Liputan ini pertama kali terbit di Merdeka.com pada tanggal 2 Juni 2021 dengan judul “Di Balik Terdamparnya Para Raksasa Segara“.

Oleh Siwi Nur Wakhidah

Begitu tiba di Bali, Kamis (20/5) kemarin, saya langsung mendapat kabar seekor paus tampak di bibir Pantai Lebih, Gianyar. Karena kondisi paus masih hidup, nelayan dan warga sekitar membantu sang paus berenang kembali ke laut lepas. Kabar ini saya dapatkan dari ketua BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso lewat pesan WhatsApp.

Permana mendapatkan laporan tersebut dari masyarakat setempat lewat unggahan video di Instagram. Video itu milik akun @riistaay yang sedang berada di lokasi. Ia mengabadikan momen para nelayan dan masyarakat sekitar membantu gergasi laut ini. Begitu dikonfirmasi, pemilik akun ini mengatakan bahwa paus sudah berenang ke arah timur namun enggan menuju ke tengah laut.

Menurut hasil pemantauan tim respons cepat BPSPL Denpasar yang berada di lokasi kejadian, paus tersebut memiliki luka di bagian ekor dan sudah berenang menuju laut. Namun itu bukan akhir. Esok harinya, Jumat (21/5), sekitar pukul 11.46 WITA, tim respons cepat BPSPL mendapat laporan penemuan paus dengan ciri serupa di Pantai Mertasari, Sanur. Sayangnya, paus tersebut ditemukan dalam kondisi mati, terombang-ambing terbawa ombak, berjarak hanya puluhan meter dari bibir pantai.

Akhirnya, dengan bantuan nelayan setempat, paus ditepikan. BPSPL Denpasar dibantu Dinas Perikanan dan Kelautan Denpasar, berkoordinasi dengan masyarakat setempat untuk menguburkan paus yang diketahui berjenis cuvier’s beaked whale alias paus berparuh itu. Sebelum dilakukan penguburan, tim respons cepat dan peneliti dari yayasan non-profit Westerlaken Foundation, Rodney Westerlaken, mengambil sampel. Tak lama berselang, kabar meluas. Bukan cuma masyarakat penasaran saja yang datang, tapi juga tim dokter hewan dan juga bala bantuan dari volunteer yayasan non-profit lainnya.

Garis pembatas dipasang Rodney, agar kerumunan tidak mendekati paus dan mengganggu nekropsi. Proses nekropsi adalah otopsi atau bedah pada hewan, sebagai langkah awal untuk mengetahui penyebab kematian. Tim dokter dari Flying Vet dan Whale Stranding Indonesia (WSI), turut hadir membantu proses nekropsi. Namun sebelum itu, evakuasi tubuh paus memakan waktu yang cukup lama. Keterbatasan alat serta ukuran paus yang mencapai 5.3 meter membuat tim gabungan kewalahan. Setelah terkapar kurang lebih tiga jam di bibir pantai, alat bantu eskavator datang, dan tubuh paus dipindahkan ke area yang lebih kering. Proses nekropsi dilakukan hingga petang menjelang.

Serangkaian proses itu baru awal. Untuk mengetahui penyebab pasti mengapa paus berjenis kelamin betina ini bisa terdampar, akan menjadi cerita yang panjang. Sebuah cerita yang mengantarkan kita pada fakta tentang hidup para gergasi laut yang kini makin terancam. Bukan saja karena alam, tapi juga karena ulah manusia.

Angka keterdamparan paus di Indonesia

Kalau laut diumpamakan jalan tol dan mamalia laut jadi pengemudi, bisa dikatakan lautan Indonesia adalah rest area-nya. Lautan Indonesia merupakan jalur migrasi mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba, hiu paus, dan dugong. Di musim tertentu, mereka akan dan selalu melewati lautan Nusantara, untuk mencari makan, istirahat, sekadar mampir bermain, juga berkembang biak dan mengasuh anak. Ketika para mamalia laut ini berkendara dan hendak mampir ke rest area, mereka mengalami berbagai kejadian. Entah itu kejadian alami atau akibat campur tangan manusia. Salah satu kejadian yang kerap mereka alami dalam perjalanan panjang mengarungi lautan itu adalah terdampar.

Whale Stranding Indonesia (WSI) mencatat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, terhitung dari 2015 hingga awal 2021, ada 360 kasus mamalia laut terdampar di pesisir Indonesia, ada yang mati dan ada juga yang masih hidup. Dari angka itu, 126 di antaranya adalah paus. Dan, Bali menjadi wilayah dengan angka keterdamparan mamalia laut terbanyak di Indonesia, dari 2015 hingga awal 2021. BPSPL Denpasar mencatat telah menangani 43 kasus, dengan 22 di antaranya kasus paus.

Permana mengatakan salah satu faktor yang membuat angka keterdamparan di Bali tinggi ialah semakin banyaknya laporan masuk. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak masyarakat yang melaporkan kejadian terdampar di sekitar mereka.

“Itu terjadi karena kita rajin melaporkan. Tahun 2013/2014, kami intensifkan sosialisasi. Kami lihat ada peningkatan (angka keterdamparan) salah satu faktornya adalah itu. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin menambah banyak database yang ada,” jelas Permana saat dihubungi awal Mei lalu.

Pernyataan sama juga disampaikan oleh founder Whale Stranding Indonesia (WSI), yang juga peneliti cetacea, Putu Liza Mustika. Ia mengatakan, pelaporan menjadi salah satu faktor penting dalam database keterdamparan mamalia laut. Meski menurutnya, angka keterdamparan di Indonesia masih kecil jika dibanding negara maju, seperti Amerika Serikat yang panjang pantainya hampir sama dengan Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan negara yang luas wilayah pesisirnya kecil seperti Filipina dan Taiwan, angka keterdamparan di Indonesia juga masih jauh.

“Itu menurut saya dari faktor observasi. Jadi database kami itu dari pelaporan yang semakin banyak dimasukkan. Bisa jadi kemungkinan semakin tinggi (angka keterdamparan) karena sistem pemantauan lebih bagus,” imbuh peneliti yang akrab dipanggil Icha itu

Penyebab para gergasi terdampar

Di samping semakin meningkatnya kesadaran masyarakat melaporkan kejadian mamalia laut terdampar, ada faktor kesehatan laut yang semakin terpengaruh aktivitas manusia. Ocean Health Index (OHI) mencatat, Indonesia berada di urutan 137 dari 221 negara yang diukur indeks kesehatan lautnya. Secara keseluruhan, Indonesia mendapatkan skor 65 dari 100, enam poin di bawah rata-rata laut sehat. Indeks ini diukur dari data sepuluh komponen, yakni keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, perairan bersih, mata pencaharian dan ekonomi, perlindungan pesisir, kepekaan ruang, pariwisata dan rekreasi, penyediaan pangan, perikanan rakyat dan produk alami.

Tahun 2019, pemerintah bersama OHI mengukur indeks kesehatan laut Bali, yang diberi nama IKL Bali+. Dan hasilnya, Bali mendapatkan poin 51, dengan poin tertinggi di komponen keanekaragaman hayati, 94 poin. Bali memang menjadi rumah bagi lebih dari 935  spesies laut, 38 di antaranya masuk kategori ‘near threatened’ atau terancam punah. Di perairan Bali, ada 22 biota laut yang masuk dalam kategori dilindungi, empat di antaranya adalah paus: bryde’s whale, curvier’s beaked whale, false killer whale, dan sperm whale. Sayangnya, empat jenis paus ini masuk dalam daftar paus yang pernah terdampar di Bali dalam kurun waktu 2015-2021. Dari 22 kasus paus terdampar di Bali, 11 di antaranya adalah keempat jenis ini.

“Ini menjadi alarm kita (untuk menjaga kesehatan laut). Mengingat mereka (mamalia laut) mencari makan, beranak, mengasuh, itu tidak bisa di semua daerah,” imbuh Permana.

Walau butuh banyak usaha untuk mengetahui pasti penyebab paus terdampar, Icha menyebut, semakin banyak riset membuktikan bahwa keterdamparan para raksasa ini ada hubungannya dengan kegiatan-kegiatan manusia. Seperti, sampah dan limbah plastik, kegiatan perikanan dan bycatch, tabrakan kapal, polusi air, dan low solar. Peneliti cetacea yang kini berada di Australia itu mencontohkan beberapa kemungkinan penyebab hewan laut terdampar.

“Salah satu penyebab hewan bisa terdampar karena kelaparan, infeksi di dalam lambungnya. Itu bisa terjadi, salah satunya karena makan plastik. Seperti kejadian beberapa tahun lalu, ada paus sperma yang terdampar di Sulteng, di dalam perutnya ada sandal jepit, ada plastik. Kan plastik itu tidak bisa dicerna, berarti selalu ada di dalam tubuhnya. Kalau terlalu penuh, dia (paus) tidak bisa makan lagi,” jelas Icha.

Selain persoalan sampah, tangkapan sampingan (bycatch) juga menjadi isu yang sedang hangat dibicarakan dunia. Terlebih fakta tentang bycatch diungkap lewat film dokumenter Seaspicary (2021) karya Ali Tabrizi. Cara menangkap ikan di laut yang kurang sustainable, menjadi salah satu faktor terjadinya bycatch. Mamalia laut yang tadinya sehat dan aman di habitat asli mereka, harus berjuang ‘melawan’ jaring dan jangkar kapal para pencari ikan. Entah itu kapal nelayan kecil, atau kapal besar milik perusahaan. Icha mencontohkan, mamalia laut yang tadinya berenang dalam kondisi sehat, secara tidak sengaja terperangkap jaring nelayan. Mirisnya, hewan yang tertangkap ini tidak dilepaskan dengan benar.

“Salah satu contoh hewan itu kena bycatch. Dia terjaring oleh alat tangkap dan kemudian dipotong ekornya, karena nelayan ini melepaskan hewan itu dari jaring. Dan itu akhirnya yang membuat hewan ini bisa saja terdampar,” ujar Icha.

Sayangnya kejadian ini banyak terjadi jauh di laut lepas, dan kasus bycatch belum bisa sepenuhnya terpantau karena tidak semuanya dilaporkan. Icha menyebutnya seperti gunung es. Menurutnya, kontrol dari pihak yang memiliki wewenang berperan penting dalam menangani kegiatan perikanan yang merugikan lingkungan.

Permana mengatakan, pemerintah sudah menerapkan kebijakan untuk mengatasi permasalahan keterdamparan paus ini, salah satunya dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) Cetacea 2016-2020. Untuk ancaman bycatch, dalam strategi rencana itu, disebutkan akan ada penyusunan database hasil tangkapan sampingan, melaksanakan workshop untuk mengupdate data tersebut, melakukan kajian klasifikasi jenis dan teknik penangkapan ikan yang berdampak buruk terhadap cetacea, dan menyusun rekomendasi kebijakan untuk mengurangi bycatch cetacea pada aktivitas penangkapan ikan.

Isu keterdamparan ini, menurut Permana adalah isu global dan menjadi perhatian dunia, mengingat paus memiliki peran penting dalam ekosistem. Dan, Indonesia menjadi salah satu wilayah yang istimewa. Tercatat ada 36 jenis mamalia laut yang ditemukan di Indonesia, 21 jenis paus, 14 jenis lumba-lumba dan 1 jenis dugong. Jumlah ini hampir mencapai separuh jenis mamalia laut yang ditemukan di dunia.

“Artinya hampir setengahnya ditemukan dan didata di Indonesia. Kalau kita tidak bisa mengelola itu dengan baik, kalau sampai satu (jenis) punah atau ditelantarkan, kita bisa mendapat sorotan negatif. Oleh karena itu, setiap tahun kita melakukan perbaikan,” imbuh Permana.

Paus dan kemampuan ‘ajaibnya’

Tak hanya berbadan besar, paus juga memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Jika keberadaan mereka semakin terancam dan makin banyak kasus terdampar, dampaknya akan panjang. Berada di posisi atas rantai makanan di laut, menjadikan paus dan beberapa mamalia laut lain berperan sebagai pemangsa. Para paus ini biasanya memakan ikan yang ukurannya lebih kecil. Apabila jumlah paus terus berkurang, maka akan terjadi over population di tingkat bawahnya, yakni ikan kecil makanan pokok sang raksasa.

“Jadi, rantai makanan itu terpengaruh, karena predatornya hilang, yang nomor dua merajalela, yang nomor tiga hilang, habis. Kebanyakan, yang di bawah-bawah ini digunakan manusia juga. Misalnya, perikanan dan sebagainya,” jelas Icha.

Selain menjadi ‘kunci’ rantai makanan di laut, para gergasi ini masih punya peran penting, yakni menyerap karbondioksida. Dalam jurnal ilmiah Whale and Dolphin Conservation (WDC) yang berjudul Whales Their Future is Our Future, disebut paus berperan sebagai teknisi ekosistem di laut. Mereka akan menyerap dan menyimpan karbon itu dalam tubuh besar mereka hingga mati. Ketika mereka mati wajar dan tenggelam ke dasar laut, karbon itu akan terperangkap hingga tubuh mereka membusuk.

Menurut laporan dari International Monetary Fund (IMF), rata-rata paus yang berukuran besar mampu menyerap 33 ribu kilogram karbon. Angka ini lebih besar dari daya serap karbon satu pohon setahun. Dalam laporan penelitian ilmiah itu, mereka juga menaksir satu ekor paus besar berharga lebih dari USD 2 juta karena peran mereka dalam menangkap karbon, menjaga rantai makanan, dan juga pariwisata.

Tidak berhenti di situ saja, kotoran paus juga memiliki peran penting dalam menyuburkan dan memberi nutrisi biota laut lain. Di dalam tubuh seekor paus terdapat banyak nutrisi baik, yang mereka bawa dan lepaskan ketika mereka naik ke permukaan. Juga saat mereka bermigrasi mengarungi lautan.

Bayangkan jika gergasi laut ini berkurang atau bahkan sampai punah dari muka bumi, apa yang akan terjadi?

Mereka menyerap karbon, kalau misal mereka tidak menyerap karbon, ya bumi akan semakin panas

Putu Liza Mustika

Bumi semakin panas, memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Tentu itu bukan kabar baik bagi manusia, dan semua yang tinggal di bumi. Paus yang memiliki peran besar dalam mengatasi masalah ini, justru makin terancam, dan manusia turut andil di dalamnya.

“Artinya apa, aktivitas manusia itu jangan disepelekan bagi kesehatan laut, bagi mamalia laut ini. Perubahannya dari kita, kerusakan itu kan sumbernya dari kita,” ujar Permana.

Cerita paus berparuh betina yang terdampar di Pantai Mertasari

Kembali ke cerita paus berparuh atau Cuvier’s Beaked Whale betina yang terdampar di Pantai Mertasari. Selang tiga hari usai kejadian, Senin (24/5), saya mencoba menghubungi salah satu dokter hewan yang ikut melakukan nekropsi, Deny Rahmadani dari JAAN – Whale Stranding Indonesia (WSI). Terkait luka luar di bagian ekor paus, Deny mengatakan ada kemungkinan luka tersebut adalah luka trauma akibat gigitan Cookie Cutter Shark. Tetapi, ia bersama tim masih harus memastikan, apakah luka itu sudah ada sebelum paus mati terdampar (antemortem), atau didapatkan setelah mati terdampar (postmortem).

“Paus ini awalnya sudah terdampar dan kemudian dibantu oleh masyarakat pesisir kembali ke laut. Hal itu juga bisa menyebabkan luka-luka, selain karena benturan dengan karang, bebatuan atau benda lainnya,” ujar Deny saat dihubungi lewat pesan WhatsApp.

Dari proses nekropsi, Deny mengungkapkan jika tim menemukan tali pancing di lambung paus tersebut. Namun, ia mengatakan masih perlu menyusun data, melakukan analisis, dan berdiskusi dengan ahli lain untuk mengungkap penyebab definitif kematian paus bernama ilmiah Ziphius cavirostris itu.

“Sampai dengan saat ini kami masih menyusun data terkait dengan kematian paus tersebut… Meskipun ditemukan adanya tali pancing di lambung, kami perlu mengonfirmasi dari hasil lab, apakah hal tersebut menjadi penyebab tunggal atau ada penyebab lain,” imbuhnya.

Cerita paus berparuh ini hanya satu dari 360 kasus mamalia terdampar di Indonesia dari tahun 2015. Penemuan plastik di tubuh paus, seperti tali pancing ini juga bukan kali pertama. Ini menjadi bukti, bahwa kini mereka yang punya peran penting dalam kehidupan, justru makin terancam dengan berbagai kegiatan eksploitatif manusia. Tidak hanya di Bali, tapi bisa jadi berawal dari rumah kita sendiri.

*Liputan ini hasil serial kelas belajar “Journalist Fellowsea” yang didukung oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Yayasan EcoNusa.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.