Posted inLiputan khusus / Keberlanjutan

Menjaga mata air kehidupan Kampar untuk masa depan anak cucu

Pemulihan DAS Kampar yang sudah kritis memerlukan peran serta seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, organisasi non-pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Gemericik air mengalir dari pancuran bambu dengan lubang sebesar tiga jari orang dewasa. Alirannya tenang tapi tidak pernah tersendat. Dari pancuran itu, air mengalir ke sepanjang bambu yang dibelah jadi dua bagian, letaknya lebih rendah dari pancuran. Itulah air dari Sungai Mesiok, anak sungai selebar sekitar enam meter yang bermuara ke Sungai Kampar, sungai terbesar kedua di Provinsi Riau. Tiga bulan sekali sejak empat tahun silam, Muharlis (50) memanfaatkan air Sungai Mesiok untuk menyuling sereh wangi di gubuk pinggir perkebunannya.

Terletak di Dusun V, Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, jarak kebun Muharlis dengan Sungai Mesiok tidak sampai satu kilometer. Ia memasang pipa untuk mengalirkan air dari sungai hingga ke gubuk di pinggir perkebunannya. Bagi Muharlis, air sungai itu adalah sumber kehidupan.

“Dari dulu pakai air sungai ini, buat nyuling sereh wangi. Jadi sangat tergantung,” tutur Ketua Kelompok Tani Desa Tanjung itu, Selasa (14/12/2021) siang.

Di kawasan tersebut, total lahan perkebunan Muharlis mencapai tiga hektare. Satu hektare ditanami buah jeruk dan sudah tiga tahun ini tak pernah berhenti panen. Sementara dua hektare sisanya ditanami durian, mangga, dan sereh wangi.

Sekilas, perkebunan Muharlis dan petani lain di kawasan itu tampak tak bermasalah. Namun, saat diperhatikan lebih saksama, di sekitarnya masih banyak lahan yang belum dikelola secara optimal. Semak belukar merajalela di atasnya. Hasil studi lapangan yang dilakukan ahli hidrologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada tahun 2017 menyebut areal perkebunan di desa tertua di Kabupaten Kampar itu termasuk Daerah Tangkapan Air (DTA) kawasan tengah Sungai Kampar yang perlu direhabilitasi.

“Kebun-kebun itu dibiarkan saja, tumbuh rumput tinggi-tinggi, semak-semak,” ujar Muharlis yang siang itu mengenakan topi warna hitam dengan kombinasi abu-abu.

Gotong-royong merehabilitasi lahan

Setahun setelah studi lapangan yang dilakukan ahli hidrologi LIPI, pada tahun 2018 area perkebunan milik Muharlis dan sekitar 60 petani lain di sekitar Sungai Mesiok, Desa Tanjung dengan luas mencapai 50 hektare menjadi lokasi pelaksanaan program rehabilitasi bertajuk HSBC Water Programme.

“Kami kumpulkan tokoh-tokoh desa untuk sosialisasi mengenai rehabilitasi. Kami tanyakan ke para petani karena itu lahan milik mereka, mereka antusias,” cerita Kepala Desa Tanjung, Sutomi (41), saat dihubungi Merdeka melalui telepon, Rabu (22/12).

Para petani melakukan empat kali pertemuan untuk membahas pelaksanaan rehabilitasi lahan. Selanjutnya, didampingi organisasi lingkungan non-pemerintah, mereka menyiapkan berbagai keperluan. Mulai mencari bibit hingga membuat pagar mengelilingi kawasan rehabilitasi.

Beberapa petani Desa Tanjung mengungkapkan, tidak adanya pagar membuat tanaman di perkebunan mereka yang berdampingan dengan peternakan kerbau dan berbatasan langsung dengan hutan sering gagal panen.

“Sebelum ada pagar, tanaman-tanaman ini dimakan ternak, kerbau. Selain itu, babi-babi turun dari hutan, makan apa saja di kebun, habis,” ungkap salah seorang petani, Jufrianto, sembari membuka palang yang menjadi pintu utama kawasan rehabilitasi, Selasa (14/12) siang.

Salah satu pendamping program, Doni Susanto (28) menjelaskan tanaman yang ditanam di lokasi rehabilitasi adalah jenis tanaman kayu keras.

“Para petani milih sendiri mau nanam apa. Mereka kemudian sepakat menanam durian, manggis, karet,” terangnya.

Para petani menanam setidaknya 23 ribu bibit tanaman manggis, karet, durian, aren, dan matoa secara gotong-royong. Saat Merdeka mengunjungi kawasan rehabilitasi tersebut pada pertengahan Desember 2021, pohon-pohon sudah setinggi tubuh orang dewasa, bahkan ada yang lebih tinggi lagi. Sementara itu, mengingat usianya yang baru tiga tahun, lingkar batang pohon-pohon tersebut masih relatif kecil.

Kepala Desa Tanjung menceritakan, pelaksanaan rehabilitasi di wilayah setempat disambut antusias oleh para petani lantaran ada pendampingan intensif dari organisasi lingkungan non-pemerintah.

“Memberi edukasi bagaimana merawat pohon yang sudah ditanam. Perkembangan pohonnya juga dipantau, jadi tidak habis menanam terus selesai,” jelasnya.

Freshwater Project Leader WWF Indonesia, Agus Haryanto mengungkapkan, pihaknya menggunakan teknologi geotag untuk memantau pertumbuhan pohon di kawasan rehabilitasi. Melalui teknologi geotag, atau pelabelan pohon dengan garis lintang dan koordinat lokasi yang tepat, pohon-pohon yang telah ditanam dapat dimonitor secara real time.

Setiap enam bulan sekali, pendamping program di lapangan memotret pohon satu persatu. Pengambilan foto dilakukan dengan menggunakan telepon seluler yang memiliki fasilitas GPS, kamera, dan 3.5 G HSDPA yang terintegrasi dengan koneksi internet.

Selanjutnya foto pohon akan diberi label geotags dan diunggah ke laman program. Laman ini bisa diakses tanpa syarat oleh siapapun. Sementara ini, laman tersebut hanya bisa menayangkan informasi tinggi dan diameter pohon.

Ke depan, kata Agus, pihaknya berencana mengembangkan teknologi geotag agar bisa menunjukkan informasi secara lebih komprehensif. Di antaranya mengenai tingkat kontribusi pohon-pohon yang telah ditanam sebagai tutupan hutan dan kontribusi pohon-pohon tersebut mengurangi potensi erosi.

“Jadi kita tahu apa yang sudah dilakukan berdampak sejauh mana pada lingkungan. Ke depan, harapannya bisa dikembangkan ke arah sana sih,” jelasnya.

Sementara itu, para petani yang turut merehabilitasi lahan sadar betul pohon-pohon yang mereka tanam sejak Agustus 2018 lalu itu belum memberikan dampak bagi mereka. Namun mereka yakin pohon-pohon tersebut bakal berdampak baik di masa depan.

“Penghasilan sekarang memang belum juga dapat karena pohon masih kecil. Tapi nanti kalau sudah besar, durian ini berbuah, manggis berbuah, itulah kami untung,” ungkap Jufrianto.

Selain itu, imbuh Jufrianto, kalau pohon-pohon di lahan yang direhabilitasi sudah besar, akarnya akan menyerap air hujan.

Peluang adanya keuntungan ekonomi itulah yang menjadi pintu masuk memberdayakan para petani Desa Tanjung untuk melakukan rehabilitasi demi tujuan lebih besar, menjaga kelestarian lingkungan DTA Sungai Kampar. Kepada Merdeka, Muharlis mengaku tak paham hubungan menanam pohon dengan permasalahan lingkungan. Para aktivis lingkungan yang mendampingi petani Desa Tanjung pun tak menampik hal itu.

“Enggak semua masyarakat langsung paham saat kami jelaskan tentang tujuan rehabilitasi untuk menyelamatkan lingkungan. Makanya, kami cari pohon yang bisa menguntungkan secara ekonomi sekaligus berkontribusi menjaga sumber air,” jelas Doni yang juga Ketua Laboratorium Air Sungai Subayang di Kabupaten Kampar.

Meski demikian, Muharlis begitu yakin, menanam pohon hari ini bakal berdampak pada kondisi lingkungan puluhan tahun mendatang. Bapak tiga anak itu toh sudah merasakan dampak baik keberadaan pohon bagi terjaganya mata air Sungai Mesiok.

“Pinggir-pinggir sungai (Mesiok) ini kan baru-baru aja hijau, baru setahun belakangan pohon-pohon mulai agak besar. Sekarang musim kemarau pun airnya tetap banyak,” jelasnya sembari menunjuk air yang mengalir dari pancuran bambu di gubuk pinggir perkebunannya.

Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, kata Muharlis, setiap musim kemarau tiba, debit air Sungai Mesiok surut cukup drastis. Ditunjukkan dengan sedikitnya air yang mengalir dari pancuran bambu miliknya.

Pohon-pohon di pinggir Sungai Mesiok yang dimaksud Muharlis adalah pohon-pohon karet yang ditanam para petani tiga tahun lalu sebagai bagian dari program rehabilitasi.  Kini, lingkar batang pohon-pohon karet itu rata-rata 10 centimeter, masih tergolong kecil dibanding rata-rata pohon karet dewasa siap sadap yang lingkar batangnya mencapai 45 centimeter.

Sungai Kampar dulu dan sekarang

Cerita Muharlis tentang Sungai Mesiok itu berkebalikan dengan cerita Fazli soal kondisi sungai induknya, Sungai Kampar. Sungai yang memiliki panjang sekitar 413,5 kilometer itu merupakan pertemuan dua sungai, yakni Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Memiliki lebar rata-rata 143 meter dengan kedalaman rata-rata 7,7 meter, Sungai Kampar merupakan muara bagi beberapa anak sungai.

Lahir dan besar di desa yang termasuk DTA Sungai Kampar, Fazli yang juga Ketua Pokdarwis Desa Tanjung itu memiliki kesan personal dengan sungai yang membentang dari Provinsi Sumatra Barat hingga Riau tersebut.  

“Saya dari kecil hobi main di sungai, dulu spesies ikannya banyak kita temui. Tahun ke tahun spesies ikan berkurang, debit air berkurang, batu itu banyak yang hilang dimanfaatkan warga untuk membangun rumah,” terangnya di Rumah Belajar Air di Desa Tanjung, Senin (13/12) siang.

Kepala Desa Tanjung, Sutomi, memberi kesaksian serupa. Menurutnya, sekitar tiga puluh tahun silam, kondisi Sungai Kampar khususnya Sungai Kampar Kanan, tempat ia dan kawan-kawannya mencari ikan semasa kecil, masih alami.

“Dalam air sungai setinggi tumit aja dulu sudah bisa dapat ikan. Sambil mandi di sungai bisa dapat ikan, dapat udang,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Fazli mengungkapkan, puluhan tahun lalu orang dewasa tidak mungkin bisa berjalan kaki menyeberangi Sungai Kampar Kanan sekalipun di kawasan yang dangkal.

“Kawasan yang dangkal pun airnya dalam. Tapi sekarang kalau mau nyeberang menggunakan kaki bisa pada bagian-bagian dangkal,” ujar Guru Biologi Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Rahmatul Hidayah di Kecamatan Koto Kampar Hulu itu.

Dalam air sungai setinggi tumit saja dulu sudah bisa dapat ikan. Sambil mandi di sungai bisa dapat ikan, dapat udang

Sutomi, Kepala Desa Tanjung

Sepekan tidak hujan, lanjut dia, batu-batu di pinggir Sungai Kampar Kanan terlihat lantaran debit air berkurang cukup drastis. Sebaliknya, jika hujan turun terus-menerus selama satu pekan, kenaikan debit air juga cukup signifikan.

“Seminggu nggak ada hujan sungai dangkal, berkurangnya satu meter lebih dari biasanya. Dulu kalau musim kemarau nggak sebanyak itu berkurangnya,” ungkap pria 26 tahun itu.

Sebaliknya, kata Fazli, jika hujan turun terus-menerus dalam sepekan, debit air Sungai Kampar Kanan akan naik drastis. Pasalnya tidak ada pohon-pohon yang mampu menangkap air hujan. Alhasil, air hujan langsung menuju sungai.

Alumnus Pendidikan Biologi Universitas Negeri Padang itu menceritakan, dari tahun ke tahun pembukaan lahan hutan di kawasan hulu Sungai Kampar yang meliputi Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Kampar makin marak. Salah satu penyebabnya lantaran ada anggapan di masyarakat bahwa kawasan tepi sungai baik untuk menanam kelapa sawit.

Meskipun tidak termasuk tanaman yang rakus air, tapi kelapa sawit kerap disebut sebagai salah satu pemicu krisis air bagi lingkungan sekitarnya. Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Putro Tejo Baskoro dalam artikelnya yang berjudul Kelapa Sawit: Benarkah Rakus Air? menyebut sistem perakaran kelapa sawit yang tergolong dangkal (akar serabut) membuat tanaman itu mudah mengalami ancaman kekeringan.

Tanaman berakar serabut itu tidak memiliki kemampuan menyimpan air sebanyak pohon lain. Saat hujan mengguyur, akar kelapa sawit tidak bisa menahan air, akibatnya air bergerak ke lapisan tanah di bawah zona perakaran. Pada lahan datar dengan muka air tanah dangkal, hal tersebut akan menyebabkan genangan dan banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau, areal perkebunan kelapa sawit lebih cepat kering karena tidak ada cadangan air di akarnya.

“Di daerah hulu banyak yang nanam sawit di pinggir sungai. Pohon-pohon di tepi sungai ditebang buat lahan sawit,” terang Fazli.

Menurut dia, maraknya pembukaan lahan hutan di hulu Sungai Kampar sedikit banyak berpengaruh pada fluktuasi debit air sungai saat ini.

Memulihkan mata air kehidupan

Dosen Pendidikan Biologi Universitas Riau (Unri), Suwondo menyatakan bahwa Sungai Kampar mengalami perubahan debit air secara fluktuatif, khususnya selama satu dekade terakhir.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk di sepanjang aliran Sungai Kampar, kebutuhan akan lahan pun meningkat.  Hal ini berbanding lurus dengan pembukaan lahan atau alih fungsi lahan hutan primer di kawasan hulu Sungai Kampar menjadi perkebunan. Jika pohon-pohon hutan berkayu keras memiliki kemampuan menyerap air selama musim hujan dan akan melepaskan air tersebut selama musim kemarau, tidak demikian dengan tanaman perkebunan nonkayu keras seperti gambir dan sawit.

Menurut Suwondo, selain faktor cuaca, ada beberapa penyebab yang memengaruhi fluktuasi debit air Sungai Kampar. Dua di antaranya yang berpengaruh signifikan adalah berkurangnya kawasan hutan dan munculnya pertambangan-pertambangan galian C di tepi dan badan sungai.

“Kebutuhan akan infrastruktur meningkat, untuk bangun jalan tol, bangun rumah, itu kan butuh material batu dan pasir sungai juga. Itu memicu munculnya pertambangan galian C di tempat yang tidak seharusnya,” ungkap Koordinator Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Unri itu.

Maraknya pertambangan galian C, kata Suwondo, memiliki peran besar terhadap erosi dan sedimentasi Sungai Kampar. Material reruntuhan erosi yang terjadi di kanan dan kiri Sungai Kampar akan mengendap di badan sungai dan menyebabkan sedimentasi meningkat. 

Akibatnya, sungai mengalami pendangkalan sehingga daya tampung airnya berkurang. Pada musim penghujan saat debit sungai naik, badan sungai tak sanggup menampung air hingga menyebabkan banjir. Sebaliknya, pada musim kemarau debit air sungai cenderung turun drastis.

“Misalkan daya tampung awalnya satu juta liter dengan kedalaman lima meter. Jika terjadi sedimentasi satu meter, daya tampungnya jadi 800 ribu liter air. Lantas yang 200 ribu liter ke mana? Ya jadi banjir, luber ke rumah-rumah warga,” demikian laki-laki kelahiran Riau itu membuat analogi.

Senada, Direktorat Pengendalian Pencemaran Air Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut bahwa pertambangan galian C tak berizin memicu degradasi dasar sungai.  Selain persoalan galian C, menurunnya daya dukung DTA juga berakibat pada turunnya keandalan debit sungai sebagai sumber air sebagian besar lahan irigasi.

Melihat kenyataan demikian, tak mengherankan jika RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) periode 2015-2019 menyebut DAS Kampar sebagai salah satu DAS rawan bencana. Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK dalam Rencana Strategis tahun 2020-2024 menyebut pemulihan DAS Kampar menjadi prioritas nasional lantaran telah mengalami tingkat kerusakan kritis.

Penelitian yang dilakukan mahasiswa Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) Bayu Prades Tri Dharma (2021) mengungkap kondisi kritis DAS Kampar terjadi lantaran adanya penurunan luasan hutan yang cukup besar. Berdasarkan data spasial dari tahun 1990 sampai 2015, kawasan hutan di sepanjang aliran Sungai Kampar mengalami penurunan signifikan, yakni dari 143.505 hektare menjadi 112.116 hektare. Penurunan itu disebabkan alih fungsi hutan menjadi kawasan pertanian dan perkebunan.

Hal tersebut mengakibatkan kenaikan debit air yang signifikan dari 613 m3/detik menjadi 766 m3/detik selama musim hujan. Kenaikan ini menyebabkan banjir tahunan reguler di empat kabupaten terdekat. Banjir terparah di kawasan hulu Sungai Kampar terjadi tahun 1997 dan Maret 2017.

Ironisnya, di tahun yang sama, pada Oktober 2017 PLTA Koto Panjang lumpuh karena volume air untuk memasok turbin tak mencapai ambang batas minimal. Akibatnya, terjadi pemadaman listrik besar-besaran pada beberapa daerah di Riau dan Sumatera Barat.

“Dari air yang semula banyak tiba-tiba jadi sedikit, tidak terprediksi. Sekitar dua sampai tiga minggu kita setop operasi,” jelas Kepala Bagian Lingkungan PLTA Koto Panjang, Taufik Abdul di Kabupaten Kampar, Selasa (14/12) siang.

Sementara itu, Suwondo menjelaskan bahwa penurunan luasan hutan yang menjadi salah satu pemicu tingginya gap debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak hanya terjadi pada DAS Kampar.

“Tidak hanya Sungai Kampar yang mengalami, tiga sungai besar lain di Riau, Sungai Siak, Rokan, dan Indragiri juga mengalami hal serupa. Bahkan mungkin sungai-sungai di seluruh Indonesia mengalami penurunan tutupan hutan,” ujarnya.

Padahal Deklarasi Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000 menetapkan, dua dari delapan nilai fundamental bagi hubungan internasional adalah memastikan kelestarian lingkungan dan menjalin kemitraan global untuk pembangunan.

“Orang di seluruh dunia sudah sepakat bahwa tidak mungkin membangun sendiri-sendiri. Harus bersama-sama, karena selama satu abad manusia membangun di biosfer ternyata banyak kekurangan,” ungkap Suwondo saat dihubungi melalui aplikasi video conference, Sabtu (25/12).

Oleh karena itu, kata dia, pemulihan DAS Kampar yang sudah kritis memerlukan peran serta seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, organisasi non-pemerintah, swasta, dan masyarakat.

“Mulai 2015-2030 itu namanya SDGs (Sustainability Development Goals). Nah, di salah satu goal ada yang namanya ekosistem, si DAS ini masuk ke situ,” ujar laki-laki yang sudah menjadi dosen selama 30 tahun terakhir itu.

Karena apa, persoalan yang muncul itu disebabkan oleh berbagai sumber. Penyelesaiannya harus berjemaah.

Suwondo, dosen pendidikan biologi, Universitas Riau

Suwondo menegaskan, untuk menyelesaikan masalah krisis DAS Kampar hari ini diperlukan solusi multidisiplin yang dilakukan dengan cara kolaborasi  antarpihak. Mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan tata kelola yang terimplementasi dalam bentuk produk hukum.

“Karena apa, persoalan yang muncul itu disebabkan oleh berbagai sumber. Penyelesaiannya harus berjemaah,” tandasnya.

Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk memulihkan kondisi DAS Kampar, kata dia, yakni melakukan rehabilitasi DTA kawasan hulu dan tengah Sungai Kampar. Program rehabilitasi yang dilakukan HSBC di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu yang termasuk kawasan tengah Sungai Kampar menjadi contoh nyata upaya pemulihan DAS dengan pendekatan multidisiplin.

Suwondo mengapresiasi program rehabilitasi lahan di Desa Tanjung. Pihak penyelenggara program, kata dia, tidak hanya mengajak masyarakat menanam pohon. Tetapi juga memberi edukasi terkait upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Pohon yang ditanam pun dipilih yang memiliki nilai ekonomi, jadi masyarakat juga antusias karena itu ada dampaknya buat mereka. Ingat diagram kebutuhan Maslow itu, enggak mungkin orang lapar kok diajak menanam pohon,” tuturnya.

Ia menegaskan, kebutuhan masyarakat harus tercukupi terlebih dahulu baru kemudian bisa memikirkan menanam pohon untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Tim Ahli Hidrologi LIPI, pemulihan DTA di kawasan hulu dan tengah Sungai Kampar diperlukan untuk menjaga kelestarian sumber air yang berfungsi hampir di setiap aspek kehidupan masyarakat beberapa daerah di Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Mulai untuk keperluan minum, mencuci, memasak, mandi, perkebunan, kegiatan industri, hingga sumber tenaga listrik. Jika tidak, sungai yang disebut sebagai sumber peradaban masyarakat Riau itu pada gilirannya justru menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia.

Laporan ini merupakan hasil “Fellowship Kelas Air: Revitalisasi DAS Kampar SIEJ – WWF” dan terbit pertama kali di Merdeka.com pada 7 Januari 2022.

About the writer

Rizka Nur Laily Muallifa

Rizka Nur Laily Muallifa, is a young journalist who is interested in issues involving minorities. She has received several fellowships covering issues of child trafficking, Indonesian migrant workers,...

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.