Bagi warga Kecamatan Manggala, Kota Makassar, angin sore kerap membawa tamu yang tak diundang: bau busuk menyengat yang menguap dari gunungan sampah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. Selama puluhan tahun, aroma tersebut menjadi penanda geografis tak resmi yang menegaskan batas wilayah timur kota ini. Namun, memasuki pertengahan Juli 2026, udara di sekitar Manggala mulai menceritakan kisah yang berbeda.
Aroma tajam yang biasanya menyergap hidung kini perlahan memudar, digantikan oleh pemandangan traktor dan alat berat yang sibuk meratakan lapisan tanah kecokelatan di atas bukit-bukit sampah. Wajah kumuh TPA Tamangapa sedang dirombak besar-besaran. Per 15 Juli 2026, Pemerintah Kota Makassar mencatat bahwa proyek pembenahan kawasan ini telah menyentuh angka progres 70 persen. Perubahan fisik ini memantik harapan baru bagi kelestarian lingkungan hidup dan kualitas hidup warga penyangga.
Mengubur Warisan Open Dumping
Sejak pertama kali dioperasikan, TPA Tamangapa memikul beban ekologis yang luar biasa berat. Pertumbuhan populasi dan laju konsumsi warga Makassar mengubah lahan penampungan ini menjadi megastruktur sampah yang dikelola dengan sistem pembuangan terbuka (open dumping). Sampah organik dan anorganik bertumpuk tanpa pembatas, memproduksi gas metana bebas ke atmosfer serta air lindi (leachate) yang mengancam kualitas air tanah.
Sistem open dumping inilah yang menjadi biang kerok bau tak sedap radius kilometeran, sekaligus mengundang ribuan lalat dan burung pemakan bangkai. Sadar akan bom waktu ekologis ini, Pemerintah Kota Makassar melakukan intervensi struktural yang radikal. Transformasi ini bertujuan untuk secara bertahap mengakhiri era pembuangan terbuka dan beralih ke pengelolaan yang lebih terukur, higienis, dan berkelanjutan.
Metode Tanah Urug: Selimut Penahan Polusi
Kunci dari berkurangnya bau menyengat di TPA Tamangapa terletak pada penerapan metode controlled landfill melalui teknik tanah urug. Alih-alih membiarkan sampah menggunung dan terpapar udara luar secara langsung, petugas di lapangan kini menerapkan sistem pelapisan berkala.
Setiap lapisan sampah yang telah mencapai ketinggian tertentu dipadatkan secara mekanis menggunakan alat berat, kemudian ditutup (diurug) dengan lapisan tanah yang solid. Proses ini berfungsi sebagai “selimut bumi” yang efektif menahan beberapa dampak negatif sekaligus:
- Reduksi Bau Esensial: Lapisan tanah mengunci gas-gas berbau tajam seperti hidrogen sulfida ($H_2S$) dan amonia ($NH_3$) agar tidak langsung menguap ke udara bebas.
- Pemutusan Rantai Hama: Penutupan dengan tanah mencegah lalat, tikus, dan hewan pembawa penyakit (vektor) menjadikan sampah sebagai tempat berkembang biak.
- Estetika Lingkungan: Gunungan plastik berwarna-warni yang mengganggu pemandangan kini mulai tertutup lanskap tanah cokelat yang rapi, memberikan kesan TPA yang jauh lebih tertata dan manusiawi.
Progres 70 persen yang dicapai saat ini memperlihatkan bahwa sebagian besar zona aktif pembuangan lama telah berhasil distabilkan dan dilapisi tanah urug.
Infrastruktur Pendukung dan Ambisi Energi Bersih
Pembenahan TPA Tamangapa tidak berhenti pada penutupan tanah semata. Pemerintah Kota Makassar juga tengah menggenjot pembangunan berbagai infrastruktur pendukung di dalam kawasan. Saluran drainase penangkap air lindi mulai diperbaiki agar cairan beracun tersebut tidak merembes ke pemukiman warga atau mencemari aliran sungai setempat. Alur keluar-masuk truk pengangkut sampah pun ditata ulang guna meminimalkan kemacetan kronis yang kerap terjadi di jalur masuk Manggala.
Langkah restorasi ini sekaligus menjadi jembatan transisi menuju megaproyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang direncanakan Kota Makassar. Dengan merapikan dan mengontrol kondisi TPA saat ini, pemerintah daerah meletakkan fondasi manajemen sampah modern yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Harapan Baru dari Balik Pagar TPA
Bagi ekosistem sekitar, wajah baru TPA Tamangapa adalah sebuah kemenangan kecil yang sangat berarti. Udara yang lebih bersih berarti berkurangnya risiko infeksi saluran pernapasan bagi anak-anak di Manggala. Selain itu, penataan ini diharapkan mampu memberikan ruang kerja yang lebih aman dan manusiawi bagi ratusan pemulung informal yang menggantungkan hidup dari sirkulasi ekonomi sisa konsumsi kota.
Jalan menuju TPA yang 100 persen ramah lingkungan memang masih panjang. Namun, tertutupnya gunung-gunung plastik oleh hamparan tanah urug di pertengahan 2026 ini menjadi bukti nyata: jika dikelola dengan komitmen dan sains, tempat pembuangan akhir tidak harus selalu menjadi halaman belakang yang dikutuk, melainkan ruang transisi menuju kota yang lebih hijau dan lestari.
- Babak Baru Transformasi Hijau di TPA Tamangapa Makassar

- Masyarakat Adat Halmahera Tengah Menolak Menjadi Tumbal Ambisi Energi Hijau

- Bioenergi Malapari, Bahan Bakar Masa Depan dari Pesisir

- Tinggalkan Solar, Ikhtiar Bio Farma untuk Transisi Energi

- Koalisi Perempuan Indonesia Kritik Proses Transisi Energi

- Ambisi Pertumbuhan Ekonomi Mempercepat Tenggelamnya Pulau Jawa





