Solusi yang tepat melestarikan harimau adalah dengan menjaga rumah mereka. Kalau rumahnya dijaga, populasinya juga berkembang dengan baik.

 "Saudaraku sudah punah di Bali dan di Pulau Jawa
 Aku auman terakhir, sebutku Harimau Sumatera
 Duluku makhluk legenda, mereka bahkan sebut aku raja
 Tapi kiniku dimangsa, statusku dalam bahaya
 Hutanku ditebang, dibakar, digusur untuk kelapa sawit
 Nama Tuhan kalian profit, kau buat hutan sakit
 Tanahku gundul, kering, tak subur, lihatlah kalian bandit
 Kalian kejar benefit dan kau buat bumi menjerit".

Penggalan lirik ciptaan Tuan Tigabelas dalam lagu yang berjudul “Last Roar” ini menggambarkan kondisi harimau sumatera yang kini diambang kepunahan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memperkirakan populasi sang ‘kucing besar’ asal Indonesia ini hanya tersisa 400 ekor.

Terdapat sembilan subspesies harimau yang tersebar di seluruh dunia. Tiga di antaranya adalah satwa endemik Indonesia, yaitu harimau bali (Panthera tigris balica), harimau jawa (Panthera tigris sondaica), dan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Harimau bali telah dinyatakan punah pada 1937, sedangkan harimau jawa secara ilmiah telah dinyatakan punah sejak sekitar 1980-an. Harimau sumatera menjadi satu-satunya subspesies harimau Indonesia yang masih bertahan hidup sampai saat ini. Miris, statusnya pun terancam punah.

Dua faktor utama penyebab kepunahan harimau adalah perburuan liar dan deforestasi. Harimau dibunuh untuk diambil kulitnya. Hutan yang menjadi rumah mereka dirusak untuk lahan perkebunan sawit, akasia, dan pulp. Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencatat kawasan hutan di Pulau Sumatera hanya tersisa 11 juta hektare.

Jika laju deforestasi tidak dikendalikan, maka hutan akan musnah dalam 25 tahun mendatang. Harimau sumatera pun akan ikut lenyap.

Upaya penyelamatan harimau sumatera terus dilakukan oleh berbagai pihak demi satu harapan: spesies harimau terakhir yang dimiliki Indonesia tidak punah. Seorang rapper Indonesia, Tuan Tigabelas, ikut menyuarakan kepeduliannya melalui karya musik yang didedikasikan untuk pelestarian harimau sumatera.

Untuk mengetahui bagaimana Upi, sapaan akrabnya, terlibat dalam kampanye perlindungan harimau, The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan musisi berdarah Sumatera ini pada Rabu, 21 Juli 2021.

Bagaimana awal mula Anda tertarik untuk menyuarakan isu Harimau Sumatera?

Awal mulanya tidak ada keinginan untuk mengarah ke spesies harimau sumatera. Kalau di dunia rapper, kita punya alter ego yang menggambarkan siapa diri kita. Karena saya orang Sumatera, jadi memilih binatang paling galak di Sumatera. Harimau adalah predator puncak di hutan.

Tapi ketika ditanya tentang harimau sumatera, saya justru tidak bisa jawab. Akhirnya saya mencoba menggali informasi dengan mengikuti diskusi. Ternyata saya salah, harimau bukan predator puncak. Sesungguhnya predator puncak adalah manusia. Dari situ saya terpanggil untuk menyuarakan harimau terakhir di Indonesia.

Anda membuat lagu berjudul “Last Roar” yang menceritakan kondisi harimau sumatera. Bagaimana awal mula lagu itu tercipta?

Saya memang sering menciptakan lagu yang isinya tentang kritik sosial dan pemerintah. Namun, saat mencoba membuat lagu tentang harimau, saya menggunakan pendekatan lain. Saya ingin harimau yang mengkritik manusia, termasuk saya sendiri.

Saya membayangkan apa yang ingin disampaikan harimau kepada manusia, mendalami karakter sebagai harimau, bagaimana merasakan rumah mereka terbakar, anak mereka ikut terbakar, dan kehidupan mereka lenyap. Saya padukan dengan musik rap culture dengan mengakulturasi musik tradisional. Ini pendekatan baru buat saya, saya tidak ingin melupakan asal saya sebagai orang Sumatera.

Untuk menciptakan musik itu, saya melakukan kerja sama dengan orang Minang yang bisa memainkan musik tradisional, agar nuansa Indonesianya tidak hilang. Selanjutnya, saya bergerak dengan kawan-kawan yang peduli dengan harimau sumatera, salah satunya World Wide Fund for Nature (WWF). Kita berjalan bersama untuk lagu “Last Roar”.

Lagu itu tercipta dari keresahan Anda akan kondisi harimau sumatera?

Saya sadar ketika berbicara tentang harimau sumatera, maka tidak bicara soal satwa semata. Saya bicara tentang hutan, pohon, dan keseimbangan alam. Bicara tentang harimau sama dengan bicara tentang keseimbangan hutan.

Kalau judulnya kenapa memilih “Last Roar”?

Indonesia punya tiga spesies harimau, yaitu harimau jawa, bali, dan sumatera. Namun yang saat ini masih tersisa cuma harimau sumatera. Ini adalah auman terakhir spesies yang dimiliki Indonesia.

Karena terancam punah, saya akan terus bersuara tentang harimau sumatera. Termasuk juga soal pertambangan, perampasan lahan adat, dan berkurangnya lahan petani.

Lagu itu juga menjadi album pertama Tuan Tigabelas yang bicara tentang konservasi. Seberapa sulit membuat lagu yang bertemakan konservasi satwa?

Nggak terlalu susah. Justru yang cukup lama dan agak menyusahkan adalah melakukan risetnya. Saya tidak mau menjadi orang yang asal bicara, tapi tidak tahu isi dan isu lagu yang dibuat. Maka dari itu, saya mulai membaca artikel tentang harimau sumatera, menonton film tentang harimau, sekaligus mencari tahu informasi tentang jumlah penurunan harimau di Indonesia.

Saya sampai harus mengurung diri selama satu bulan hanya untuk mencari data, sebelum memutuskan untuk membuat lirik dan lagunya. Saya membuat lagu sampai tiga kali, saya dengarkan terus berkali-kali. Sampai lagu yang ketiga, baru saya mulai suka.

Saya tidak mau menulis apa yang tidak saya pahami. Pengumpulan data yang paling susah, tidak banyak sumber yang aksesnya terbuka. Padahal informasi tentang harimau sumatera penting untuk bisa dikampanyekan. 

Bagaimana reaksi pendengar saat lagu bercerita harimau sumatera dirilis?

Respon yang datang banyak. Bagi saya, lagu ini luar biasa karena saya melakukan sesuatu untuk harimau sumatera. Lagu ini membuat orang tahu bagaimana keberadaan harimau di Indonesia. Tidak sedikit juga orang yang menyindir dan menyampaikan opini miring.

Lagu “Last Roar” dituding sebagai upaya untuk mendongkrak popularitas saya dalam industri musik. Selain itu, saya juga harus menghadapi konflik dengan para pekerja sawit dan perkebunan.

Mereka mengirimkan pesan melalui direct message Instagram yang isinya cibiran. Jujur, saya tidak mau konfrontasi, saya lebih suka berdiskusi satu sama lain. Sama-sama bicara sesuai kapasitas masing-masing.

Anda kerap terlibat dalam kampanye harimau sumatera, apa tantangan selama melakukan kampanye?

Tantangannya yang tadi saya sebutkan, ada opini miring. Saya dituduh dibayar orang asing untuk terlibat dalam pelestarian harimau sumatera. Selain itu, saya juga berdialektika dengan hidup saya, ada perdebatan dalam diri saya ketika bicara harimau sumatera, hutan, dan perkebunan sawit maupun perkebunan lain.

Sejujurnya, salah satu gejolak batin yang muncul dalam diri saat ini, saya masih menggunakan sawit dalam kehidupan sehari-hari, untuk masak dan mandi. Saya berpikir bagaimana saya bisa berkomitmen dengan apa yang saya sampaikan dalam setiap musik saya. Saya mencoba untuk mengurangi ketergantungan itu.

Sementara di media sosial, banyak yang marah dan mempertanyakan pengetahuan saya tentang sawit. Kalau kampanye kebakaran hutan dan larangan sawit terus dilakukan, bagaimana nasib buruh di sana?

Pertanyaan itu sering saya terima. Saya tidak bisa menghakimi juga, tapi ini risiko menyuarakan kondisi Harimau Sumatera. Bagi saya, kalau ada yang tidak setuju berarti saya sudah tepat sasaran. Kalau tidak ada kontra sama sekali, berarti saya belum menggelitik.

Tuan Tigabelas – Last Roar

Bagi Anda pribadi, apa yang membuat harimau itu istimewa? Apa Anda punya pengalaman menarik tentang harimau? Bisa diceritakan?

Yang menarik itu saya orang Sumatera, ibu saya orang Medan, bapak saya orang Aceh, dan istri saya orang Bengkulu. Saya sering mendengar cerita rakyat tentang harimau. Ternyata dulu manusia dan harimau itu hidup berdampingan dengan manusia. Harimau tidak sekadar binatang, tapi bagian dari budaya dan sejarah manusia sebagai penjaga rimba.

Selain itu, kesempatan saya masuk hutan untuk membuat video clip seperti menjadi perjalanan spiritual. Saya bisa bertemu dengan orang-orang yang berdedikasi untuk harimau sumatera. Saya sadar belum memberikan apa-apa untuk pelestarian harimau yang terancam punah ini. Setelah keluar hutan, perjalanan itu mengubah hidup saya sekarang.

Mengubah hidup?

Saya ketemu ranger WWF yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga harimau dan membersihkan perangkap harimau. Begitu keluar hutan, saya tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan air secukupnya, bahkan berhenti makan daging. Setiap melihat daging di piring, saya selalu teringat nasib harimau. Saya memutuskan untuk berhenti makan daging.

Bicara tentang harimau sumatera, menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terdapat 400 ekor harimau sumatera pada 2021. Bagaimana tanggapan Anda akan hal tersebut?

Jumlah 400 ekor oleh BKSDA hanya estimasi, saya pikir jumlah pastinya jauh lebih sedikit. Setiap tahun kita mendengar kabar penurunan jumlah harimau. Saya khawatir dalam satu dekade ke depan, anak cucu kita tidak bisa lagi melihat harimau sumatera dan hanya bisa melihat satwa ini di YouTube. Itu mungkin akan terjadi.

Menurut Anda apa faktor yang menyebabkan kepunahan Harimau Sumatera?

Kalau baca dan nonton berita, yang selalu disampaikan tentang punahnya harimau sumatera karena perburuan. Kita selalu disuguhkan informasi tentang itu dan pelakunya belum ditangkap. Saya pikir faktor yang luput disampaikan oleh aparat pemerintah dan media adalah alih fungsi lahan yang berdampak pada harimau dan satwa lainnya.

Kalau kita mau menyelamatkan harimau tapi habitatnya habis karena pembukaan lahan, bagaimana pelestarian itu bisa dilakukan? Di mana harimau sumatera tinggal kalau hutannya nggak ada?

Harimau bukan termasuk hewan berkelompok. Kalau semakin banyak harimau, tapi hutannya justru tidak ada, lambat laun populasi harimau semakin berkurang dan mereka perlahan akan punah.

Menurut saya, solusi yang tepat melestarikan harimau adalah dengan menjaga rumah mereka. Jadi, bukan hanya angka saja yang diperhatikan. Kalau rumahnya dijaga, populasinya juga berkembang dengan baik. Saya pikir itu yang seharusnya menjadi fokus pemerintah, penggiat lingkungan, masyarakat, maupun media.

Tempat tinggal harimau sumatera mulai terkikis dengan adanya deforestasi hutan untuk perkebunan sawit, akasia, pulp, dan lainnya. Bagaimana tanggapan Anda?

Kalau kita bicara hukum dan aspek lain, misalnya narkoba kan ada  hukuman matinya. Kenapa perusahaan yang melakukan kebakaran hutan dan lahan tidak pernah dijerat dengan hukuman berat. Menurut saya, kebakaran hutan dan lahan, serta punahnya harimau merupakan kejahatan luar biasa.

Ini adalah genosida yang setiap tahun terjadi. Maka dari itu, pemerintah harus galak dan tegas. Cabut izin usahanya dan terapkan hukuman mati. Sebab bicara tentang hutan itu bicara hak orang banyak, bicara kebutuhan oksigen, bicara hak hewan, dan perlindungan alam. 

Bagaimana upaya pemerintah, penggiat satwa dan lingkungan, hingga masyarakat untuk melestarikan Harimau Sumatera?

Semua pihak bekerja keras untuk pelestarian harimau. Saya yakin semua sudah bergerak, tinggal pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat maupun NGO. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kinerja pemerintah lambat, jadi kolaborasi dibutuhkan untuk pelestarian satwa. Kalau pemerintah punya sumber daya, jangan menutup diri untuk mau bekerja sama. Semua harus berjalan beriringan.

Saya musisi, saya menyuarakan dengan platform musik. Semua orang dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Saya menyumbangkan setiap royalti yang didapat dari penjualan album dan merchandise untuk konservasi harimau. Itu yang bisa saya lakukan.

Hal apa saja yang sudah dicapai selama terlibat dalam kampanye perlindungan harimau?

Mencegah penurunan populasi bukan kapasitas saya, kecuali saya dari KLHK. Saya musisi yang dapat membantu raising awareness. Dampaknya mulai ada, pengguna sosial media mulai mengingat karya musik saya ketika bicara tentang isu harimau. Kesadaran pentingnya harimau sumatera mulai tumbuh.

Mungkin perubahan tidak bisa kita lihat sekarang, tapi di masa depan. Semoga generasi yang akan datang lebih berani bersuara tentang harimau sumatera. Bagi saya, jika hanya satu orang saja yang mau mendengarkan karya musik saya, tapi dia mau bergerak untuk pelestarian harimau, itu menjadi bayaran termahal sebagai musisi.

Bicara anak muda, menurut Anda apakah anak muda banyak yang tahu tentang harimau sumatera?

Mereka mungkin peduli, saya yakin itu. Tinggal bagaimana kita bisa mengemas isunya supaya mudah dipahami dan konvensional. Kalau bentuknya dari pemerintah, mereka tidak tertarik karena tidak dikemas dengan pop culture.

Bagaimana mengajak mereka terlibat langsung dalam kampanye terhadap pelestarian Harimau Sumatera?

Hal paling sederhana adalah berdonasi dan menyediakan informasi tentang harimau. Saya juga membuat platform yang mendorong orang membeli merchandise, jadi mereka ikut menyumbang. Untuk ikut melestarikan harimau, caranya cukup mudah. Bisa juga dengan mengikuti webinar tentang harimau.

Eh, kami penasaran, kenapa nama karir yang digunakan Tuan Tigabelas. Ceritanya seperti apa?

Tuan itu berarti laki, sementara Tigabelas merupakan tanggal lahir saya. Selain itu, saya ingin mengubah image angka tiga belas yang dianggap momok menakutkan dan pembawa sial. Saya pakai nama Tuan Tigabelas untuk mengubah pandangan itu menjadi sosok yang menginspirasi.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.