Ekuatorial

Data. Maps. Storytelling.

Teknologi sederhana namun efektif dalam meningkatkan akses terhadap air di kawasan bukit Banyuwangi

Sumber mata air yang dimanfaatkan untuk mendorong Pompa Hidram hanya berkapasitas 16 liter per menit. Air tersebut dikumpulkan terlebih dahulu dalam satu embung. Foto: Mohamad Ulil Albab/IDN Times

Januari 12, 2021

Liputan in pertama kali terbit di IDN Times pada tanggal 22 Nov 2020, dengan judul ‘Sedot air tanpa listrik, solusi kekeringan di kawasan bukit Banyuwangi’.

Oleh Mohamad Uli Albab

Pasangan suami-istri, Juhara (60) dan Matrawi (80), merupakan satu dari ratusan keluarga di lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi yang belum pernah merasakan aliran air bersih ke rumahnya. Sejak pertama tinggal di sana sekitar tahun 1950-an, setiap hari, kedua warga lanjut usia tersebut harus mengambil air bersih menggunakan timba ke bawah jurang dengan jarak 130 meter dari rumah dan kedalaman vertikal 20 meter.

Baca cerita utama: Edukasi, pengelolaan sumber daya, dan peran pemerintah dibutuhkan untuk mengurai konflik di Kalipuro

Di sisi lain, Juhara yang hanya bekerja mencari bambu di hutan mengaku tidak sanggup menyalurkan sumber mata air ke rumahnya. Sebab, biaya berlangganan akses air ke Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat mencapai jutaan rupiah.

Di luar Hippam, sebenarnya ada juga warga yang memiliki modal dan akses mata air. Dari total 600 Kepala Keluarga (KK) di Papring, terdapat 20 pengelola air yang muncul secara organik, atas nama Hippam maupun perorangan. Namun, tarif yang mereka tawarkan pun tak terjangkau olehnya.

Tidak hanya Juhara dan Matrawi, terdapat sekitar 150 kepala keluarga (KK) dari 600 KK di Lingkungan Papring yang belum bisa merasakan aliran air ke rumahnya. Padahal, mereka tinggal di kawasan hutan KPH Banyuwangi Utara yang banyak memiliki titik sumber mata air. Warga yang belum memiliki saluran air selama ini mengakses kebutuhan air dengan menumpang ke tetangga, serta musala yang memiliki tempat mandi umum.

Kondisi ini terjadi karena beberapa hal, seperti adanya perebutan sumber mata air antar penduduk, tidak adanya edukasi manajemen pemanfaatan air secara profesional dari pemerintah, ditambah menurunnya debit mata air akibat pengambilan bambu secara tak terkendali.

Juhara (60) salah satu warga Papring yang belum memiliki akses air bersih ke rumahnya sejak tahun 1950-an. Saat ini di belakang rumahnya sudah mengalir air dari Pompa Hidram yang bisa dia ambil menggunakan timba. Foto: Mohamad Ulil Albab/IDN Times

Program dari Poltek Negeri Banyuwangi mengakhiri penderitaan Juhara

Namun, kini Juhara dan Matrawi tidak lagi turun ke jurang untuk mengambil air. Sejak awal November 2020, air bersih sudah mengalir di tandon yang terletak di belakang rumahnya, berjarak sekitar 10 meter.

Mereka mendapatkan bantuan dari program mahasiswa dari Himpunan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Banyuwangi. Para mahasiswa memasang Pompa Hidram (hydraulic ram pump) di sumber mata air.

“Sekarang sudah enak, tidak perlu turun lagi ke bawah jurang untuk ambil air, tenaganya itu, saya sudah tua. Kalau sebelumnya, pagi jam 5 saya ambil air ke bawah, pakai timba, buat masak dan minum. Sore hari ambil lagi ke bawah buat kebutuhan di malam hari. Kalau mandi, mencuci langsung ke sumber bawah,” kata Juhara saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/11/2020).

Teknologi Pompa Hidram digerakkan tanpa listrik, melainkan menggunakan energi tekanan air dari sumber mata air yang dikumpulkan. Hasilnya, dengan kapasitas mata air 16 liter per menit, air bisa mengalir ke pemukiman penduduk setinggi 20 meter sebesar 1 liter per menit.

Air tersebut, ditampung menggunakan tandon volume 550 liter, cukup untuk memenuhi kebutuhan skala kecil sebanyak belasan warga. Lewat pemanfaatan energi terbarukan dari sumber mata air alami menggunakan pompa hidram, warga sudah bisa menikmati air bersih secara gratis. Pompa hidram dipasang secara gotong royong di bawah pemukiman penduduk, di jurang sedalam 20 meter.

Air yang mengalir dari hasil Pompa Hidram ditampung di tandon berukuran 550 liter. Pompa Hidram mampu mendorong air dengan ketinggian 20 meter, hasilnya mengalir 1 liter per menit. Foto: Mohamad Ulil Albab/IDN Times

Selain bisa mengakses air bersih, keberadaan program ini juga bisa menghindari konflik

Ungkapan syukur juga diutarakan oleh salah satu warga bernama Munahju. Munculnya pompa hidram di dekat rumahnya jadi angin segar. Kini, dia bisa mengambil air bersih dari sana.

Sebenarnya, lanjut dia, warga Papring sempat merasakan sumber mata air di lingkunganya sendiri. Namun, terjadi penyusutan debit mata air pada tahun 1990-an akibat pengambilan bambu yang tak terkendali di kawasan sumber. Hal ini diperparah dengan pendangkalan di sumber mata air.

Baru di tahun 2010, warga Papring sepakat untuk mengendalikan pengambilan bambu khusus di kawasan Sumber Dilem agar debit airnya kembali pulih.

Selama mata air Sumber Dilem menyusut, ratusan warga yang kesulitan air akhirnya coba mengambil sumber mata air yang lain, yakni dari rembesan aliran sungai dari mata air Sumber Nanas. Hanya saja, masyarakat di hilir, Lingkungan Sawahan takut bila volume air akan mengurangi jatah untuk irigasi persawahannya. Konflik pun tidak terhindarkan, tepatnya di tahun 2014.

“Dan pernah konflik, karena warga sini kesulitan air, mengambil air dari Sumber Nanas. Warga Sawahan tidak terima, dan warga Papring memutus aliran irigasi ke jurang. Sampai ada yang kena bacok bagian muka. Konflik berakhir setelah masyarakat Papring dapat aliran air dari Sumber Nanas, meski hanya dapat sisa di bawah pancuran tempat mandi,” katanya.

“Ya sekarang senang, paling tidak buat air minum sama masak. Kalau sebelumnya saya baru ambil air untuk masak dan minum dari saluran berbayar ini malam hari, memastikan kalau di atas tidak ada yang sedang mandi,” ujarnya.

Dosen Konversi Energi, Politeknik Negeri Banyuwangi, Prabuditya Bhisma Wisnu Wardhana mengatakan, pompa hidram sendiri sudah ada sejak era revolusi industri Inggris pada abad 18. Pompa ini ditemukan oleh John Whitehurst, seorang ilmuwan asal Inggris. Namun, mulai ditinggalkan seiring munculnya pompa air listrik dan pompa mesin berbahan minyak bumi.

Seiring munculnya kembali dorongan pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, pompa hidram ini bisa jadi solusi untuk mengangkat air di kawasan terpencil.

“Teknologinya sudah lama, digunakan untuk mengatasi kesulitan air, biasanya digunakan di daerah pegunungan. Lewat pompa hidram ini agar air yang ada di bawah bisa naik,” ujar dosen Teknik Mesin, Politeknik Negeri Banyuwangi, Agung Fauzi Hanafi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/10/2020).

Murah dan cocok untuk daerah bertopografi jurang

Secara sederhana, kata Agung, pompa hidram bisa mengangkat air di ketinggian hingga 20 meter dari sumber mata air karena memanfaatkan tekanan energi air bernama water hammer. Energi ini diperoleh dari tekanan aliran air yang ditutup secara tiba-tiba. Ibarat sebuah pipa yang mengalirkan air, bila langsung ditutup secara tiba-tiba dengan tangan maka akan terasa energi dorongan yang kuat, meski hanya sebentar.

“Ini teknologi memanfaatkan water hammer dari energi air itu sendiri untuk memompa air,” kata Agung.

Bila dibandingkan dengan penggunaan pompa listrik, hasilnya memang jauh berbeda. Namun, dilihat dari kondisi topografi wilayah sedalam 20 meter, tentu membutuhkan pompa listrik yang besar, sementara sumber mata air hanya mengalir kecil.

“Bukan hanya total listrik dan pompa. Belum risiko hilang (pompa air listrik), karena itu jauh dari penduduk dan area terbuka. Kalau pakai pompa hidram, pompanya saja hanya Rp700 ribu, dan itu bisa merakit sendiri, bahan-bahan terjangkau,” ujarnya.

Sementara dosen Konversi Energi, Politeknik Negeri Banyuwangi, Prabuditya Bhisma Wisnu Wardhana, mengatakan, meski teknologi pompa hidram tidak menghasilkan energi listrik, dia tetap bisa dikategorikan sebagai energi terbarukan, jenis energi yang oleh pemerintah disebut “energi baru dan terbarukan” (EBT).

“Definisi terbarukan itu sustainable, tidak pernah habis, jadi yang terbarukan itu bukan alatnya, tapi resource-nya,” ujar Bhisma, Selasa (27/10/2020).

Liputan ini didukung oleh program pelatihan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Internews’ Earth Journalism Network.

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta