Cara praktis nonton konser musik secara asyik dan ramah lingkungan, mulai dari memilih transportasi hingga mengelola sampah, agar tetap keren sambil berkontribusi positif bagi bumi.
Siapa di sini, Sobat Ekuatorial, yang kalau dengar nama band favorit bakal manggung, langsung auto-cek tanggal dan siapin tabungan buat war tiket? Pasti banyak! Nonton konser itu udah kayak ritual wajib buat lepas penat dan sing along sampai suara serak.
Dulu, mungkin banyak dari kita, Sobat Ekuatorial, yang nggak terlalu mikirin soal sampah pas konser. Fokus utama ya gimana caranya bisa sedekat mungkin panggung, rekam momen keren buat InstaStory, dan nikmatin musiknya. Pulang konser, lihat lapangan penuh botol plastik, gelas, bungkus makanan? Ya udah, anggap aja ‘bekas medan perang’ keseruan semalam.
Tapi, makin ke sini, makin sering lihat berita soal masalah sampah, perubahan iklim… kok rasanya agak cringe ya kalau kita senang-senang tapi nambahin masalah buat bumi? Apalagi sekarang udah tahun 2025 (ingat, waktu terus berjalan!), isu lingkungan makin kenceng dibahas di mana-mana. Pernah nggak sih Sobat Ekuatorial kepikiran gitu juga?
Nah, gimana kalau pas konser berikutnya, kita coba sesuatu yang beda? Coba nonton konser dengan cara yang lebih ‘bener’, lebih ramah lingkungan. Gimana caranya? Tenang, nggak seribet yang dibayangin kok! Malah bisa tetep seru dan keren.
Ini dia panduan buat Sobat Ekuatorial yang mau jadi penonton konser kece yang juga sayang bumi:
Langkah 1: Perang Tiket dan Transportasi Cerdas
- Go Digital! Zaman sekarang, tiket konser udah banyak yang elektronik (e-ticket). Pilih opsi ini! Selain nggak perlu ribet nyimpen tiket fisik (yang gampang ilang!), kita juga ngurangin sampah kertas. Simpen aja di HP, tunjukkin pas masuk. Beres!
- Rencanain Perjalananmu: Ini penting banget. Cek lokasi venue. Bisa nggak dijangkau pakai transportasi umum kayak KRL, MRT, atau TransJakarta? Kalau iya, gas aja! Selain lebih hemat ongkos dan nggak pusing cari parkir, kita juga bantu ngurangin macet dan polusi udara. Kalaupun terpaksa bawa kendaraan, coba deh ajak teman-teman buat nebeng bareng (carpooling). Makin rame, makin seru, makin irit!
Langkah 2: Siapin ‘Senjata’ Ramah Lingkungan
Sebelum berangkat, yuk siapin beberapa ‘alat tempur’ wajib ini:
- Botol Minum/Tumbler Kosong: Ini game changer banget! Bawa tumbler favoritmu dari rumah (pastikan kosong pas masuk ya, biar lolos pemeriksaan). Nanti di dalam venue, biasanya ada water station gratis buat isi ulang. Kalaupun nggak ada, kamu bisa beli minuman terus tuang ke tumblermu (kalau diizinkan). Dadah-dadah deh sama botol plastik sekali pakai!
- Sapu Tangan Kain: Pengganti tisu paling juara. Bisa buat lap keringat, ngelap tumpahan kecil, dan bisa dicuci pakai lagi. Keren kan?
- Tas Lipat Kecil (Reusable Bag): Berguna banget buat nyimpen sampah pribadi kalau (amit-amit) nggak nemu tempat sampah yang bener, atau buat bawa pulang merchandise kalau Sobat Ekuatorial kalap belanja.
Langkah 3: Aksi Nyata di Medan Konser
Pas udah di dalam venue:
- Hidrasi Tanpa Plastik: Manfaatin tumbler-mu semaksimal mungkin. Kalau beli minum, minta tanpa sedotan plastik ya! Bawa sedotan stainless steel sendiri kalau kamu tim #AntiSedotanPlastik.
- Jajan Cerdas: Kalau lapar mata pengen jajan, coba perhatiin kemasannya. Pilih yang paling minim sampah. Beberapa event keren sekarang bahkan udah ada tenant yang pakai piring/gelas guna ulang lho!
- Sampahmu, Tanggung Jawabmu: Ini kunci utamanya. Selalu buang sampah pada tempatnya. Kalau ada tempat sampah terpilah (Organik, Anorganik, dll), please banget ikutin aturannya. Kalau nggak nemu tempat sampah atau udah penuh? Jangan lempar gitu aja! Masukin dulu ke tas lipat yang kamu bawa, nanti buang pas nemu tempat sampah di luar venue. Gampang kan?
Hasilnya? Tetap Seru, Hati Lebih Tenang!
Kalau Sobat Ekuatorial terapin semua langkah itu, hasilnya? Kamu tetep bisa lompat-lompat, nyanyi sekenceng-kencengnya, nikmatin setiap dentuman bass tanpa kurang sedikit pun. Bedanya, kali ini kamu pulang dengan perasaan lebih lega. Nggak ada rasa bersalah karena ninggalin tumpukan sampah. Malah bangga karena bisa jadi bagian dari solusi, bukan masalah.
Ternyata, jadi penonton konser yang bertanggung jawab itu nggak bikin kita jadi ‘kaku’ atau nggak gaul kok. Justru ini cara baru buat nikmatin musik yang kita suka dengan lebih mindful dan keren. Ini bukan beban, tapi upgrade gaya hidup kita sebagai anak muda yang peduli sama masa depan.
Yuk, mulai dari konser berikutnya, kita coba bareng-bareng! Sedikit perubahan dari kita masing-masing, kalau dilakuin bareng-bareng, dampaknya bakal gede banget buat bumi kita. Siap jadi Sobat Ekuatorial penonton konser keren yang bikin bumi tersenyum?
- Tekanan pariwisata menghimpit ruang hidup kawasan karst Gunung Sewu
Karst Gunung Sewu bukan sekadar objek wisata atau sumber pendapatan. Kawasan ini merupakan ruang hidup yang kerap terabaikan. - RUU iklim dinilai belum layak, WALHI berikan tujuh catatan kritis
RUU PPI versi pemerintah dinilai belum layak menjadi landasan hukum penanganan krisis iklim, sebab secara substansi masih jauh dari agenda keadilan iklim. - Tekanan ekologis di Batam menelan 90% tutupan mangrove dalam 50 tahun
Tekanan ekologis di pesisir Batam diakibatkan pembangunan masif, reklamasi pesisir, hingga perubahan status kawasan hutan. - Beban lingkungan yang berulang di balik wacana pemangkasan batu bara
Penurunan produksi di dalam negeri tetap menjadi warisan jangka panjang kerusakan lingkungan yang sudah terjadi di wilayah tambang. - Belajar keberlanjutan dari Kampung Adat Banceuy
Bagi warga Kampung Adat Banceuy, keberlanjutan tidak pernah dimulai dari peta tata ruang atau laporan teknis tapi hidup dalam praktik sehari-hari. - Keanekaragaman hayati dan digitalisasi: Asia Tenggara di persimpangan jalan
Di Asia Tenggara, teknologi digital berkembang secepat pembukaan hutan dan perluasan tambang. Di tengah janji transisi hijau dan pertumbuhan digital yang sangat pesat, kawasan ini menghadapi tekanan lingkungan yang kian berat di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang tidak adil.






