Warga Desa Jabiren menunggu dengan cemas saat kebakaran melanda kawasan gambut di sekitar desa, pengujung Oktober tahun lalu. “Api melalap habis kawasan ini, termasuk lahan di seberang sana,” kata Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian Muhrizal Sarwani, seraya menunjuk ke lahan terlantar di seberang selokan. “Semua wilayah terkena dampak kebaran, kecuali tempat ini.”

Farmers close a water gate after riding their sampan through a ditch next to a rubber plantation in Jabiren village, Pulang Pisau district on Sept. 26, 2013. (JG Photo/Erwida Maulia)
1 Oktober 2013 at 22:10
There are no comments yet. Leave a comment!
Related Posts
Antara "Supermarket" karbon dan jerat utang iklim
November 22, 2025
Apakah COP30 di Brasil menghasilkan dana segar untuk menyelamatkan bumi, atau sekadar rebranding utang lama dengan label hijau?
Bagaimana jurnalisme konstruktif membantu publik bertahan di era krisis iklim?
November 19, 2025
Jurnalisme konstruktif mengatasi kelelahan informasi dengan menawarkan perspektif berfokus pada pemahaman, solusi, dan harapan nyata dalam menghadapi krisis iklim.
Laut merah, napas sesak. Kisah warga Morowali dalam kepungan industri nikel
November 18, 2025
Pesisir yang tercemar hanyalah satu dari sekian banyak masalah yang dihadapi Kurisa dan desa-desa lain di sekitar industri nikel