Di tengah amukan alam, Mahli pulang sebagai seorang suami, seorang ayah, dan seorang ranger yang mempertaruhkan nyawa demi hutan dan sesama.
Hujan turun sejak pagi ketika Mahli melangkah meninggalkan rumahnya di Samar Kilang, Kabupaten Bener Meriah. Langit kelabu menggantung rendah, namun ia tak menaruh curiga berlebihan.Â
Selama lebih dari sepuluh tahun menjadi ranger Forum Konservasi Leuser (FKL), hujan merupakan teman sehari-hari. Ia sudah terbiasa berjalan di bawah rintik, menyusuri hutan, menjaga kawasan dari perambahan dan perburuan liar.
Hari itu, Mahli bersama tiga rekannya dua ranger dan satu polisi hutan ditugaskan melakukan patroli selama 17 hari di kawasan hutan sekitar Kampung Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Awal perjalanan masih normal. Hujan turun sesekali lalu reda. Jalur masih dapat dilalui.
Namun semakin jauh masuk ke kawasan hutan, cuaca berubah drastis.

Patroli di tengah hujan
Hujan turun semakin rapat. Jalur menjadi licin, sungai kecil mulai meluap. Meski begitu, patroli tetap berjalan. Bagi Mahli, kondisi ini bukan hal baru. Ia sudah terlalu sering bertemu hujan, lintah, hingga jalur terjal yang menguji fisik
Sore hari, mereka tiba di sebuah titik dekat sumber mata air. Di sanalah mereka memutuskan mendirikan camp darurat. Dengan plastik seadanya dan batang kayu sebagai penopang, mereka membangun tempat berteduh. Hujan terus mengguyur tanpa jeda.
Malam kian larut. Angin dingin menusuk. Saat mereka terlelap, tiba-tiba terdengar suara retakan keras disusul dentuman berat.
Sebuah pohon tumbang tepat di samping camp.
Sebagian tenda robek. Tanah bergetar. Mereka terbangun dalam gelap dan hujan, nyaris kehilangan nyawa. Dengan sisa tenaga, mereka memperbaiki bagian yang rusak lalu kembali berteduh, pasrah pada alam.
Memasuki hari ke-13, kondisi semakin memburuk. Hujan tidak berhenti. Longsor terjadi di banyak titik. Sungai meluap. Jalur patroli tak lagi aman.
Mereka akhirnya memutuskan turun gunung.
Namun saat keluar dari kawasan hutan, mereka mendapati situasi yang jauh lebih parah. Kampung-kampung di sekitar Jamat terendam banjir. Air mengalir deras, jalan terputus, dan warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Malam itu, Mahli bermalam bersama warga. Di balik tubuh lelahnya, pikirannya melayang ke Samar Kilang, kepada istri dan anaknya yang ia tinggalkan tanpa kabar.
Menyelamatkan keluarga di tengah banjir
Keesokan harinya, Mahli melanjutkan perjalanan. Namun jembatan gantung yang biasa dilalui telah putus diterjang banjir. Ia menyusuri tepi sungai, mencari kemungkinan menyeberang.
Tiba-tiba, dari seberang sungai, terdengar teriakan minta tolong.
Di kejauhan, di sebuah gubuk kecil yang dikelilingi air, terlihat satu keluarga, suami, istri, dan seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun. Mereka terjebak banjir saat menjaga sawah dan tak sempat menyelamatkan diri. Hari-hari mereka lalui dengan sisa nasi yang hampir habis.
Tanpa ragu, Mahli masuk ke sungai.
Arus deras menghantam tubuhnya. Ia menggendong anak kecil itu di dada, sementara kedua orang tuanya mengikuti perlahan. Beberapa kali kakinya terperosok, air hampir menyeret tubuhnya. Namun ia terus melangkah, mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.
Akhirnya, mereka tiba di daratan dengan selamat.
Setelah memastikan keluarga itu aman, Mahli kembali dihadapkan pada pilihan berat, yaitu pulang atau tetap bertahan.
Kerinduannya pada keluarga tak tertahankan. Ia memutuskan pulang. Namun sungai masih meluap. Tidak ada jembatan. Tak ada perahu.
Mahli membuka ranselnya. Ia mengeluarkan plastik pembungkus barang dari dalam ransel tersebut, mengikatnya rapat, lalu meniupnya hingga mengembang. Plastik itu dijadikan pelampung darurat.
Dengan satu tangan mengayuh air dan tangan lainnya memegang plastik, Mahli menyeberangi sungai yang deras. Arus mengguncang tubuhnya. Air hampir menenggelamkannya. Namun ia terus bergerak, perlahan tapi pasti. Hingga akhirnya ia berhasil sampai ke seberang.
Setelah selamat menyeberangi sungai, Mahli berjalan kaki puluhan kilometer menyusuri jalur berlumpur. Kaki terasa berat, tubuh nyaris habis tenaga.
Di wilayah Uning, ia bertemu rombongan peserta Festival Linge dari Banda Aceh yang juga terjebak banjir. Mereka telah berjalan dua hari. Sebagian kelelahan, sebagian hampir tak sanggup melanjutkan perjalanan.
Melihat kondisi itu, Mahli memilih tetap bersama mereka.

Ia berjalan paling depan, menuntun rombongan melewati lumpur sepanjang hampir setengah kilometer. Ia membantu yang terjatuh, memapah yang kelelahan, dan memastikan semua bisa melewati jalur berbahaya itu.
Dua hari kemudian, rombongan akhirnya tiba di Takengon. Mahli beristirahat satu malam. Namun pikirannya terus tertuju pada rumah.
Ia meminta izin pulang. Dengan sepeda motor, ia diantar hingga Pondok Baru. Setelah itu, jalan terputus. Mahli melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki puluhan kilometer melewati sisa longsor dan banjir.
Menjelang malam, ia akhirnya tiba di Samar Kilang.
Tubuhnya penuh lumpur. Pakaian basah. Wajahnya lelah.
Namun di depan rumah, ia melihat istrinya berdiri bersama anak mereka. Tanpa kata, mereka saling berpelukan.
Di tengah amukan alam, Mahli pulang sebagai seorang suami, seorang ayah, dan seorang ranger yang telah mempertaruhkan nyawa demi hutan dan sesama.
Ia bukan pahlawan dalam buku sejarah. Namun di rimba Leuser, namanya akan selalu hidup sebagai penjaga yang tak pernah mundur.
- Mahasiswa IPB ciptakan alat pembakaran sampah tanpa asap pekat
- Langkah pulang seorang ranger Leuser
- Kilau tambang emas ilegal menganiaya Nenek Saudah hingga lebam
- Abai dengan bencana, petugas negara tempatkan ekonomi di atas ekologi
- UGM desak rehabilitasi vegetatif dan agroforestri pada hulu DAS yang rusak
- Dua dekade APSN, sampah masih jadi persoalan
