Penyu termasuk hewan yang terancam hampir punah menurut Daftar Merah yang dikeluarkan oleh Serikat Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN). Enam dari tujuh spesies penyu di dunia berada di perairan Indonesia.

Keenam spesies penyu tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu pipih (Natator depressus), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).  

Upaya melindungi dan menyelamatkan populasi penyu menghadapi banyak kendala, di antaranya semakin rusaknya habitat penyu, perburuan telur, perdagangan ilegal, ancaman predator, abrasi, hingga perubahan iklim. Kondisi tersebut dapat bertambah parah ketika tak ada upaya penyelamatan serius yang dilakukan pemerintah.

Salah satu daerah konservasi penyu ada di ujung timur Indonesia. Empat dari tujuh spesies penyu bertelur di Papua, sehingga daerah ini disebut menjadi satu-satunya harapan bagi keberlangsungan hidup penyu.

Untuk mengetahui bagaimana perkembangan konservasi penyu di Papua, The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan Deasy Lontoh. Ia dikenal sebagai “Ibu Penyu dari Timur”.

Kegiatan safari konservasi ke daerah habitat penyu membuka cakrawala tentang penyu dan upaya penyelamatan sang penjaga ekosistem laut ini dari ancaman kepunahan. Asa dari timur untuk penyelamatan penyu menggelora dalam diri Deasy. Baginya, Papua adalah satu-satunya harapan.

Bagaimana awal mula Anda fokus pada konservasi penyu?

Saya punya latar belakang pendidikan serta penelitian pada burung laut. Pada 2009, ada kesempatan melakukan penelitian tentang Penyu Belimbing. Itu menjadi kesempatan saya untuk terlibat penelitian. Jenjang pendidikan S-2, saya mengambil penelitian tentang Penyu Belimbing yang ada di Papua. Setelah selesai melakukan studi, saya kemudian terlibat dalam konservasi pada 2013.

Pada 2017, saya menjadi koordinator program di pantai peneluran penyu belimbing. Sebagai bagian dari upaya konservasi penyu, ada program pemberdayaan masyarakat lokal agar mereka ikut melindungi penyu. Mereka punya peran untuk menjaga penyu di masa depan.

Di Papua sendiri, ada empat dari tujuh penyu yang tersisa di dunia, yaitu penyu belimbing, penyu hijau, penyu lekang, dan penyu sisik.

Mengapa Anda tertarik untuk terlibat dalam konservasi penyu?

Saya melihat populasi penyu terus menurun. Hati saya terketuk untuk menyelamatkan penyu, ada banyak waktu untuk berbuat sesuatu. Saya ingin populasi penyu belimbing tidak hilang.  Apa jadinya dunia kalau kehilangan penyu? Saya percaya kita masih punya waktu untuk melakukan penyelamatan penyu.

Selama melakukan konservasi, apa ada perlawanan dari warga yang mengeksploitasi penyu?

Syukur saya tidak menemukan itu. Saya masuk di era sudah banyak orang sebelum saya yang terlibat dalam konservasi penyu. Semakin sering kita melibatkan masyarakat, mereka semakin sadar bahwa penyu semakin sedikit dan perlu dijaga. Kalau tim di lapangan melihat ada warga yang mengambil telur penyu, kami tak segan meminta bantuan tetua adat (pemilik hak ulayat) untuk menegur yang mencuri telur penyu.

Anda katakan tetua adat, apakah kearifan lokal berpengaruh terhadap konservasi penyu?

Tentu saja. Seperti yang kita tahu, tidak banyak pegawai pemerintah dan penegak hukum hadir di wilayah konservasi. Kita bisa mengandalkan hukum adat untuk menyelamatkan penyu. Ketika masyarakat adat, dalam hal ini tetua, membuat aturan, maka secara umum aturan adat itu akan dipatuhi.

Yang berharga di sini adalah bagaimana pihak peneliti, penggiat konservasi, dan akademisi dapat bekerja sama dengan pemilik ulayat dengan memberikan informasi untuk melindungi sumber daya alam mereka. Mereka juga bisa ikut melindungi penyu. Tentu saja tidak hanya penyu, burung cendrawasih, burung kakatua, dan burung lainnya juga dapat dijaga dengan aturan adat.

Bagaimana kondisi penyu yang ada di Papua dan Indonesia pada umumnya?

Saya bisa berkomentar tentang penyu di Papua Barat, khususnya di wilayah Semenanjung Kepala Burung. Memang enam dari tujuh penyu dunia ada di Indonesia, tetapi statusnya terancam dan kritis. Indonesia bahkan dikenal sebagai negara yang memperdagangkan penyu. Ironis, satu sisi kita kaya dengan sumber daya alam, tapi sisi lain kita menghadapi ancaman kepunahan.

Ancaman menurunnya populasi penyu yang paling utama itu pengambilan penyu dan telurnya secara besar-besaran. Penyu memiliki siklus hidup yang panjang. Mereka tumbuh dan tergolong dewasa dalam 15-40 tahun. Ketika telurnya diambil, maka tidak akan ada generasi baru. Ancaman lain adalah adanya perdagangan ilegal, penyu menjadi tangkapan sampingan, bahkan tidak jarang menjadi tangkapan target utama.

Selain dua faktor tersebut, ada juga penambangan dan perubahan iklim yang mengakibatkan tingginya permukaan laut. Hal itu membuat pulau-pulau peneluran penyu tenggelam. Ancaman lain adalah adanya predator, seperti babi dan anjing yang memakan telur penyu.

Anda tadi sebutkan perdagangan ilegal, bagaimana itu terjadi?

Saya tidak memantau secara pribadi, tapi ada laporan dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang menyebutkan bahwa impor penyu dikirim ke China, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Negara tersebut menjadi negara tujuan perdagangan penyu. Sementara di Indonesia, saya mendapat kabar terdapat pusat penampungan penyu berada di Sumatera dan Kalimantan.

Untuk apa mereka memperdagangkan penyu?

Berbagai macam kepentingan, salah satunya untuk obat dengan mitos penyu punya khasiat tertentu. Telur dan dagingnya sejauh ini dikonsumsi. Selain itu, ada juga untuk perhiasan seperti gelang dan anting.

Tadi Anda katakan beberapa penyu hidup di Papua. Di mana saja lokasi tersebut?

Penyu kan bertelur di daerah tropis dan subtropis. Saya bekerja di Pantai Utara Kepala Burung. Kami mencatat lebih dari 3.000 sarang penyu. Lokasinya ada di Kepulauan Raja Ampat, Nabire, dan Teluk Papua, serta pulau-pulau kecil lainnya di Papua. Jadi, lumayan banyak. Asal ada terumbu karang sehat, kita pasti bertemu penyu.

Anda sampaikan kalau di Papua masih banyak penyu, namun di sisi lain laut Papua berpotensi tercemar sampah karena menjadi salah satu pusaran Samudera Pasifik. Bagaimana tanggapan Anda?

Iya, kita memang memiliki arus ekuator. Arus tersebut membawa sampah yang akhirnya menumpuk di laut. Wilayah Papua masih agak jauh dari arus tersebut. Namun, yang saya amati di kampung-kampung sekitar pantai peneluran penyu, dengan jumlah penduduk yang relatif lebih sedikit, justru lebih banyak sampahnya. Sampah di laut terbawa hingga ke pantai kawasan peneluran penyu.

Apakah itu mengganggu habitat penyu?

Cukup mengganggu, sampah tersebut menghalangi penyu untuk bertelur. Jaring-jaring bekas kerap mengikat tubuh penyu. Ada juga sampah plastik di dalam tubuh penyu. Kalau ada penyu mati, ketika dibedah ada banyak plastik dalam tubuhnya.

Di Papua, pernah ada riset penurunan jumlah penyu?

Di tempat saya bekerja, ada publikasi pada 2013 mengenai penurunan jumlah Penyu Belimbing. Tercatat lebih dari 15 ribu sarang penyu pada 1980-an, saat ini turun drastis dan tersisa sekitar 2000-an saja. Ada penurunan sekitar 80 persen dalam kurun waktu 30 tahun. Saat ini status penyu kritis, rentan, dan terancam punah.  

Ada perbedaan penyu di Samudra Pasifik  dan di luar Samudra Pasifik?

Pasifik merupakan samudra paling besar. Kalau dari Samudra Pasifik saja, kita punya daerah peneluran penyu di berbagai negara, seperti di Australia, Papua New Guinea, dan Jepang. Papua sendiri dikenal sebagai daerah dengan populasi penyu belimbing yang masih tergolong banyak. 

Ada salah satu keunikan dari penyu belimbing yang ada di Papua. Mereka bertelur di Papua, tapi mencari makan di Amerika. Penyu ini butuh 10-12 bulan perjalanan untuk melintasi berbagai negara. Setelah mereka mendapatkan energi cukup dari penjelajahan itu, mereka akan kembali ke Papua untuk bertelur.

Apa langkah konservasi yang dilakukan untuk menjaga penyu di Papua?

Kita mulai dari pengetahuan dulu. Kita harus mengenal penyu dan ancaman bagi populasi mereka. Ketika sudah terbentuk itu, maka akan muncul pemahaman yang kemudian akan membentuk perubahan perilaku. Selain itu, pengawasan dan penegakan hukum yang tegas. Kita perlu menjaga penyu di habitatnya, baik di perairan maupun di lokasi peneluran. Hal itu penting untuk meningkatkan populasi penyu.

Penyu punya fungsi dan peran berbeda-beda. Kalau penyu sisik memberikan ruang agar terumbu karang tetap ada dan tidak kalah berkompetisi dengan spons. Sementara untuk penyu hijau, mereka mampu membuat lamun produktif. Kalau kehilangan penyu belimbing, maka laut kita akan kelebihan ubur-ubur.

Efeknya akan mempengaruhi stok ikan, sementara banyak orang yang bergantung pada ikan sebagai sumber pangan dan penghasilan. Jadi, penyu itu mampu memelihara dan menjaga ekologis laut.  

Apa kerugian laut Indonesia saat penyu punah?

Kerugian mungkin dari sektor perikanan, penyu dan ikan saling berkaitan. Tidak ada lagi yang makan lamun dan ubur-ubur. Ketika kehilangan penyu, stok ikan kita tidak terjaga. Penyu juga kan dianggap punya daya tarik tinggi, kalau tidak ada penyu maka laut kurang menarik menjadi destinasi wisata. Sisi budaya ada kepercayaan, ada kelompok masyarakat yang menganggap penyu sebagai simbol awal mula dunia.

Anda sering bersafari ke wilayah konservasi penyu, apa yang Anda amati?

Di mana-mana populasi penyu menurun, kalau tidak berbuat sesuatu populasinya akan terus turun. Kita akan kehilangan dalang dari ekosistem kita. Tantangannya adalah memulihkan daerah konservasi. Saya dan tim berpikir bagaimana melindungi sarang penyu dari predator.

Selain itu, kami juga berpikir bagaimana agar suhu pasir tidak tinggi sebab sangat berpengaruh pada proses peneluran. Kami mencoba melakukan penelitian untuk merendahkan suhu pasir agar tidak terlalu tinggi. Kami mencoba segala macam cara.

Ada beberapa strategi konservasi yang kami lakukan, seperti melindungi induknya, habitat, maupun tukiknya. Selanjutnya melindungi penyu muda dan dewasa di perairan. Penyu dewasa adalah penyu paling berharga, mereka punya potensi reproduksi tinggi. Dalam satu musim mereka bertelur 4-5 kali, sekali bertelur bisa menghasilkan 80 telur. Mereka menjadi komponen populasi yang berharga.

Bicara pemerintah, program Presiden Jokowi mengedepankan pembangunan di Papua, apakah ada potensi dampak pembangunan infrastruktur dan pariwisata terhadap keberlangsungan penyu?

Presiden Jokowi kan mendorong pembangunan berkelanjutan, di mana pembangunan memastikan generasi berikutnya bisa sejahtera. Ada pembangunan memang di Papua, tetapi pariwisata semestinya bisa dikembangkan dengan bertanggung jawab.

Tidak semua harus datang ke lokasi wisata dalam waktu bersamaan karena itu dapat mengancam kelestarian alam. Kalau alam dijaga, dapat menjadi aset di masa depan karena memberikan penghasilan untuk masyarakat lokal. Perlu ada penyelarasan pembangunan dan perhatian terhadap lingkungan.

Pemerintah perlu melakukan sosialisasi untuk penyelamatan penyu. Peran pemerintah harus bisa membantu pengelolaan penyu di wilayah konservasi, serta melakukan penegakan hukum.

Pengalaman Anda tentang penyu tak diragukan. Bagaimana nasib penyu di Papua dan di Indonesia di masa yang akan datang?

Saya bicara dari Papua saja. Saya optimis kalau kita di Papua masih punya waktu untuk bisa meningkatkan populasi penyu. Ada upaya-upaya konservasi untuk melestarikan penyu. Ini hal positif bagi penyu. Dia kan hewan bermigrasi, mengurangi ancaman yang ada, baik di daerah pakan maupun daerah peneluran akan berdampak positif. Catatannya semua itu harus konsisten dilakukan. Saya optimis masa depan penyu di Papua Barat akan bertambah baik saat ada komitmen kuat dari pemerintah, masyarakat, dan penggiat konservasi.

Kalau Anda ingin berbagi informasi ke anak muda, apa yang bisa mereka lakukan untuk terlibat dalam konservasi penyu?

Saya melihat anak muda adalah orang-orang yang aktif di media sosial. Saya pikir itu menjadi modal baik untuk dapat melakukan eksposur tentang penyu di era media sosial. Itu membantu orang untuk menyelamatkan penyu. Kalau tidak pernah melihat, mungkin tidak akan peduli.

Apakah dunia memberikan perhatian khusus di Papua?

Iya, saya bekerja untuk melestarikan penyu belimbing di Papua. Harapan besar untuk penyu belimbing ada di sini, kalau kita tidak bisa menyelamatkan penyu belimbing yang ada di Papua, kita akan kehilangan penyu itu selamanya. Ada perhatian besar dunia di Papua.

Apa harapan Anda bagi keberlangsungan penyu?

Saya berharap hasil positif dari kerja keras ini 30-40 tahun ke depan. Saya berharap anak saya bisa melihat dan menikmati populasi penyu yang lebih banyak. Saya ingin masa depan yang lebih baik bagi penyu untuk generasi berikutnya.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.