Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Kopi Berkelanjutan Absolute Coffee, Merawat Hutan Menyeduh Masa Depan

Kabut tipis masih menggantung manja di pucuk-pucuk pohon rasamala dan pinus saat matahari perlahan mengintip dari balik punggung Gunung Salak. Di bawah kanopi pepohonan rindang yang menjadi sabuk penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), denyut kehidupan mulai terasa. Suara burung liar yang saling bersahutan memecah keheningan pagi, menjadi harmoni pengiring langkah para petani yang bergegas menuju kebun.

Udara dingin yang menusuk tulang di ketinggian Sukabumi itu tak sedikit pun menyurutkan semangat mereka. Di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, seonggok harapan sedang disemai. Bukan dalam bentuk bangunan beton yang megah, melainkan lewat rimbunnya perdu kopi yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik, sekaligus menjadi benteng penjaga napas bumi.

Di kawasan yang berbatasan langsung dengan salah satu wilayah keanekaragaman hayati terpenting di Pulau Jawa ini, kopi tidak lagi dilihat sekadar sebagai tanaman sela. Ia telah bermetamorfosis menjadi penjaga ekosistem sekaligus urat nadi perekonomian warga desa. Namun, mengubah daun hijau dan buah kemerahan ini menjadi pahlawan lingkungan sekaligus penggerak ekonomi bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu malam.

Di sinilah, sebuah inisiatif lokal bernama Absolute Coffee hadir. Mereka turun tangan mengurai benang kusut tata kelola pertanian tradisional, merajutnya kembali menjadi sebuah ekosistem kopi berkelanjutan yang memberdayakan masyarakat adat dan lokal.

Muhamad Kosar, pendiri Absolute Coffee, berdiri di tengah kebun sambil menatap deretan pohon kopi yang tumbuh subur di bawah naungan pohon-pohon besar hutan penyangga. Tangannya yang kapalan karena terbiasa dengan tanah, dengan cekatan membelai buah-buah kopi yang mulai memerah kemilau bak rubi di tengah dedaunan hijau. Ia seolah memastikan setiap butirnya tumbuh dengan kasih sayang alam. Bagi Kosar, secangkir kopi yang nikmat tidak pernah lahir dari proses yang mengeksploitasi dan melukai bumi.

“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem ekologi yang lebih luas,” ujar Kosar dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.

Kalimat tersebut bukanlah sekadar retorika pemanis kata. Selama bertahun-tahun, petani kopi di berbagai daerah sering kali terjebak dalam sistem niaga yang timpang. Mereka kerap kali hanya ditempatkan sebagai pekerja kasar di tanah mereka sendiri, sementara nilai tambah dan keuntungan terbesar dinikmati oleh para pemodal dan tengkulak di hilir.

Kosar ingin memutus rantai ketidakadilan struktural itu di Desa Cipeuteuy. Ia bertekad membangun sebuah ekosistem holistik yang tidak hanya berorientasi pada akumulasi kapital, tetapi juga menempatkan petani sebagai aktor utama—sebagai manusia yang memiliki kedaulatan penuh atas hasil keringat mereka.

Berada di wilayah penyangga Taman Nasional membawa tanggung jawab ganda yang berat bagi warga Desa Cipeuteuy. Di satu sisi, urat nadi dapur keluarga harus terus berdenyut. Di sisi lain, mereka terikat oleh kewajiban moral dan ekologis untuk menjaga kelestarian hutan. Pembukaan lahan secara serampangan atau penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan berpotensi besar merusak keseimbangan alam, memicu bencana tanah longsor saat musim penghujan, dan mengancam koridor satwa liar endemik yang dilindungi.

Menjawab tantangan demografis dan ekologis tersebut, Absolute Coffee memperkuat penerapan konsep agroforestri (wanatani). Dalam skema ini, budidaya kopi dilakukan secara berdampingan dengan alam, tanpa harus menebang pohon-pohon tegakan hutan. Sebaliknya, kopi Arabika maupun Robusta ditanam sebagai tanaman bawah yang justru sangat membutuhkan naungan (shade-grown coffee).

Pola ini memastikan produksi kopi berjalan beriringan dengan misi konservasi lingkungan. Akar-akar pohon hutan tetap mengikat air tanah, struktur lapisan tanah semakin kuat, dan iklim mikro di sekitar kebun kopi menjadi sangat ideal untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi dengan profil rasa (tasting notes) yang kompleks dan unik khas pegunungan Jawa Barat.

Tentu saja, niat mulia tanpa dibarengi dengan intervensi pengetahuan teknis tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Mengubah mentalitas dan kebiasaan lama petani yang terbiasa dengan metode panen ‘asal petik’—di mana buah hijau, kuning, dan merah dicampur menjadi satu—adalah tantangan terbesar. Untuk itu, Absolute Coffee turun langsung memberikan pendampingan intensif yang melibatkan tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 13 Kelompok Tani (Poktan) yang tersebar di wilayah Kabandungan.

Pendampingan ini ibarat sekolah lapang tanpa batas dinding kelas. Para petani diajarkan ilmu pertanian presisi, mulai dari teknik pemilihan bibit unggul, manajemen pengelolaan kebun yang ramah lingkungan, hingga teknik panen yang sangat ketat. Para petani kini sangat menyadari pentingnya kedisiplinan ‘petik merah’—yaitu hanya memanen buah kopi (cherry) yang benar-benar telah matang sempurna di pohon. Praktik ini membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelatenan ekstra, namun terbukti secara dramatis mengangkat skor (cupping score) dan kualitas biji kopi yang mereka hasilkan.

Visi Absolute Coffee melampaui lembaran rupiah. Kopi berkelanjutan adalah ekosistem yang menuntut adanya regenerasi dan edukasi.

Transformasi ini terus berlanjut hingga ke hilir. Proses pascapanen, yang kerap menjadi titik kelemahan fatal bagi petani tradisional, diperbaiki secara radikal. Absolute Coffee memperkenalkan teknik fermentasi yang higienis dan terukur, serta metode pengeringan yang terstandarisasi. Biji kopi yang tadinya hanya dijemur seadanya di atas terpal usang di pinggir jalan, kini diproses di dalam greenhouse atau rak-rak pengering khusus yang melindunginya dari kontaminasi kotoran, hewan, dan cuaca yang tak menentu.

Perjalanan panjang membangun ekosistem yang tangguh ini akhirnya memikat pihak luar. Gayung bersambut, inisiatif Absolute Coffee mendapat suntikan dukungan dari Star Energy Geothermal. Dukungan dari sektor korporasi ini difokuskan pada penguatan fundamental; mulai dari pembangunan infrastruktur usaha, peningkatan kapasitas budidaya dan pascapanen, hingga pengembangan strategi merek (branding) guna memperluas penetrasi pasar. Bantuan ini ibarat layar yang terkembang penuh, mendorong perahu petani Cipeuteuy melaju lebih kencang di tengah lautan industri kopi spesialti.

Hasilnya tidak mengkhianati proses. Produktivitas melonjak seiring dengan kualitas yang kian diakui. Kosar mencatat sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Saat ini, usaha kopi yang dikelola komunal ini mampu mencetak rata-rata omzet hingga Rp150 juta per tahun. Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan manifestasi dari dapur-dapur petani yang terus mengepul, anak-anak desa yang bisa merajut asa di bangku sekolah tinggi, dan senyum para ibu yang tak lagi dibayangi kecemasan.

“Hal itu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus pendapatan usaha,” terang Kosar bangga.

Namun, visi Absolute Coffee melampaui lembaran rupiah. Mereka sadar bahwa keberlanjutan sebuah ekosistem menuntut adanya regenerasi dan wadah edukasi. Dari kesadaran inilah, sebuah ruang promosi sekaligus etalase produk lokal didirikan di tengah desa. Lebih dari sekadar kedai kopi, dari bangunan sederhana ini lahir Rumah Belajar (RUBE) Kopi Cipeuteuy.

RUBE berevolusi menjadi ruang kelas terbuka dan melting pot bagi berbagai kalangan. Kini, Desa Cipeuteuy bukan sekadar titik singgah para tengkulak, tetapi telah menjelma menjadi magnet bagi mahasiswa, peneliti dari berbagai kampus, aktivis lingkungan, hingga wisatawan pelesir. Di RUBE, mereka diajak menyelami filosofi kopi secara utuh—dari menyentuh tanah kebun yang gembur di lereng Gunung Salak, mencium aroma pekat fermentasi biji kopi, hingga akhirnya menyeruput secangkir kopi panas yang diseduh oleh tangan terampil pemuda lokal.

Menjelang senja, angin perlahan turun dari puncak Gunung Salak, membawa serta aroma basah dedaunan dari hutan yang terjaga kesuciannya. Di beranda RUBE Kopi Cipeuteuy, suara gilingan biji kopi berpadu harmonis dengan gelak tawa para petani dan pengunjung.

Dalam setiap tegukan kopi Cipeuteuy malam itu, mengalir sebuah epos panjang tentang peluh para petani, kearifan merawat batas hutan, dan masa depan yang dibangun di atas fondasi ekologi. Kopi Gunung Salak kini bukan sekadar komoditas pengusir kantuk; ia adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa manusia dan alam dapat terus saling menghidupi.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses