama “Sri Ksetra” bukan lagi sekadar sejarah taman kuno; ia kini menjadi simbol perjuangan menjaga “taman” besar bernama Sumatera agar tetap hijau dan berbudaya bagi generasi mendatang.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses