Berkendara roda dua melewati jalan tanah sempit berumput di antara perkebunan kelapa sawit berbuah pasir, pandangan menjadi sempit tertutup oleh pokok-pokoknya. Beberapa daun runcing yang menjorok ke jalan mampu melukai bila tidak waspada saat melintas. 

Beberapa menit berjalan, pandangan pun mulai terasa luas saat memasuki areal perkebunan jeruk. Pohon jeruk tumbuh subur di tanah berkontur, bak oase di antara rimbunan kelapa sawit. Tak banyak yang tahu ada praktik baik penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di sini.

Perkebunan jeruk ini berada persis di pinggir kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Letaknya seperti tersembunyi di ribuan pohon sawit dan hutan. Posisinya tidak jauh dari Kantor Seksi I TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, sekitar 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. 

Ratusan pohon jeruk ditanam rapi pada blok-blok lahan yang masing-masing luasnya 5×6 meter. Di sebelah kanan jalan setapak, buah jeruk sudah banyak bergelayut di dahannya. Ada yang mulai menguning, ada pula yang masih hijau dengan ukuran lebih kecil. Di kiri jalan, tanaman jeruknya sedang belajar berbuah. Hanya ada beberapa jeruk yang mengintip dari rimbun dedaunan.

Abdurrahman (61 tahun) adalah pemilik kebun jeruk yang sudah berbuah dan menghasilkan pundi-pundi rupiah tersebut. Sejak tahun 2014, bersama istri, Rahman, begitu ia disapa oleh petani-petani jeruk di sana, merintis bertanam jeruk manis di wilayah yang merupakan daerah lintasan gajah sumatera. TNTN adalah salah satu kantong gajah dan tempat konservasi gajah sumatera di Riau.

 Sebelumnya, tanah yang dia beli tahun 1997 itu ditanami sawit, sebagaimana lazimnya diusahakan masyarakat di kampung tersebut. Sayangnya, tanaman sawitnya itu tidak pernah bisa hidup dan tumbuh dengan baik lantaran diganggu gajah.

Alhasil bukan keuntungan yang ia peroleh tetapi justru kerugian. Kerja kerasnya membuka kebun dengan bantuan alat sederhana menjadi sia-sia. Gajah sering masuk ke kebun mencabut dan memakan tanaman sawit milik Rahman.

“Setelah gagal bertanam sawit di tahun 2008 itu, kemudian saya mencoba menanam jeruk. Untuk tahap awal saya menanam di lahan seluas 2 hektare (ha). Tanaman saya tumbuh baik dan tak pernah diganggu gajah. Ternyata gajah tidak suka dengan tanaman jeruk ini. Kalaupun ada kelompok gajah masuk ke kebun, mereka tidak merusaknya,” kata Rahman yang kini sudah memiliki 3 ha kebun jeruk.

Rahman tinggal cukup jauh dari kebun dan Desa Lubuk Kembang Bunga, di Desa Lubuk Kembang Sari SP 5. Setiap hari ia bersama istri pulang pergi ke kebun menggunakan sepeda motor.

Namun sejak tiga tahun belakangan, mereka sudah tinggal di kebun lantaran tanaman jeruknya sudah berbuah dan perlu dijaga. Rahman membangun sebuah pondok sederhana dari papan dan kayu di pinggir kebun dekat jalan setapak yang mereka rintis. 

Hal yang tampak unik di pondok sederhana itu adalah sumber energi yang digunakan. Rahman memanfaatkan energi surya untuk penerangan dan kebutuhan di kebun. Di samping rumah, Rahman juga memasang sebuah antena parabola agar bisa mendapatkan siaran televisi.

Dengan energi listrik dari panel surya miliknya, ayah 5 anak ini tidak pernah kesulitan mengecas alat semprot hama yang biasa ia gunakan untuk merawat tanaman jeruk.

Saya memilih memakai panel surya agar istri tidak sulit menghidupkan lampu kalau saya tidak di rumah. Karena mesin diesel agak susah menghidupkannya. Perlu tenaga untuk mengengkol mesin sampai bisa hidup.

Abdurrahman, pekebun jeruk

Ia juga merasa lebih hemat menggunakan panel surya. “Kalau pakai diesel, setiap hari saya harus beli bahan bakar minyak  (BBM) yang tempatnya juga jauh dari kebun. Dengan panel surya, kita tidak perlu beli apa-apa lagi,” katanya.

Tiga tahun lalu Rahman membeli panel surya kapasitas 100 watt seharga 2 juta rupiah di Toko Haji Iskandari Pasar Ukui, pasar kecamatan. Harga Itu belum termasuk baterai, kabel, dan lampu khusus energi surya.  

“Kalau sekarang harganya sudah lebih murah. Teman saya beli panel surya dengan kapasitas sama hanya 950 ribu rupiah. Kalau lengkap dengan baterainya mungkin hanya sekitar 2,5 juta rupiah,” jelas Rahman yang mendapat ide menggunakan panel surya dari melihat orang menggunakannya saat listrik PLN belum masuk ke desa-desa.

Saat memasang jaringan listrik di pondok, Rahman dibantu oleh anaknya yang sudah duduk di perguruan tinggi.

Selain pondoknya, Rahman juga menggunakan panel surya di rumah walet yang ia bangun 1 tahun lalu dari hasil keuntungan panen jeruk. Untuk menghidupkan mesin bunyi-bunyian secara nonstop di rumah walet tersebut, sangat aman dengan listrik tenaga surya. 

Tidak pernah terjadi kerusakan ataupun listrik mati adalah kemudahan lain memanfaatkan energi surya. Tidak ada perawatan khusus. Hanya perlu membersihkan panel surya enam bulan sekali. Hanya saja kemampuan baterainya yang memang semakin lama akan semakin menurun. 

“Kalau baterainya bagus, bisa bertahan lebih dari empat tahun. Saya baru ganti baterai setelah 3 tahun. Baterai yang sebelumnya tidak bagus kualitasnya karena tidak asli. Bahkan kalau mau, pakai baterai mobil juga bisa. Tidak sulit kok,” jelas petani tamatan SMA tersebut.

Tidak hanya jeruk, Rahman mulai menanam pohon durian yang juga punya nilai ekonomi tinggi. Selain itu, ia ingin lahannya memiliki berbagai macam tanaman. Bahkan ia juga berternak bebek untuk dijual telurnya.

Kini kebunnya tidak hanya didatangi oleh para pedagang jeruk saja, tetapi sudah dikunjungi orang-orang yang ingin melihat kebun jeruk, memetiknya, dan menikmatinya langsung dari pohon.

“Kalau makan di kebun gratis. Tetapi kalau dibawa pulang hasil petik sendiri, harga jualnya Rp12.000 per kg,” ucap Rahman.

Saat ini Rahman telah memetik hasil dari kerja kerasnya. Sejak dua tahun belakangan, ia sudah merasakan manisnya panen raya. Ada dua kali panen raya dalam setahun, biasanya di pertengahan dan di akhir tahun. 

Saat panen raya, kebun jeruknya bisa menghasilkan 15 ton jeruk dengan harga jual Rp8.000 per kg. Sekali panen raya, Rahman mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga Rp120 juta dari 600 pokok jeruknya. Itu belum termasuk panen kecil yang dilakukan setiap dua hari sekali. 

“Menurut saya, lebih menguntungkan berkebun jeruk daripada sawit. Hasil yang saya peroleh dari 2 ha kebun jeruk, setara dengan 4 ha kebun sawit,” ungkap Rahman.

Keberhasilan Rahman tersebut mulai diikuti beberapa petani lain. Dari awalnya hanya ada 2 ha kebun jeruk di sana, kini sudah hampir 20 ha kebun jeruk. Rahman tidak hanya menginspirasi bertanam jeruk, tetapi juga dalam memanfaatkan EBT di kalangan petani.

Kini sudah 6 orang yang menggunakan panel surya di kebun mereka.

Salah satunya adalah pasangan muda, Anton dan Mariati. Duduk berbincang di balai-balai papan pondok milik pasangan ini terasa sungguh nyaman, meskipun siang itu matahari di luar cukup terik. Ditemani jeruk manis yang baru dipetik dari pohonnya, memunculkan perasaan tenang dan damai.

Pondok milik Anton sederhana, serupa dengan pondok kebanyakan di kebun jeruk, berbentuk panggung terbuat dari kayu dan hanya memiliki ruang tamu, dapur dan satu kamar tidur, tanpa perabotan.

Meskipun sederhana, Anton senang tidak kesulitan mengecas alat semprot tanaman dan ponsel sederhana miliknya di pondok itu. Bahkan saat listrik PLN masih sering hidup mati, mereka memiliki cukup daya untuk kebutuhan listrik di siang dan malam hari. 

“Kami belajar dari Uwak Rahman. Termasuk pakai panel surya ini. Sebelumnya kami memakai lampu minyak,” kata Anton yang juga bekerja sebagai supir.

 “Kata Wak Rahman, panel surya ini lebih mudah digunakan dan tidak perlu membeli BBM lagi. Kalau dihitung-hitung memang lebih irit,” kata Anton.

Anton baru memasang panel surya sekitar 8 bulan lalu. Ia membeli secara kredit sekitar 2,5 juta rupiah. Harga itu sudah termasuk baterai 100 Ampere.

“Kalau beli kontan mungkin jauh lebih murah. Saya tidak punya cukup uang untuk membeli secara kontan. Kebun jeruk kami belum menghasilkan, baru berusia 2 tahun dan masih belajar berbuah,” terang ayah satu anak ini. 

Ramah lingkungan

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN), Heru Sutmantoro sudah mengetahui keberadaan kebun jeruk di pinggir kawasan TNTN tersebut. Katanya, kebun itu berada di luar kawasan. Warga setempat menyebutnya sebagai kawasan penyangga.

Heru menyambut baik masyarakat yang mulai meninggalkan sawit dan beralih ke tanaman lain yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di TNTN, masyarakat diimbau untuk tetap berkebun ramah lingkungan. 

“Berangsur-angsur kita akan memberikan contoh bahwa ada komoditas lain yang lebih baik dari sawit. Bertanam sawit perlu perlakuan khusus dan perlu banyak pupuk kimia yang memiliki nilai kerusakan lingkungan tinggi. Menanam tanaman hutan seperti durian, jengkol, jahe, kencur, porang, dan lain sebagainya juga punya nilai ekonomi tinggi. Budaya meniru masyarakat kita masih tinggi, perlu sebuah contoh keberhasilan agar mereka mau beralih,” terang Heru.

Menurut Dosen Fakutas Pertanian Universitas Riau, Delfi Roza, tanaman buah-buahan memang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit. Sawit membutuhkan air yang banyak. Pada sawit berumur tua dengan tajuk yang sudah menutup, tanah di sekitarnya menjadi sangat padat.  

“Kalau tanaman buah-buahan akan memperbaiki tekstur tanah,” jelas Delfi.

TNTN adalah kawasan hutan produksi yang ditetapkan menjadi hutan konservasi pada Tahun 2014. Sebelumnya kawasan tersebut dikelola oleh beberapa perusahaan pemegang izin konsesi. Diantaranya adalah PT Dwi Marta, Inhutani IV dan PT Nanjak Makmur. Dari luas 81.793 Ha pada awal penetapan, kini hutan tersisa di TNTN hanya tinggal 14.000 ha.

“Hutan tersisa itu harus kita jaga dari bahaya perambahan dan Karhutla yang selama ini menjadi ancaman utama TNTN,” kata Heru. 

Sebagai habitat satwa dilindungi, yaitu gajah sumatera dan harimau sumatera, keberadaan hutan TNTN sangat penting untuk hidup mereka. Tidak hanya sebagai tempat hidup, mencari makan dan berkembang biak, hutan dengan keanekaragaman hayatinya juga merupakan rumah sakit dan apotek bagi semua satwa.

“Bila hutan terjaga, keanekaragaman hayati dan kualitas lingkungan akan ikut terjaga,” terang sarjana kehutanan ini.

Pemanfaatan PLTS Atap

Tinggal dan berkebun di dekat taman nasional sudah pasti tidak akan pernah mendapatkan aliran listrik PLN. Jaringan PLN tidak dibolehkan terpasang di sana. Pemanfaatan sumber energi alternatif seperti Matahari atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah solusi bagi masyarakat.

Demikian juga bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil lain yang belum mendapatkan listrik. Jumlahnya yang melimpah dan energi bersih yang dihasilkan, baik untuk lingkungan karena mampu mengurangi jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Kebijakan Provinsi Riau terhadap pemanfaatan EBT dan pembangunan rendah karbon tertuang dalam konsep pembangunan Riau Hijau. Sebuah konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan yang ada dalam Peraturan Gubernur No.9 Tahun 2021.

Kita sudah membangun PLTS terpusat di Kabupaten Inderagiri Hilir untuk masyarakat yang tinggal di wilayah sulit jangkauan PLN. Tahun ini dengan dana APBN 2020, kita juga membangun 11 titik PLTS atap on grid tanpa baterai di sejumlah gedung milik pemerintahan di Pekanbaru. Termasuk di kantor ini.

Zulkarnain, Kepala Bidang Energi, Energi Terbarukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau

Bantuan 11 PLTS tersebut antara lain di Kantor Dinas ESDM, Masjid Akramunas Universitas Riau, gedung perpustakaan daerah, kantor gubernur, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Riau, kantor Bappeda, Bapenda, BPKAD, BKD, SMAN 1 dan SMU 8. Kapasitasnya beragam mulai dari 25 KWP hingga 100 KWP.

Dinas ESDM mendapatkan panel surya berkapasitas 25 KWP. Harga 1 KWP atau 1000 Watt senilai Rp26 juta, hingga total biaya untuk 25 KWP mencapai Rp650 juta. Masa pemakaiannya hingga 20 tahun tanpa perlu biaya lain.

Perawatannya pun hanya berupa pembersihan panel dari debu dan kotoran. Posisi penempatan panel haruslah di tempat terbuka, tidak boleh ada bayangan yang menghalangi tangkapan cell surya. 

Energi listrik yang dihasilkan tersebut, digunakan Dinas ESDM Riau untuk pemakaian listrik pada siang hari saja. “Dari tagihan 14 juta rupiah setiap bulan, saat ini kita hanya membayar 8 juta rupiah saja. Bisa hemat sekitar 40 persen,” terang Zulkarnain.

“Di APBD Tahun 2021, kita telah menganggarkan pemasangan 3 titik lagi. Yaitu di Kantor DPRD Riau, kediaman gubernur dan Rumah Sakit Petala Bumi,” lanjutnya.  

Agar lebih banyak lagi yang menggunakan energi bersih, pemerintah Provinsi Riau telah memberi himbauan agar setiap gedung pemerintahan dan swasta menggunakan PLTS atap. Kebijakan itu akan didukung oleh Peraturan Daerah (Perda) yang sedang dalam proses pembahasan.

Secara nasional sudah ada kebijakan mengenai hal tersebut yaitu Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT PLN. Pengguna panel surya dengan sistem hybrid atau on-grid dapat menjual kelebihan produksi listrik ke PLN. 

Meskipun PLN hanya membeli listrik hasil panel surya sebesar 65 persen dari tarif listrik per kWh, jumlah itu sudah dinilai mampu menekan angka tagihan listrik pelanggan. Pelanggan PLN hanya dapat memasang panel surya dengan kapasitas maksimal setara 90 persen daya listrik terpasang.

Menurut Humas PLN wilayah Riau dan Kepulauan Riau, implementasi soal pembelian kelebihan arus dari PLTS rooftop di Riau masih belum berjalan. Sejauh ini masih dalam tahap uji coba. 

“Petunjuknya sudah ada. Sejauh ini baru pada taraf uji coba,” kata Tajuddin saat dihubungi via telepon.

Riau memiliki potensi EBT cukup besar mencapai 5.950 MW, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Baru 14,27 persen saja yang sudah terpanfaatkan.

Berikut Potensi EBT Provinsi Riau Tahun 2020:

Kampus Teknik Universitas Islam Riau (UIR) adalah salah satu institusi yang sudah memanfaatkan EBT sejak 2011 lalu. Khusus Gedung C berlantai 3 yang memiliki 12 kelas dan aula, listriknya dipasok dari panel surya berkapasitas 16.000 KWH.

Jumlah tersebut mampu menghidupkan semua lampu di Gedung C, kipas angin, infokus, dan laptop dosen. 

Biaya pengadaan 56 panel surya dengan inverter dan 48 baterai  saat itu mencapai Rp700 juta. Pada Tahun 2014 UIR mendapatkan tambahan 15 panel surya lagi  dari bantuan Balitbang Provinsi Riau.

Indonesia sebagai negara khatulistiwa memiliki sumber daya panas matahari yang berlimpah. Puncak panas matahari setiap hari ada di rentang waktu pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB. Jadi ada waktu 6 jam setiap harinya untuk mengisi baterai. Panas itu sudah mampu mengisi penuh baterai yang ada. 

UIR telah menjadi rujukan pemanfaatan teknologi panel surya di Riau dan tempat belajar banyak kalangan. Bahkan telah mendapat Penghargaan Efisiensi Energi Nasional tahun 2014, kategori Prakarsa Kelompok Masyarakat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.

“Kita membangun PLTS sebagai komitmen lembaga pendidikan mengurangi emisi GRK dan menjadi tempat belajar memanfaatkan energi matahari yang berlimpah,” kata Mursidah, doktor di bidang energi surya yang juga ikut dalam pengadaan panel surya di kampusnya.

Energi surya bisa dimanfaatkan secara masif. Semua itu tergantung dari komitmen pemerintah.

Khusus di daerah terpencil, energi surya adalah solusi kebutuhan akan listrik masyarakat. Namun untuk pemasangan secara mandiri, kendalanya ada pada biaya investasi awal. Tidak semua memiliki kemampuan itu.

Mursidah, Universitas Islam Riau (UIR)

“Untuk jangka panjang, energi surya cukup menguntungkan. Zero maintenance,” katanya.

Dijelaskan Ketua Jurusan Teknik Mesin UIR, Jhonni Rahman, berbagai macam pembiayaan sudah banyak ditawarkan untuk pemasangan panel surya. Ada dengan sistem rental selama 20 tahun. Setelah 20 tahun, semua akan menjadi milik pengguna.

“Harga panel surya saat ini sudah jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun lalu. Tawaran pembiayaan untuk memasangnya juga sangat banyak. Bila semakin banyak yang menggunakan energi bersih, maka semakin terjaga lingkungan kita,” jelas Jhonni.

Riau hijau

Saat ini Riau menjadi salah satu provinsi pilot atau percontohan perencanaan pembangunan rendah karbon di Indonesia. Upaya ini dilakukan sinergi dengan kebijakan Riau Hijau yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Riau Tahun 2019-2024. 

Ada tiga rencana aksi Riau Hijau Tahun 2020-2024. Aksi pertama meningkatkan pengendalian kerusakan lingkungan dan pencemaran lingkungan hidup. Salah satu yang akan dilakukan pada aksi ini adalah pencegahan Karhutla.

Aksi kedua yaitu meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya alam (SDA). Dan aksi ketiga, meningkatkan Bauran Energi dari sumber daya energi terbarukan (EBT).

“Di aksi ketiga inilah kita mendorong pengembangan EBT di lingkup perkantoran Pemerintah Provinsi Riau maupun industri,” kata Kasubbid Lingkungan Hidup Kehutanan Pertanian Kelautan dan Perikanan Bappedalitbang Provinsi Riau, Rizky Rachmawati.

Di Tahun 2014-2015, Provinsi Riau menjadi daerah penyumbang emisi terbesar di Indonesia dari sektor kehutanan. Karhutla yang terjadi cukup luas saat itu hingga menyumbang emisi cukup banyak. 

“Riau selalu aktif melaporkan penurunan emisi setiap tahunnya ke Bappenas. Indek emisi GRK ini masuk dalam penilaian kinerja gubernur,” lanjutnya. 

Capaian penurunan emisi GRK Riau dari aksi mitigasi Tahun 2010-2019 sebesar 204,6 juta ton CO2e. ”Angka tersebut dari hasil upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Riau,” tegas Rizky. 

Berikut data status emisi GRK Provinsi Riau Tahun 2013-2020:

Dari grafik di atas menunjukan nilai emisi GRK Provinsi Riau fluktuatif namun cenderung menurun. Tahun 2014 angkanya cukup menonjol karena pada saat itu terjadi karhutla cukup besar.

“Angka emisi GRK tertinggi kita ada pada Tahun 2014. Setelah itu ada kecenderungan menurun. Memang sektor kehutanan masih menjadi penyumbang terbesar emisi Riau setiap tahunnya,” jelas Kabid Perubahan Iklim Dinas LHK Provinsi Riau, Setyo Widodo. 

Data Emisi GRK Nasional Tahun 2013-2018:

Hasil perhitungan inventarisasi GRK nasional menunjukkan tingkat emisi GRK juga fluktuatif. Terbesar ada pada tahun 2015. Setelahnya menurun dan kembali meningkat di tahun 2017 dan 2018. Namun di tahun 2020, nilainya turun cukup tajam.

Secara nasional, sektor kehutanan dan kebakaran gambut juga menjadi penyumbang emisi terbesar setiap tahunnya. Dalam rentang waktu 5 tahun terakhir, emisi tertinggi ada di Tahun 2018. Sektor kehutanan dan kebakaran gambut menyumbang 44%, diikuti oleh sektor energi 36%, limbah 8%, pertanian 8%, dan IPPU 4%.

Dalam dokumen Laporan inventarisasi GRK dan MPV tahun 2019 disebutkan bahwa kontribusi penurunan emisi secara nasional pada tahun 2018 terhadap target yang ditetapkan dalam NDC tahun 2030 adalah sebesar 7,85% dari target penurunan emisi sebesar 834 Juta Ton CO2e atau 29% dari BAU (Bussines as Usual).

Upaya kecil Rahman, seorang petani sederhana beradaptasi dengan keadaan lingkungan, telah memberi kontribusi bagi penurunan emisi GRK. Walupun kontrusinya sangat kecil, bila diikuti oleh Rahman-Rahman lain secara masif, kontribusi yang sangat kecil itu tentu akan membesar dan berdampak nyata pada lingkungan, krisis energi dan krisis iklim. *

Liputan ini didukung oleh Program Fellowship Peliputan Perubahan Iklim “ Menuju COP25 di Glasgow: Memperkuat Aksi dan Ambisi Iklim Indonesia” yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia dan lebih dulu terbit di Independen.id pada tanggal 29 Agustus 2021 dan 30 Agustus 2021

About the writer
Winahyu Dwi Utami

Winahyu Dwi Utami

Winahyu is a journalist from and based in Pekanbaru City, Riau Islands. After 14 years working for various local media outlets, Winahyu decided to become a freelancer in 2017. She has since reported on...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.