Bentang alam Bukit Tigapuluh yang menjadi wilayah jelajah gajah sumatera menghadapi tekanan yang semakin besar. Perkebunan sawit di kawasan ini semakin luas. Penebangan pohon juga terus terjadi. Tambang batu bara juga hadir di sana. Eksploitasi sumber daya alam besar-besaran ini, baik yang berizin maupun ilegal, berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup gajah sumatera.
Saat perjalanan bersama Tim Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, 22-23 Januari 2026, terlihat sejumlah lubang raksasa hasil dari aktivitas tambang batu bara di bentang alam Bukit Tigapuluh. Aktivitas di sana cukup sunyi. Ada lubang tambang yang sudah tergenang, kini telah serupa danau.
Keberadaan tambang ini menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan hidup gajah sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis). Kasus gajah jatuh ke lubang tambang sudah terjadi beberapa kali. Lokasi kejadiannya di tambang yang sudah tak dioperasikan lagi, namun perusahaannya belum melakukan reklamasi. Tambang ini tidak jauh dari Pusat Inforasi Koservasi Gajah (PIKG) yang berada di Kecamatan Sumay, Tebo.
Peristiwa gajah tergelincir ke lubang tambang ini tidak sampai mengakibatkan kematian pada satwa dilindungi tersebut. “Semua yang jatuh berhasil selamat. Gajah itu bisa lagi naik sendiri setelah tergelincir. Tapi ada satu kasus gajah yang tak bisa naik sendiri. Harus kami bantu menggunakan alat berat untuk menaikkannya,” kata Hefa Edison, Polhut Seksi KSDA Wilayah II BKSDA Jambi.
Hasil pengecekan, tambang masih berada di bentang alam bukit tigapuluh, tapi sudah di luar kawasan taman nasional. Status lahan tambang adalah areal penggunaan lain (APL). Jalur jelajah gajah banyak yang berubah drastis vegetasinya, ditambah adanya penyekatan menggunakan pagar listrik. Jalur jelajah gajah telah terfragmentasi, yang membuat areal tambang batu bara yang sangat terbuka ini akhirnya menjadi semakin kerap dilalui gajah.
Di Tebo masih ditemukan penggunaan pagar listrik atau kawat kejut sebagai blokade, tujuannya menghalau gajah, agar tidak masuk ke areal yang sudah berubah jadi kebun. Penggunaannya diharapkan bisa menurunkan tingkat konflik gajah vs manusia.
Kenyataannya, kawat kejut justru membuat ruang jelajah satwa berbelalai semakin sempit, sebab pagar listrik banyak juga yang dibuat masyarakat melindungi kebun masing-masing. Kekuatan arus listrik yang dialirkan tidak memenuhi kaidah sebagai alat kejut.
Dampaknya, ada gajah yang kena sengatan listrik bukan cuma terkejut lalu menghindar seperti yang diharapkan, tapi sudah sampai mengakibatkan kematian, beberapa waktu lalu. Bagi sebagian orang, gajah dianggap hama, sehingga berusaha menjauhkan dari arealnya, bahkan membinasakan. Para petani sawit merasa terancam dengan kehadiran gajah yang memakan tanaman mereka.
“Selama ini memang blokade itu (pemasangan pagar listrik) seperti tanpa komando. Kami bersama PT LAJ (Lestari Asri Jaya) dan masyarakat setempat akan upayakan mitigasi dan blokade secara terstruktur,” kata Martialis Puspito, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Jambi.
Saat ini populasi gajah ditebo menurut BKSDA sebanyak 140 ekor. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menjadi rumah utamanya. Areal penyangga TNBT yang terdiri dari kawasan restorasi, hutan produksi, perhutanan sosial, perkebunan, dan areal penggunaan lain menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk konservasi gajah.
“Memang tidak bisa hanya BKSDA sendiri yang menangani masalah gajah ini, harus melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk pemangku kawasan, pemegang izin, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kami sudah inisiasi membantuk satuan tugas tingkat kabupaten,” terangnya.

Perambahan dan Pembalakan
Aktivitas perambahan hutan, yang mengubah vegetasinya, masih terus terjadi di Kawasan bentang alam bukit tigapuluh. Diperkirakan ribuan pondok warga berdiri di dalam kawasan hutan. Mereka mengubah hutan jadi kebun kelapa sawit. Status kawasan yang dirambah cukup beragam, mulai dari hutan tanaman industri hingga restorasi bahkan taman nasional.
Informasi yang dihimpun, masifnya perambahan di wilayah bentang alam bukit tigapuluh utamanya wilayah Tebo dan Tanjung Jabung Barat terjadi dalam satu dekade terakhir. Hal itu juga terlihat dari tanaman yang ada di sana, yang umumnya masih berusia di bawah 10 tahun.
Pembalakan liar juga terus terjadi. Pada perjalanan menuju blok khusus open orangutan sactuary (OOS) Danau Alo di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, terpantau sejumlah pohon yang tumbang, diduga menggunakan gergaji mesin. Ada juga pohon yang sudah dipotong-potong jadi gelondongan yang sudah siap untuk diangkut.
Sementara pada saat berada di OOS Danau Alo, yang merupakan pusat rehabilitasi dan pelatihan orangutan, sejumlah pria terlihat melintas membawa kayu yang sudah diolah. Mereka jadikan kayu itu menjadi rakit, lalu membawa mengikuti arus sungai yang membelah OOS Danau Alo.
Wilayah OOS Danau Alo ini masih bagian dari bentang alam bukit tigapuluh. Tempat rehabilitasi orangutan ini jadi sasaran amuk massa beberapa tahun lalu. Satu bangunan hancur. Mereka protes pada BKSDA. Pemicunya, massa marah karena gajah masuk ke kebun dan berada di sana dalam waktu yang relative lama. Secara historis, areal yang sudah jadi kebun sawit itu jalur jelajah gajah.
Martialis Puspito, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Jambi, mengungkapkan fragmentasi di bentang alam bukit tigapuluh membuat gajah terkendala pindah tempat. Akhirnya, satwa kunci di bukit tigapuluh ini jadi kerap berlama-lama di sebuah tempat, apalagi ada pakan yang dianggap cocok, seperti sawit yang masih muda.
- Tambang batu bara ganggu kehidupan Gajah Sumatera
- Silikon penyubur tanaman dari ujung pipa limbah energi panas bumi
- Masyarakat Adat Byak tolak pembangunan markas TNI di atas tanah adat
- Deru mesin merobek jantung konservasi Kapuas Hulu
- Kriminalisasi terus terjadi, RUU Masyarakat Adat 16 tahun nyangkut di legislatif
- Usir utusan perusahaan sawit, masyarakat adat Papua tolak rayuan