Kemunculan kuskus beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) baru-baru ini viral di media sosial. Satwa unik ini menarik perhatian publik karena wujudnya yang jarang terlihat. Pasalnya, kuskus beruang merupakan hewan endemik Sulawesi yang status habitatnya masuk ke dalam kategori rentan punah.
Kuskus beruang Sulawesi masuk ke dalam daftar merah IUCN sebagai spesies vulnerable atau rentan. Keberlangsungan hidup hewan ini di alam memiliki risiko yang signifikan. Status ini didasarkan pada penurunan populasi yang terus berlangsung akibat hilangnya habitat alami, deforestasi, dan perburuan liar.
Si pemalu yang sulit dijamah
Kuskus beruang Sulawesi termasuk mamalia berkantung (marsupialia) yang hidup di kanopi hutan hujan tropis dataran rendah. Warna bulunya khas hitam ke abu-abu atau coklat keabu-abuan. Bentuk tubuhnya juga unik sehingga sering dibandingkan dengan beruang, meskipun secara taksonomi bukan anggota keluarga beruang sungguhan. Kerabat terdekatnya adalah marsupial seperti phalanger dan kuskus lainnya.
Satwa ini memiliki cakar melengkung tajam dan ekor yang kuat, digunakan untuk menggenggam dahan saat bergerak di kanopi pohon sebagai habitat utamanya. Hewan ini relatif pendiam dan bergerak lamban, serta sering beristirahat atau tidur siang di ketinggian pepohonan.
Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan memaparkan, dari sekitar 26 jenis tumbuhan yang ada di habitatnya, hanya sekitar 15% yang diketahui menjadi pakan kuskus beruang. Hal ini menunjukkan betapa spesifik dan terbatasnya sumber makanan yang dapat menunjang hidupnya.
Kuskus beruang juga cenderung hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari induk dan bayi, kecuali saat musim kawin ketika jantan dan betina menjadi soliter. Betina biasanya melahirkan satu atau dua anak dalam setahun, dan anak tersebut berkembang pertama kali di dalam kantung induk sebelum keluar dan hidup di luar setelah beberapa bulan.
Tekanan dan ancaman habitat
Dalam dokumennya, IUCN juga menjelaskan spesies ini mengalami tekanan dari hilangnya habitat akibat penggundulan hutan, konversi lahan, dan aktivitas manusia lainnya yang memperkecil wilayah hutan.
Pada banyak kasus, hutan yang menjadi rumah bagi kuskus beruang kini berubah fungsi menjadi lahan pertanian, pemukiman, atau ruang industrial yang tidak dapat lagi mendukung kehidupan satwa arboreal ini.
Ancaman lain yang disebutkan oleh IUCN adalah perburuan dan perdagangan satwa liar, meskipun relatif jarang dibandingkan tekanan dari penggundulan hutan. Terlebih, kuskus beruang hidup tersembunyi di kanopi dan jarang bersuara, keberadaannya sering luput dari pengamatan, sehingga pendataan dan pemantauan populasi menjadi sulit.
