Posted in

NUKLIR NEGERI SAKURA BUKAN HANYA FUKUSHIMA

thumbnailJepang kini terus diteror kegagalan nuklir gara-gara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mereka di Fukushima meledak. Radiasi radioaktif konon mulai menyebar lewat laut sampai ke Amerika. Fukushima pun jadi sorotan dunia. Namun tak banyak yang menyadari, jika selain PLTN Fukushima, Jepang sebenarnya punya sebuah PLTN lain yang terletak justru lebih dekat ke episentrum gempa. Nah, apakabar PLTN Onagawa?

Jakarta-Jika mau mengulik peta Negeri Sakura, kita akan menemukan pusat Gempa Jepang 11 Maret lalu berpusat 130 km arah timur Prefektur Miyagi. Kedalaman gempa pun dangkal. Hanya 24,4 meter saja. Dampaknya tak ayal, fatal. PLTN Fukushima yang terletak 259 km dari pusat gempa mengalami kegagalan pendinginan reaktor uranium mereka, tak lama setelah terguncang gempa dan tersapu tsunami.

Uniknya, PLTN Onagawa yang juga sama-sama milik Tohoku Electric Power Company (TEPCO) justru tidak dilaporkan mengalami kerusakan berarti. Padahal, PLTN satu ini justru berada di satu prefektur yang sama dengan episentrum gempa. Lah, kok bisa?

Tentu saja ini bukan berarti PLTN Onagawa punya teknologi kebal gempa atau tsunami. Dua hari setelah gempa, Kyodo News melaporkan PLTN Onagawa juga sempat terbakar. Radiasi nuklir pun meningkat. Hanya saja, tak seperti reaktor TEPCO di Fukushima, kebakaran Onagawa sempat teratasi. Bahkan pada hari yang sama badan nuklir internasional, IAEA mengumumkan radiasi nuklir di daerah ini sudah kembali normal.

Memang, dari sisi teknologi, Reaktor Nuklir Onagawa memiliki salah satu teknologi reaktor nuklir paling modern di seluruh Jepang. Gara-gara dianggap paling terkini pula, reaktor Onagawa-3 sempat dijadikan panutan para teknisi Toshiba membangun pembangkit nuklir Jepang lainnya di Higashidori. Seluruh manajemen reaktor Onagawa pun oke, sesuai standar internasional ISO 14001. Hasil buangan air yang digunakan reaktor ini pun hanya 7 derajat celsius lebih tinggi daripada saat air itu digunakan. Pembuangan air laut untuk mendinginkan reaktor itu pun tak sembarangan. PLTN Onagawa sengaja membuangnya 10 meter di bawah permukaan laut, demi menghindari dampak buruk bagi lingkungan semaksimal mungkin.

Tapi catatan indah PLTN Onagawa ini bukannya bersih tanpa dosa. Pada 2005, Kyodo News melaporkan PLTN Onagawa sempat terimbas gempa Miyagi, yang guncangannya 7,2 Richter atau di atas batas toleransi reaktor nuklir Onagawa terhadap gempa. Satu tangki asam sempat meledak ke udara, melontarkan asam sulfur, meski kemudian kegagalan ini sempat teratasi.

Pasca Gempa Jepang 11 Maret 2011, lagi-lagi PLTN Onagawa bermasalah. Beberapa kali PLTN tercanggih di Jepang ini mengalami kebakaran kecil, hingga pada 13 Maret 2011, TEPCO mengumumkan status darurat rendah gara-gara tingkat radiasi di sekitar reaktor sempat meningkat. Namun pengumuman ini akhirnya diralat kembali, dan TEPCO lebih memfokuskan usaha pendinginan reaktor mereka kepada PLTN Fukushima yang sedang meleleh.

Pengamat Nuklir Independen Iwan Kurniawan menyatakan, runtutan insiden PLTN Onagawa ini bisa menjadi pertanda bahwa PLTN satu ini hanya bernasib beruntung dalam Gempa Jepang kali ini.

“Karena penyebab meledaknya reaktor (Fukushima) bukan hanya karena gempa, tapi juga tsunami. Sangat mungkin kondisi yang berbeda terjadi di PLTN Onagawa, sehingga kali ini mereka hanya beruntung,” kata Iwan Kurniawan.

Teknologi nuklir Jepang semakin dipertanyakan, setelah Kantor Berita AFP melaporkan situs internet Wikileaks menemukan bocoran kabel diplomatik dari badan nuklir internasional IAEA kepada Pemerintah Jepang. Isinya tak lain tak bukan memperingatkan Pemerintah Negeri Sakura itu untuk meninjau ulang ketahanan teknologi nuklir mereka dari bahaya gempa. Maklum saja, untuk negeri seluas 378 ribu km², Jepang tak tanggung-tanggung memasang 54 PLTN sekaligus.  Padahal, negara ini sejak dahulu kala dikenal sebagai negeri gempa.

Meski demikian, Pemerintah Jepang sampai saat ini masih enggan berkomentar. Paling tidak, itu yang terjadi di Indonesia. Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri menyatakan pemerintahnya belum pernah mengetahui adanya kabel diplomatik semacam yang diberitakan Wikileaks itu.

“Lagipula, prioritas pertama kami saat ini bukanlah itu, tapi lebih pada menyelamatkan para korban gempa dan tsunami, serta membangun kembali negara kami,” kata Shiojiri.

Menurut Shiojiri, semua berita-berita dan informasi tersebut tetap diperhatikan Pemerintah Jepang. Namun, semua itu menurut dia baru akan dipertimbangkan lebih lanjut setelah huru-hara darurat nuklir Negeri Sakura berakhir. Termasuk apakah di masa depan Jepang telah kapok mengandalkan reaktor nuklir sebagai pemasok utama energi mereka atau justru berusaha lebih gigih menemukan teknologi nuklir yang lebih canggih.

Lalu bagaimana akhir nasib nuklir Jepang? Tampaknya kita masih harus sabar menunggu.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.