Awan abu lebat beringsut mencacah hamparan langit. Isyarat hujan akan mengguyur di pekan kedua Maret 2025. Sore itu, Samsiah sedang duduk sendiri di teras rumah menunggu calon pembeli datang berbelanja di kiosnya. Telinganya sumpal lantaran suara gemuruh alat conveyor pembawa batu bara beroperasi tak berkesudahan sepanjang waktu. Mesin itu terletak sepelemparan batu di sisi kiri rumahnya di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Dia mesti pula saban hari berulang kali menyapu serakan debu batu bara bekas pembakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) penyangga kebutuhan listrik industri pengolahan nikel PT Obsidian Stainless Steel (OSS). Jelaga beracun keluar mengepul lewat cerobong asap lantas tersebar merangsek ke seluruh bagian sudut rumah hingga menempel di perabotan dapur.
Ibu tiga anak itu melakoni keseharian menjual kebutuhan bahan sembako sejak dua tahun belakangan. Pekerjaan ini dilakukannya setelah menutup usaha jual-beli kepiting yang pernah bertengger di pucuk kejayaan selama dua dekade. “Tidak ada yang tidak kenal saya di Kendari dulu beli kepiting,” kenang perempuan berusia 53 tahun ini.
Pada medio warsa 90-an sampai 2022, namanya mentereng sebagai salah satu pengepul besar kepiting yang menerima penjualan nelayan tangkap di penjuru Kabupaten Konawe dan Konawe Utara. Jenis kepiting bakau itu kemudian dijual ke penampung utama untuk diperdagangkan sampai menjadi komoditas pasar ekspor. Di samping itu, dia membudidayakan kepiting, ikan dan udang di tambaknya seluas lebih kurang 20 hektare.
Samsiah masih tinggal di sebuah rumah panggung bersama suami dan tiga orang anak perempuannya sewaktu mula menempa usaha jual-beli kepiting. Rumahnya berdinding papan membelakangi sungai Motui, berbatas deretan pohon bakau. Sungai Motui dikerumuni rerimbunan pohon bakau menjadi sentra penghubung utama masing-masing wilayah perkampungan. Hamparan petakan tambak saling menghubungkan rumah-rumah penduduk dan mengeratkan jalinan interaksi antar sesama mereka. Hampir semua mereka menyandarkan tulang punggung penghidupan dari hasil tambak dan menangkap kepiting.
Kepiting komoditas jual-beli Samsiah merupakan jenis kepiting bakau spesies Scylla serrata. Kepiting itu memiliki ciri identik karapas berbentuk bundar telur. Hidupnya menyebar di ekosistem hutan bakau dan estuari atau tempat pertemuan air laut dan air tawar. Ketika itu, jumlah populasi kepiting bakau berlimpah. Mereka berkembang biak di tepian sungai dan kawasan hutan bakau. Berbekal alat perangkap bubu, nelayan sudah bisa mendulang berkarung-karung kepiting.
Samsiah lazim menampung puluhan hingga seratusan kilogram kepiting dari nelayan yang tinggal di seberang sungai rumahnya. “Saya dulu beli kepiting itu masih dibilang super BS. Tidak ada bilang A1 A2. Itu yang namanya BS yang (berat) 2 ons. Supernya itu 3 ons sampai 1 kg ke atas. Sekarang sudah banyak ukuran,” kenangnya.
Kepiting super berbobot sekitar 300 gram sampai 1 kilogram (kg) per ekor sesuai klasifikasi standar perdagangan ekspor. Standar ekspor lain diukur lewat kepadatan daging ditandai pada bagian dada kepiting yang mengeras. Jika masih melempem maka perlu dibudidaya beberapa waktu di tambak untuk masa penggemukan.
Perempuan yang disapa Haji Tio ini lalu menjual kepiting ke seorang penampung utama di Kota Kendari dalam dua kali seminggu. Kapasitas sekali penjualan rata-rata sebanyak 500 kg sampai menghampiri angka 1 ton dengan meraup penghasilan puluhan juta rupiah. “Biasa kami terima lebih Rp10 juta satu kali menjual. Dua kali satu minggu begitu. Bahkan lagi lebih Rp20 juta sekali menjual.”
Berkat keuntungan penjualan kepiting dan hasil tambak, Samsiah dan suaminya bisa ke Tanah Suci Mekkah sebagai jemaah haji furoda alias peserta ibadah haji tanpa daftar tunggu. Dalam ketentuan keberangkatannya menggunakan visa yang diterbitkan langsung oleh pemerintah Arab Saudi. Selain itu, dia sempat membiayai pendidikan anak tertuanya di Fakultas Kedokteran, Universitas Halu Oleo (UHO) sebelum pindah di jurusan kesehatan lain karena menghadapi masalah akademik.
Samsiah juga membeli satu unit rumah seharga Rp2 miliar lebih dibayar secara tunai dari hasil penjualan kepiting. Ditambah dua unit kendaraan mobil dari total harga hampir Rp2 miliar. Menyusul dua mobil yang sudah ada sebelumnya. “Masih hutan di sini saya sudah punya mobil dua.”

Jelaga Datang Kepiting Hilang
Seiring bergulirnya waktu penjualan kepiting dan hasil tambak Samsiah mulai surut. Penurunan mulai dirasakan ketika pabrik feronikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) berdiri pada Agustus 2014 silam. Selang empat tahun kemudian PT Obsidian Stainless Steel (OSS), perusahaan milik investor asing yang mengolah bijih nikel menjadi produk baja anti karat berdiri. Kedua pabrik smelter ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berada di Kawasan Industri Konawe (KIK) untuk mendukung ambisi pemerintah menyuplai kebutuhan produk baterai listrik.
Pembangunan industri smelter ini menggasak topografi empat kecamatan di dua kabupaten untuk pembukaan dua badan jalan hauling yang membelah perkampungan. Mempersempit kawasan perairan termasuk badan sungai ruang habitat kepiting. Hingga menutup puluhan hektare tambak sumber nadi penghidupan warga.
Ruas jalan selebar 30 meter itu menjadi akses khusus kendaraan dump truk memobilisasi pengangkutan material batu bara dan ore nikel dari pelabuhan bongkar muat jetty menuju pabrik pengolahan nikel. Serakan debu dan material batu bara beterbangan karena pengangkutannya tidak menggunakan bak tertutup.
Batu bara menjadi bahan bakar utama PLTU yang menggerakkan total kebutuhan operasional kedua pabrik smelter. VDNI memiliki daya pembangkit listrik bersifat captive sebesar 530 megawatt yang membutuhkan batu bara sebanyak 15.000 ton per bulan atau 180.000 ton per tahun. Sedangkan kapasitas kelistrikan OSS sebesar 1.820 megawatt membutuhkan konsumsi batu bara sebanyak 522.936 ton per tahun. Batu bara juga dibutuhkan sebagai bahan baku pemanas alat pengering dan material pereduksi pada rotary kiln yang menghabiskan kisaran 756.000 ton per tahun, menukil laporan Walhi Sulawesi Tenggara.
Jejak residu batu bara menyebar ke seluruh lingkungan di sekitar PLTU. Debu hitam beterbangan mengikut arah angin kemudian jatuh mengendap di tanah dan ekosistem air. Atau juga mengerubungi pepohonan, atap dan dinding luar sampai menyusup ke dalam rumah penduduk. Bahkan alat-alat perlengkapan dapur tak luput dari sasaran debu.
Tiupan angin memicu tumpukan limbah bekas pembakaran batu bara bertebaran di udara. Kemudian menyebar terbawa hembusan angin sebelum bersarang di tanah dan lingkungan air. Guyuran hujan mengikis tumpukan limbah batu bara jatuh mengendap menyatu dengan sedimen sungai hingga mengaliri area tambak. Di beberapa titik aliran sungai air terlihat keruh menghitam.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tenggara menemukan Sungai Motui sebagai ruang ekosistem kepiting dan sumber pengairan tembak menanggung beban perusakan ganda. Menurut Walhi Sulawesi Tenggara, Sungai Motui terpapar polutan debu batu bara dan juga pencemaran limbah industri. Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan Walhi Sulawesi Tenggara berkolaborasi dengan Guru Besar dan peneliti Perikanan dan Kelautan UHO, La Ode M Aslan.
Keduanya pernah melakukan uji sampel air sungai dari lokasi pembuangan limbah dan sedimen tambak. Sampel diuji menggunakan metode uji SNI 6989.16-2009. Hasilnya menunjukkan zat kimia logam berat kadmium (Cd) dengan kadar 0,0977 mg/L. Kandungan kadmium ini melebihi ambang batas baku mutu 0,01 mg/L seperti ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sementara itu, melalui metode uji SNI 6989.6-2009 ditemukan kandungan logam berat tembaga (Cu) dengan kadar 0,0485 melebihi ketentuan ambang batas baku mutu yang diizinkan 0,02 mg/L.
Menurut Aslan, kadmium merupakan kandungan logam berat yang dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan dan sistem tubuh ikan, menghambat pertumbuhan dan reproduksi serta mengganggu sistem imun dan endokrin. “Paparan akut kadmium dapat menyebabkan peningkatan angka kematian. Sementara paparan kronis mengakibatkan efek subletal seperti penurunan pertumbuhan dan keberhasilan reproduksi.” katanya.
Aslan memaparkan, ikan, udang dan kepiting memiliki toleransi tertentu terhadap habitat yang tercemar namun kemampuan itu sering terkena dampak seperti penurunan laju pertumbuhan dan perubahan perilaku. “Selain itu, paparan seperti logam berat dapat merusak sistem kekebalan udang. Sehingga meningkatkan kerentanannya terhadap penyakit yang berujung pada kematian apabila tingkat pencemaran semakin meningkat,” terangnya.
Mengutip penelitian Effects of Coal microparticles on Marine Organism: A Review yang ditulis M.O Tretyakova dan kawan-kawan dalam jurnal Toxicology Reports publikasi 2021, Aslan menerangkan, paparan partikel debu batu bara yang mengendap di dasar laut menyebabkan penurunan kualitas habitat bagi organisme bentik. Selain itu, partikel batu bara dapat mengubah sifat fisik dan kimiawi sedimen dan memengaruhi ketersediaan oksigen dan mengganggu proses pertukaran gas pada insang ikan.
Partikel debu batu bara juga dapat mengurangi penetrasi cahaya matahari ke kolom air sehingga memengaruhi fotosintesis alga dan tumbuhan air lainnya. Hal ini dapat mengganggu rantai makanan akuatik dan menurunkan ekosistem produktivitas ekosistem perairan.
Direktur Walhi Sulawesi Tenggara Andi Rahman mengatakan dampak pencemaran limbah dan polusi debu batu bara membebani kerusakan ruang penghidupan warga terutama di sektor perikanan dan pertanian. Akibatnya, warga dipaksa terus bertahan di tengah ketidakpastian pemenuhan kebutuhan hidup. “Dari beberapa temuan Walhi, tingkat kemiskinan warga yang berada di wilayah Morosi itu meningkat secara signifikan. Karena wilayah sumber ekonomi mereka menjadi tercemar karena kegiatan industri.”
Ekspor Kepiting Menurun
Akibat lingkungan yang tercemar, pasokan kepiting untuk ekspor mulai menyusut. Samsiah mengaku kehilangan nyaris semua pemasok kepiting. “Ada juga satu dua orang tapi kepiting tinggal sedikit,” celetuk perempuan yang kini mengelola kios sembako dan jual beli besi bekas ini.
Begitu pula dengan nasib Tajudin. Dia acap pulang membawa tangan hampa kendati sudah memasang banyak alat perangkap selama berhari-hari. Nelayan yang tinggal di Desa Kapoiala, Kabupaten Konawe ini mengaku belum pernah menikmati hasil panen sebagaimana kebiasaannya sejak perusahan tambang itu berdiri. Ikan dan udang budidayanya kerap mati mengapung di permukaan air tambak berwarna gelap. “Sekarang iiih menangis mi orang. Debu batu bara itu ededeh,” ucap nelayan yang menangkap kepiting sejak 1991 ini.
Pada masa jayanya, Tajudin hanya mengandalkan alat perangkap bubu yang diberi umpan beberapa ekor udang. Satu perangkap biasa menampung lima ekor kepiting. “Dulu itu kayu-kayu yang ditebang saja kita lihat di bawahnya wiih banyak di situ,” katanya saat ditemui di rumahnya pertengahan Maret lalu.
Dia terbiasa menjual hasil tangkapan kepiting sebanyak 50 kg-70 kg setelah dua sampai tiga hari memasang perangkap di sungai dan area tambak. Dia menjual ke pengepul tiap tiga kali seminggu dengan mengecap pemasukan hampir Rp10 juta. Selain menangkap kepiting, dia juga mengelola tambak 14 hektare dengan membudidaya ribuan ikan dan udang dalam satu periode penebaran benih. Waktu panen paling lambat 3-4 bulan. Dia mendapatkan hasil 2 ton ikan dan 1 ton udang untuk sekali masa panen. “Kadang-kadang sekali panen itu kita dapat Rp300 juta-Rp400 juta.”

Kesulitan dialami Tajudin menular ke Anwar yang sudah beberapa lama berlangganan membeli kepiting tangkapannya. Jumlah penjualannya pun melorot imbas hasil tangkapan para nelayan kian berkurang. “Kalau dulu itu banyak barang (kepiting). Beda sekarang selama datang tambang,” keluh Anwar.
Anwar adalah salah seorang pengepul kepiting lokal yang kemudian disetorkan ke eksportir. Sebelumnya, dia menjual tidak pernah kurang dari berat 100 kg setiap sekali pengantaran.
Salah satu eksportir, Sulkarnain, mengatakan wilayah Morosi, tempat PT OSS dan VDI berada, yang dulu menjadi lumbung kepiting bukan lagi sumber pemasok andalan. Pengepul langganannya tinggal menyisakan dua orang, Anwar dan Lian. Menurut Sulkarnai, penjualannya tinggal dua kali seminggu masing-masing 60 kg atau turun 50% lebih dibanding jumlah sebelumnya. Dia pun menyiasati penyediaan komoditas kepiting supaya tetap menyanggupi permintaan pasar ekspor dengan mengalihkan pembelian ke pengepul dari sejumlah kabupaten seperti di Konawe Selatan, Muna, Kabaena dan Konawe Kepulauan.
Selain itu, dia juga membuka cabang pengiriman ekspor di beberapa wilayah di luar Sulawesi Tenggara antara lain di Kota Palu, Ternate dan Kota Makassar. “Kendari sudah tidak sanggup. Dulu tiap hari kami ekspor karena barang banyak. Kalau sekarang oeee banyak daerah sudah masuk tambang.”
Merujuk laporan Bea Cukai Kendari, jumlah ekspor kepiting bakau Sulawesi Tenggara ke Singapura menurun dalam satu tahun terakhir sebanyak 13.653 kg. Setahun sebelumnya, ekspor kepiting sebesar 43.644 kg. Penurunan ekspor kepiting ini sejalan dengan studi yang dilakukan Celios. Lembaga penelitian ini menemukan, dampak industri nikel terhadap sektor perikanan dan pertanian secara umum cenderung negatif baik dalam hal nilai tambah ekonomi maupun pendapatan petani dan nelayan. Celios mengatakan, industri nikel dapat menyebabkan kerugian nilai tambah ekonomi lebih dari Rp6 triliun dalam 15 tahun. Begitu pula terjadi pada pendapatan nelayan dan petani yakni adanya kerugian sebesar Rp3,64 triliun dalam 15 tahun.
Penulis sudah mencoba menghubungi Humas VDNI Ihsan Amar pada 29 April 2025, namun belum ada jawaban. Selain menerusksn pesan melalui aplikasi pesan, penulis juga mengirimkan surat permohonan wawancara kepada VDNI dan OSS pada 29 April 2025. Namun, hingga berita ini diturunkan, kedua perusahaan belum menanggapi surat yang dikirimkan. [La Ode Muhlas]
- Petani Aceh Ditangkap Saat Mencari Keadilan. KPA: Penculikan Pejuang Agraria! Penangkapan dilakukan tanpa kejelasan surat perintah, tanpa pemberitahuan kepada keluarga maupun organisasi, sehingga tindakan ini adalah penculikan pejuang agraria.
- Kejahatan Ekologis di Bengkulu yang Mengoyak Wilayah HuluKerusakan sistematis di Bengkulu sekarang sedang menuju kategori ekosida. Secara harfiah, ekosida bisa berarti penghancuran ekosistem secara masif oleh korporasi maupun negara.
- Berjuang Jaga Pesisir, Masyarakat Adat Sumba Melawan Tambang Pasir IlegalPara penambang ilegal secara kurang ajar mengancam ekosistem laut Sumba, sekaligus merobek tatanan sosial dan spiritual yang telah dijaga selama berabad-abad.
- Aliran Darah di Tambang Emas Ilegal Solok Selatan yang Diabaikan NegaraNegara gagal melindungi hak warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 28H UUD 1945.
- Aturan Tambang Rakyat di NTB, Antara PAD dan Dampak LingkunganAturan tambang rakyat di NTB jadi sumber kesejahteraan, atau justru menambah daftar panjang persoalan lingkungan di masa depan.
- Minyak Dunia Meroket, Indonesia Bersiap Genjot Bahan Bakar NabatiDi tengah gejolak geopolitik yang kian memanas di awal tahun 2026, wajah ketahanan energi Indonesia sedang diuji pada titik paling krusial. Pada akhir Maret 2026, layar bursa komoditas menampilkan angka yang mencemaskan karena harga per barel minyak mentah jenis Brent meroket tinggi. Penutupan jalur distribusi di Selat Hormuz memutus aliran hampir 20 juta barel minyak per hari ke pasar global. Sebagai penyandang status net importer minyak bumi sejak tahun 2003, situasi ini menjadi guncangan ganda bagi Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Pluang, ketergantungan impor minyak bumi Indonesia mencapai 53,7 juta ton pada tahun 2024. Setiap kali harga minyak dunia membumbung, neraca perdagangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) langsung berdarah. Ketahanan energi Indonesia saat ini sangat rentan, lantaran hanya mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru. Sementara kebutuhan minyak nasional mencapai 1,5 juta barel per hari dan produksi domestik hanya berkisar 600 ribu barel. “Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” kata Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Deendarlianto, menyoroti hal ini. Sikap Negara Menghadapi Beban Fiskal Tekanan harga minyak dunia tidak hanya dirasakan di pompa bensin, tetapi merambat langsung ke jantung kebijakan fiskal di Jakarta. Berdasarkan analisis sensitivitas dari NEXT Indonesia Center, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar $1 per barel, APBN harus menanggung beban tambahan belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun. Angka ini sebagian besar terserap untuk menambal subsidi dan kompensasi energi yang membengkak. Dalam skenario terburuk, jika konflik global berkepanjangan dan harga minyak menyentuh angka $150 per barel, defisit anggaran Indonesia diprediksi bisa melampaui batas hukum 3% PDB. Angka defisit tersebut berisiko menyentuh Rp 1.100 triliun, sebuah kondisi yang dapat mengancam keberlanjutan program pembangunan nasional. Menghadapi kebuntuan ini, pemerintah mulai mengambil langkah defensif yang agresif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan pemerintah tengah mempercepat implementasi program biodiesel campuran 50% bahan bakar nabati dan 50% solar (B50), sebagai bagian dari upaya kemandirian dan efisiensi energi yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. “Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending, dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter,” ujar Airlangga. Sains di Balik Kemandirian Energi Meski terdengar menjanjikan, tetapi ketergantungan pada satu jenis bahan baku seperti kelapa sawit turut memicu perdebatan mengenai keberlanjutan. Prof. Deendarlianto mendorong pemerintah untuk tidak terpaku pada sawit saja, serta menyarankan diversifikasi ke sumber hayati lain seperti sorgum dan ketela untuk menghasilkan bioetanol sebagai pengganti bensin (gasoline). Selain itu, ia juga mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) untuk pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). “Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi,” tekan Deen. Kandidat Kuat Penyelamat Pangan dan Energi Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) muncul sebagai superstar baru dalam narasi energi nasional. Berdasarkan data dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, sorgum memiliki efisiensi sumber daya yang luar biasa. Kebutuhan airnya hanya sepertiga dari tebu dan mampu tumbuh di lahan marginal yang kering. Setiap satu hektar tanaman sorgum manis berpotensi menghasilkan hingga 8.123 liter etanol per tahun. Angka ini jauh lebih efisien dibandingkan banyak tanaman energi lainnya. Selain itu, sorgum bersifat multiguna: bijinya untuk pangan, batangnya untuk pakan ternak, dan niranya untuk energi. Hal ini mematahkan kekhawatiran klasik tentang persaingan antara kebutuhan pangan dan bahan bakar. Meski demikian, tantangan ekonomi tetap membayangi. Sebuah riset kolaborasi yang dilakukan di Universitas Negeri Surabaya mengungkapkan, biaya produksi bioetanol dari nira sorgum pada skala laboratorium mencapai Rp 113.931 per liter. Tanpa efisiensi skala industri dan dukungan fiskal yang setara dengan biodiesel, bioetanol sorgum masih akan sulit berkompetisi di pasar bensin nasional yang saat ini didominasi bahan bakar fosil bersubsidi. Menyeimbangkan Ekonomi dan Ekologi Di tengah optimisme ini, suara kritis tetap terdengar dari organisasi lingkungan. WALHI dan Greenpeace Indonesia mengingatkan ambisi B50 hingga B100 memerlukan ekspansi lahan sawit yang masif. Berdasarkan catatan WALHI, untuk memenuhi target tersebut setidaknya diperlukan tambahan 1,1 juta hingga 1,69 juta hektar lahan baru. Tanpa pengawasan ketat, hal ini berisiko memicu deforestasi yang justru akan memperburuk krisis iklim. Studi dari Energy Nexus merekomendasikan agar pemerintah memprioritaskan intensifikasi lahan yang sudah ada daripada pembukaan hutan. Pemanfaatan lahan kritis seluas 20 juta hektar di Indonesia harus menjadi prioritas pengembangan tanaman energi non-pangan agar visi energi bersih tidak mengorbankan integritas lingkungan. Transisi menuju bahan bakar nabati lebih dari sekadar pilihan hijau, sekaligus strategi bertahan hidup sebuah bangsa di tengah badai krisis global yang tak menentu. Keberhasilan program B50 dan hilirisasi energi lainnya pada Juli 2026 nanti akan menjadi penentu, apakah Indonesia benar-benar mampu menjemput kedaulatannya sendiri di ujung pipa energinya.