Ekuatorial

Data. Maps. Storytelling.

MENGENAL PARA PAHLAWAN KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA TAHUN 2009

June 03, 2009

Mereka telah terbukti menunjukan semangat, keteguhan dan dedikasi dalam melestarikan dan menjaga kekayaan hayati nusantara.

Laporan Andi Noviriyanti, PekanbaruSiapa yang mau 13 jam mengarungi lautan luas menuju gugusan terluar Pulau Jemur dan Aruan hanya untuk menyelamatkan telur-telur penyu hijau (Chelonia mydas)? Semua orang mungkin akan serentak menggeleng tidak mau. Tapi tidak bagi Sofyan Hadi. Pria berpenampilan sederhana dan sehari-hari bekerja sebagai karyawan Bappeda di Bagansiapi-api, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau ini dengan sukarela melakukannya.  Tanpa pamrih dan mengharapkan apa-apa, malah rela mengeluarkan uang dari sakunya sendiri untuk perjalanannya yang tidak komersil itu.

Di Pulau Jemur dan Aruan itu, Sofyan berusaha menyelamatkan telur penyu dari aksi penjarahan pemburu telur penyu. Sofyan memang tidak menyelamatkan semua telur penyu di pulau itu, dia hanya menyelamatkan beberapa bagian kawasan pulau. Agar masih ada telur penyu yang bisa menetas menjadi penyu dan melanjutkan siklus hidupnya. Pasalnya bila itu tidak dilakukan, maka penyu yang sudah masuk dalam status merah, Appendix I Convention International Trade of Endangered Species of Fauna & Flora (CITES) berpeluang untuk punah selamanya.

Upayanya berusaha menyelamatkan telur dari penjarahan sekaligus membantu menetaskan secara buatan dan membina kesadaran masyarakat di pulau itu, membuat pria kelahiran 30 Agustus 1975 ini, Selasa (26/5) lalu, dianugerahi KEHATI Award, kategori Pendorong Lestari Kehati oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) di Gedung Perfilman Usmar Ismail Jakarta.

KEHATI Award adalah penghargaan yang diberikan Yayasan KEHATI sebagai apresiasi kepada individu atau kelompok yang terbukti menunjukan semangat, keteguhan dan dedikasi dalam melestarikan dan menjaga kekayaan hayati nusantara. Penghargaan ini pertama kali diluncurkan di tahun 2000. Sejak itu mereka telah menerima 845 usulan dan menghasilkan 17 penerima penghargaan.

Khusus untuk tahun 2009 ini, mereka tidak saja memberikan KEHATI Award kepada Sofyan saja. Dewan juri yang terdiri dari Prof Dr Endang Sukara (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI), Maria Hartiningsih (Kompas), Ishadi S K (TransTV), Denny Herlambang Slamet (Swisscontact Indonesia), Dollaris R Suhadi (Swisscontact Indonesia Foundation/SIF), Dr Ir Hadisusanto Pasaribu, MSc (Departemen Kehutanan), dan Yani Wicaksono (PT Bronzeoak) juga menetapkan lima penerima KEHATI Award lainnya.

Lima penerima KEHATI Award lainnya itu adalah Masyarakat Adat Hutan Wonosadi (Ketua Adat Sudiyo), H M Maryini (PT Samala Nusantara), Saein SP,  Sancaya Rini (Creative Kanawida), dan Klub Sahabat Alam (Ketua Adeline Tiffanie Suwana).

Untuk Masyarakat Adat Hutan Wonosadi dianugerahi KEHATI Award kategori Prakarsa Lestari Kehati. Anugerah itu diberikan karena masyarakat yang tinggal di Dusun Duren, Desa Beji, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta itu menunjukan keteguhannya dalam memelihara dan menyelamatkan hutan adat Wonosadi seluas 25 Ha selama 44 tahun. Mereka bersama-sama melakukan beragam upaya unik dalam melestarian keanekaragaman hayati melalui pendekatan kearifan tradisional dan pelestarian seni budaya lokal, seperti sadran pasca panen dan seni musik tradisional rinding gumbeng, karawitan, ketoprak dan wayang kulit. Upaya itu terbukti telah ikut menjaga habitat flora–fauna yang sudah langka seperti tanaman, kayu-kayuan, perdu, rerumputan, tanaman obat, anggrek lokal, aneka jenis burung, tercegahnya erosi, tercetak sawah 50 hektare yang dapat panen tiga kali setahun, dan munculnya tiga titik mata air yang tanpa henti mengairi ladang dan sawah warga. Terbentuk pula BALA DEWI (Badan Pengelola Desa Wisata) yang mengelola hutan Wonosadi sebagai hutan wisata.

Selanjutnya, Maryono dianugerahi KEHATI Award kategori Peludi Lestari Kehati. Pemilik PT Samala Nusantara itu, sejak tahun 2004 merintis usaha pembuatan jamu dari tanaman mahkota dewa.  Satu hari dapat memproduksi 2.000 bungkus jamu yang dipasarkan di beberapa kota besar Indonesia serta negara-negara di Timur Tengah dan Malaysia. Dia mengembangkan sendiri kebun Mahkota Dewa di atas lahan 2.000 meter persegi dan membina sekitar 150 orang petani di desanya untuk mengembangkan tanaman yang sama untuk jadi pendapatan tambahan bagi mereka. Kecintaannya terhadap tanaman obat atau herbal mendorong Maryono untuk merintis pendirian Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat ‘Herbarium Development Center’ yang mampu melestarikan 59 jenis tanaman herbal langka yang banyak di antaranya terancam punah. Usahanya memfasilitasi penghijauan Bukit Manoreh, pengembangbiakan kambing etawa, dan penggunaan pupuk organik.

Kemudian kiprah Saein, si penerima anugerah KEHATI Award kategori Cipta Lestari Kehati adalah kemampuannya melakukan penyilangan beragam varietas padi unggulan tanpa dukungan peralatan dan biaya yang memadai. Warga Desa Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini sejak memulai kegiatannya tahun 2004, berhasil menghasilkan sepuluh varietas padi baru. Salah satunya diberi nama ’Mutiara’, hasil persilangan Wulung dan Pandanwangi yang memiliki rasa pulen, tahan penyakit busuk pelepah dan busuk daun, tahan terhadap iklim panas serta memiliki produktivitas hingga tujuh ton per hektare kering panen.

Keberhasilan Saein itu didukung anggota Kelompok Tani Gemah Ripah II, yang secara gotong royong menyediakan lahan uji coba serta pemasaran.  Selain memperkaya aset genetika tanaman. Saein mengembangkan pula teknologi pupuk organik dengan mikroba lokal dari rumpun akar bambu di lahan miliknya. Sarjana Pertanian IPB itu berharap hasil penelitiannya tersebut bisa menjadikan kehidupan petani lebih sejahtera. Seiring makin berkurangnya ketergantungan mereka terhadap benih padi dan pupuk yang terus melambung mahal.

Tentang kiprah Sancaya Rini, si penerima KEHATI Award kategori Citra Lestari Kehati karena perempuan ini sejak tahun 2005 telah menghasilkan karya-karya batik terbaik dengan menggunakan bahan pewarna alami. Awalnya di workshop ’Creative Kanawida’, Rini hanya menggunakan pewarna sancang, indigo, dan mahoni. Namun belakangan dengan bekal ilmu sebagai lulusan Fakultas Pertanian UGM, dia bereksperimen membuat pewarna dari kulit buah-buahan yang dibuang di pasar swalayan, seperti kulit rambutan, mangga, manggis, dan mahkota dewa. Tidak hanya itu daun alpukat, mengkudu, dan mimosa, umbi bit, kelopak kembang sepatu, buah jengkol, daun nangka dan kulit batang nangka. Di kebun samping rumahnya, Rini membudidayakan tanaman-tanaman unggulan pewarna alami yang sudah hampir punah, salah satunya bixa. Kini, tiga anak muda yang tinggal di sekitar rumahnya sudah mahir dan mewarisi keahlian membatik bahkan kerap diundang sebagai pembicara di berbagai seminar batik.

Selanjutnya di kategori terakhir penerima KEHATI Award yakni Klub Sahabat Alam, dianugerahi Tunas Lestari Kehati karena klub yang diketuai oleh Adeline Tiffanie Suwana tersebut telah berpetualang dalam beragam aksi lingkungan. Mulai dari menanam pohon bakau dan terumbu karang, melepas penyu sisik, membersihkan sampah di pantai, menyebar benih ikan hingga membuat video penyadaran lingkungan yang memenangkan perlombaan tingkat dunia. Sebagai bagian dari ’anak kota’, dalam perekrutan anggota dan mempromosikan kegiatannya, Klub Sahabat Alam memanfaatkan teknologi mutakhir skype dan facebook. Klub Sahabat Alam berharap kegiatan mereka bisa menanamkan rasa sayang dan peduli terhadap lingkungan di tunas-tunas cilik nusantara.

Direktur eksekutif Yayasan KEHATI Ir Damayanti Buchori MSc PhD, Selasa (26/5), dalam sambutannya kepada pers, menyatakan keberadaan KEHATI Award untuk memberikan inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keanekaragaman hayati. Serta menjadi tahapan kesungguhan bangsa Indonesia untuk melakukan segala upaya untuk pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.(ndi)

Terbit di Riau Pos, Minggu (31 Mei 2009)
×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Zoom:

Finish geocoding

×

Submit a story

Do you have news to share from the Amazon? Contribute to this map by submitting your story. Help broaden the understanding of the global impact of this important region in the world.

Find location on map

Find location on map