Pegiat lingkungan menolak peta interaktif untuk melacak penggundulan hutan, Global Forest Watch 2.0. Sebabnya, data deforestasi Indonesia pada platform tersebut dianggap tidak konkrit dan tidak akurat.

Greenomics Indonesia menyebutkan, penelitian ilmiah yang menjadi acuan bagi platform tersebut tidak akurat dan menyesatkan. Penelitian tersebut menggolongkan kawasan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai ‘area tutupan hutan’.

“Hutan alam hilang cuma sekali. Saat ribuan hektare ditebang lalu ditanami sawit atau menjadi HTI, mengapa dikategorikan sebagai tutupan hutan?” ujar Direktur Greenomics Indonesia, Elfian Effendi. “Penelitian tersebut tidak tahu lapangan. Untuk kami di Indonesia, penelitian tersebut menggelikan. Hutan ya hutan, sawit ya sawit.”

Global Forest Watch 2.0 yang diluncurkan di Washington, DC, Amerika Serikat, pada 20 Februari 2014, adalah platform yang dikembangkan World Resources Institute bersama peneliti dari University of Maryland, Google, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dan sejumlah partner lain. Platform tersebut menggabungkan teknologi satelit, data terbuka, dan pengumpulan informasi berbasis masyarakat (crowdsourcing) untuk menampilkan peta hutan dunia. Adapun, harapannya peta tersebut dapat mendorong munculnya kebijakan dan pengelolaan hutan yang lebih baik.

Sementara itu, Rizaldi Boer dari Institut Pertanian Bogor berpendapat bahwa yang menjadi acuan penelitian tersebut sesungguhnya perhitungan kotor dari jumlah pohon. Maka, tanaman kelapa sawit dan karet ikut dihitung. Seandainya peneliti memakai definisi hutan yang sama dengan definisi pemerintah Indonesia, artinya kawasan kelapa sawit dan HTI tidak termasuk di dalamnya, total luas area hutan primer yang menjadi acuan untuk mengukur laju deforestasi tentu sama.

Ketua tim peneliti dari University of Maryland, Matthew Hansen, menjelaskan bahwa platform pemetaan tentang perubahan kawasan hutan yang diteliti oleh timnya memang tidak membedakan area kawasan hutan dan perkebunan. “Tujuan utama penelitian ialah ada atau tidak adanya biofisik dari tutupan hutan. Kemudian, data itu ditumpang tindih dengan gangguan yang menyebabkan kawasan hutan berkurang. Contohnya kebakaran hutan, penebangan, dan pembukaan lahan,” kata Hansen di Jakarta, Jumat (7/2).¬†Kombinasi dari data-data tersebut adalah deforestasi dan degradasi lahan. “D besar dalam REDD.”

Ia juga menambahkan, salah satu temuan menarik dari penelitian tersebut yakni bahwa 38 persen penggundulan hutan di Indonesia terjadi di dalam kawasan hutan alam. “Deforestasi sangat masif di kawasan lahan basah Sumatera,” kata dia. Di dalam studi yang dipublikasikan pada November 2013 tersebut, tim Hansen melaporkan bahwa total deforestasi flobal mencapai 2,3 juta kilometer persegi. Adapun, total tutupan hutan baru seluas 800.000 kilometer persegi antara 2000 dan 2012.

Brazil berhasil menekan laju deforestasi dari 40.00 kilometer persegi menjadi 20.000 kilometer persegi. Sayangnya, laju deforestasi di beberapa negara lain seperti Indonesia, Malaysia, Bolivia, Paraguay, dan Zambia naik tajam. CLARA RONDONUWU

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.