Ekuatorial

Environmental News Syndication

Al Gore: Efek Permukaan Laut Naik, Ribuan Pulau dan Jakarta Terancam Tenggelam

Sumber: Amy Sim/Earth Journalism Network

Desember 19, 2018

Oleh Silvano Hajid

Liputan ini pertama kali diterbitkan oleh BBC News Indonesia pada tanggal 14 Desember 2018.

Katowice, POLANDIA. Mantan wakil presiden Amerika Serikat dan pegiat lingkungan, Al Gore, mendatangi paviliun Indonesia di sela-sela konferensi perubahan iklim PBB 2018 (COP24) yang berlangsung di Katowice, Polandia, dari tanggal 3 hingga 14 Desember 2018.

Gore mengatakan konferensi PBB tentang perubahan iklim adalah harapan dan peluang negara-negara di dunia untuk memperbaharui kebijakan terhadap lingkungan.

“Akibat pemanasan global, 95% es di Arktik mencair, imbasnya permukaan air laut naik, ribuan pulau di Indonesia termasuk Jakarta terancam tenggelam, bersama dengan New York, Mumbai, Bangladesh, bahkan Miami,” kata Gore, seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid.

Gore mengatakan manusia memiliki political will (keinginan politik) untuk mengubah krisis iklim yang terjadi saat ini.

Ia mengatakan suhu permukaan bumi telah naik satu derajat celcius dan semua pihak butuh percepatan perbaikan lingkungan.

“Bila kita ragu akan political will, yakinlah, political will itu juga sumber daya yang bisa diperbaharui,” kata Gore.

 

Daratan berkurang 

Pesan ini juga ia tunjukkan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait penarikan diri Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris pada COP21.

“Jika ingin benar-benar lepas dari Kesepakatan Paris, dia (Donald Trump) harus menunggu usai masa pemilu selanjutnya, itu aturannya. Jadi jika ada presiden baru yang menang dalam pemilu menggantikan Donald Trump, hanya butuh 30 hari bagi Amerika serikat untuk kembali fokus pada Kesepakatan Paris,” kata Gore.

Soal ancaman tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengutarakan bahwa akibat kenaikan muka air laut, daratan akan berkurang yang menyebabkan migrasi manusia ke tempat yang lebih aman.

“Sekitar 300.000 kepala keluarga kehilangan rumahnya karena kenaikan permukaan air laut,” kata Siti Nurbaya.

Indonesia memiliki target penurunan emisi pada 2020 hingga 2030 sebesar 29% dan sektor energi dinilai masih lambat bergerak.

Al Gore
Al Gore memberikan sambutan di paviliun Indonesia di konferensi perubahan iklim PBB di Katowice, Polandia. Sumber: BBC Indonesia.

 

Transisi energi terbarukan

Menteri Koordinator Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan, mengutarakan penggunaan energi terbarukan ditargetkan sebesar 23% dari konsumsi energi nasional pada 2025 mendatang.

“Hingga kini (2018) Indonesia baru dalam kisaran pencapaian 11 %, masih jauh dari target,” Kata Luhut.

Pesan Gore ketika melihat fakta dari para ilmuwan adalah mempercepat transisi menuju energi terbarukan dan meningkatkan ambisi penurunan emisi domestik.

Luhut mengatakan pihaknya harus realistis karena hingga saat ini menurut Global Carbon Project, konsumsi nasional batu bara di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sebesar 0,9 %, meskipun energi terbarukan meningkat 5,7 % setiap tahun.

Namun, konsumsinya masih sangat rendah, belum sampai 1 EJ, sementara batu bara mendekati 2,5 EJ, dan minyak bumi melebihi 3 EJ.

Gore mengatakan, “Jika 10 tahun lalu, kita masih bermimpi bahwa energi terbarukan dapat direalisasikan, para ilmuwan telah menetapi janjinya, kini listrik yang dihasilkan dengan tenaga surya dan angin, justru lebih murah dari batu bara, maka dunia harus menghentikan penggunaan batu bara, termasuk Indonesia.”

Liputan ini didukung oleh Kemitraan Media Perubahan Iklim 2018 (CCMP), sebuah kolaborasi antara Internews’ Earth Journalism Network dan Stanley Foundation.

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta