Kebun kopi tangguh iklim bukan sekadar teknik pertanian. Ini jalan memulihkan martabat tanah dan kemandirian petani perempuan.
Siti Hermi tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana yang ia ambil bersama suaminya, Depi, delapan belas tahun silam akan berujung pada penyesalan panjang.
Siang itu, Selasa (16/12/2025), di beranda rumah Supartina Paksi, Ketua Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu, Siti mengenang masa-masa kelam itu. Ingatannya melayang ke tahun 2007, saat ia tergiur jalan pintas. Demi efisiensi dan saran dari seorang penyuluh, ia mengganti parang dengan tangki semprot. Herbisida kimiawi mulai membasahi lantai kebun kopinya, menggantikan rutinitas menebas rumput yang melelahkan.
“Dulu biasanya hanya dirigas (ditebas) dan disiangi. Supaya lebih cepat dan mudah, saya dan suami mulai meracun rumput,” tutur Siti kepada LiveBengkulu.
Namun, kemudahan itu menuntut bayaran yang mahal. Satu per satu sumber penghidupan yang menopang dapur keluarganya runtuh. Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens), yang selama ini menjadi “bank hidup” penyelamat ekonomi keluarga sebelum musim panen kopi tiba, mulai mengirimkan sinyal kematian.
Tragedi mati gadis
Tak lama setelah herbisida menyentuh tanah, petaka bermula. Daun-daun cabai rawit yang tadinya hijau rimbun mulai mengeriting, menguning, dan timbul bercak putih. Ranting-rantingnya meranggas, buahnya mengering hitam—atau dalam istilah setempat disebut bantut.
Awalnya, Siti dan Depi mengira ini hama biasa. Mereka menyulam tanaman yang mati dengan bibit baru. Namun, kematian itu tak pandang bulu. Bahkan pohon kopi muda pun ikut meregang nyawa dengan cara yang ganjil.
“Hari ini masih segar, besok sudah mati. ‘Mati gadis’, kami menyebutnya,” ujar Siti dengan nada getir. Ia menggambarkan kematian tanaman itu layaknya disiram air panas; layu seketika, akar membusuk (belonyot). Jika pun ada yang bertahan hidup, pertumbuhannya kerdil, tak lebih tinggi dari pinggang orang dewasa, dan mati sebelum menyentuh usia tiga tahun.
Ironisnya, solusi yang ditawarkan penyuluh kala itu justru memperparah lingkaran setan: semprotkan lebih banyak kimia. Pestisida ditambahkan untuk “mengobati” cabai. Hasilnya nihil. Bibit bahkan mati sejak di persemaian. Tanah mereka seolah menolak kehidupan.
Pada 2017, dengan berat hati, Siti menyerah. Ia berhenti menanam cabai rawit di sela-sela kopinya. Hilang sudah pendapatan mingguan yang dulu selalu bisa diandalkan.
Melawan lupa pada kearifan emak
Dalam keputusasaannya, Siti teringat pada ajaran ibunya, seorang petani tangguh yang mewariskan ilmu titen.
“Mak pernah bilang, harus tanam rawit di sela-sela kopi. Dengan begitu, kita tidak perlu menjual tenaga ke kebun orang lain,” kenang Siti.
Ia merindukan masa-masa tahun 2003 hingga 2007, sebelum racun kimia masuk ke kebunnya. Kala itu, batang cabai rawit bisa sebesar pergelangan tangan, tingginya melampaui kepala manusia, dan umurnya bisa mencapai lima tahun. Ibunya mengajarkan teknik peremajaan alami: merobohkan batang tua agar menyentuh tanah, menimbunnya dengan serasah, hingga tunas baru muncul lebih kuat.
Siti bahkan telah memodifikasi teknik ibunya. Jika sang ibu hanya menanam dua batang cabai per pohon kopi, Siti menanam empat—di segala penjuru mata angin. Ia juga mengatur pola panen mingguan secara bergilir, memastikan uang selalu mengalir ke dompetnya setiap pekan.
Sistem itu hancur karena herbisida. Tak hanya cabai, produktivitas kopi pun anjlok. Pohon-pohon kopi tua miliknya merana, dahan mengecil, jamur menggerogoti batang, dan buah semakin langka. Tahun lalu, panennya hanya menyentuh angka 700 kilogram.
Kebun kopi tangguh iklim
Titik balik terjadi pada pertengahan 2024. Siti, bersama para perempuan petani yang tergabung dalam Koppi Sakti, memutuskan untuk berhenti melawan alam dan mulai merangkulnya kembali. Mereka mengadopsi konsep “Kebun Kopi Tangguh Iklim”.
Ini adalah sebuah pertobatan ekologis. Siti dan suaminya membuang racun kimia. Mereka kembali ke parang dan cangkul. Mereka menggali mini rorak (lubang angin) untuk menampung air dan menjebak hara. Rumput hasil penyiangan dan ranting pangkasan tidak lagi dibakar atau dibuang, melainkan dikembalikan ke tanah sebagai mulsa organik.
Proses pemulihan itu tidak instan, namun alam merespons dengan jujur.
Tanah yang kembali gembur dan kaya bahan organik memberi tenaga baru bagi tanaman kopi. Batang-batang kopi kini berdiri kokoh, daun kembali hijau pekat, dan bunga bermunculan lebat. Buah kopi tak lagi mudah busuk atau rontok.
“Hasil tahun 2025 ini mencapai 1,7 ton. Naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu,” ungkap Siti dengan mata berbinar.
Namun, ujian sesungguhnya bagi Siti adalah menanam kembali cabai rawit—tanaman yang memberinya trauma kegagalan bertahun-tahun.
Tahun ini, berbekal dukungan dari Nusantara Fund, Siti memberanikan diri menyebar bibit. Karena masih dibayangi ketakutan akan kegagalan, ia menanamnya setengah hati. “Asal tanam saja di dekat lubang angin, tidak saya rawat khusus,” akunya.
Keajaiban kecil pun terjadi. Lubang angin yang kaya akan kompos alami itu menjadi inkubator kehidupan. Tanaman cabai rawit yang “dibuang” di sana justru tumbuh raksasa, melampaui tinggi suaminya, dengan daun lebar mengilap dan buah yang lebat.
“Panen pertama dua kilo, panen kedua sembilan kilo,” kata Siti, seolah tak percaya.
Melihat bukti nyata di depan mata, keberanian Siti dan Depi pulih sepenuhnya. Mereka kini merancang masa depan kebun mereka dengan lebih banyak lubang angin, pabrik pupuk organik alami yang mereka buat sendiri di kebun kopi tangguh iklim mereka.
Bagi Siti, kebun kopi tangguh iklim bukan sekadar teknik pertanian. Ia adalah jalan untuk memulihkan martabat tanah dan kemandirian petani perempuan. Dengan merawat tanah, mereka tidak hanya memperbaiki apa yang rusak, tetapi juga memanggil kembali sumber-sumber penghidupan yang sempat hilang ditelan ambisi kimiawi.
“Kami merawat kembali sumber penghidupan yang sempat dilupakan,” pungkasnya. Dan kali ini, Siti yakin, tanah tidak akan mengkhianatinya lagi.
Reportase kolaboratif Ekuatorial dengan LiveBengkulu
- Pertobatan ekologis di kebun kopi tangguh iklim
- Sumatera di ujung krisis biodiversitas tertinggi di Indonesia
- Marak bencana hidrometeorologi, momentum mendesak percepatan reforestasi
- Bencana Sumatera ulah aktivitas ilegal, sains iklim harus dimanfaatkan maksimal
- Spesies elang-kuak baru ditemukan berkat petunjuk suara
- Anggrek larat hijau, endemik Bojonegoro meniti jalan kepunahan
