Bunyi chainsaw menderu sekitar 5 menit, Kamis (28/1/2026). Gergaji mesin itu dioperasikan Arifin. Ia sedang memotong pohon kelapa sawit yang sudah berbuah, berusia 8 tahun. Sawit tersebut berada di lahan yang dikelola Kelompok Tani Hutan Pematang Telang, dalam konsesi Hutan Harapan, Jambi.
Ekspresinya terlihat puas usai kelapa sawit yang ditanamnya sendiri itu berhasil tumbang. Ini bukan pohon sawit pertama yang ditebangnya. “Ini pohon yang ke-36,” kata pria berkulit sawo matang itu. Setelahnya, ia kembali memotong sawit yang baru satu tahun tanam, berjarak tak sampai 10 meter dari yang sebelumnya ditumbangkan. Aksi menumbang pohon sawit itu dilakukannya berbarengan dengan hari menanam pohon serentak di Jambi, yang dipusatkan di Kecamatan Jaluko, Muarojambi.
Rencananya, pohon sawit yang sudah tumbang itu akan diganti dengan tanaman buah. Sementara di sekitarnya, sudah ditanaminya gambir, di sela sawit. Bahkan gambir itu sudah mulai dipanen. Ada juga tanaman keras dan tanaman buah yang telah ditanami sejak dua tahun yang lalu di lahan itu, seperti durian, petani, jengkol, dan yang lainnya.
Tindakannya mengganti komoditas sawit secara perlahan itu merupakan bagian dari rencana jangka benah. Mengingat kebun sawitnya berada di dalam kawasan hutan, Arifin dan anggota kelompoknya hanya bisa mengelola sawit di sana untuk satu daur. Mereka sudah memulai persiapan sejak dini.
Jangka Benah adalah periode waktu untuk memulihkan struktur dan fungsi ekosistem hutan yang terganggu akibat perluasan perkebunan kelapa sawit monokultur, dengan cara mengubah kebun sawit secara bertahap menjadi hutan campuran hingga akhirnya menyerupai hutan alami. Ini adalah strategi sosio-teknis-kebijakan untuk masalah “keterlanjuran” sawit di kawasan hutan.
Pria yang pernah tinggal di Jakarta itu mengakui, berkebun di dalam hutan yang dikelola oleh PT REKI tersebut awalnya dengan status sebagai perambah. Anggotanya pun demikian. Kelompok ini tercatat menguasai 60 ha Hutan Harapan.
Ia merasa tak nyaman dengan status sebagai perambah, akhirnya mengajukan diri sebagai kelompok tani hutan. Permintaan itu diakomodir negara sebagai bagian dari resolusi konflik. Status perambah kini telah lepas dari diri mereka, dan tak lagi harus menghadapi persoalan hukum atas penggunaan lahan dalam kawasan hutan.
Kelompok yang dipimpin Arifini telah menanam sekitar 2,5 hektare tanaman gambir. Tanaman ini dipanen daunnya. Setelah itu daun direbus, selanjutnya dipres untuk memeras getah daun. Cairan tersebut didinginkan beberapa waktu, hingga akhirnya siap dicetak dan dijual. Mereka menghasilkan 104 kilogram pada tahap awal, dengan harga rata-rata Rp 50 ribu per kilogram.
Menurutnya, hasil gambir ini cukup menjanjikan. Hasil yang didapat pada tahap awal, yang masih menggunakan alat manual, sudah dirasa lumayan. Daun yang siap dipetik saat ini belum terlalu banyak. Bila tanaman yang dibudidayakan itu semakin banyak, ia yakin hasilnya akan melimpah.
“Bagusnya tanaman gambir ini bisa tumbuh di sela tanaman sawit. Ketika nanti sawit sudah tidak lagi produktif, kami sudah punya hasil yang diharapkan, dari gambir dan tanaman buah yang kami tanam sejak sekarang secara bertahap,” tuturnya.
PT Restorasi Ekosistem Indonesia yang bermitra dengan kelompok tani ini, mendukung upaya itu, mulai dari melakukan studi banding hingga pascapanen. Adam, Direktur PT REKI mengungkapkan inisiatif menanam gambir berasal dari KTH Pematang Telang. Perusahaan kemudian memfasilitasi kelompok ini untuk studi banding ke sumatera barat. Hasil olahan gambir juga ditampung.
“Intervensi selanjutnya yang akan kami lakukan dengan memberi fasilitas alat press hidrolik, agar kualitas dan kuantitas yang dihasilkan lebih maksimal,” kata Adam.
KTH Pematang Telang, menurutnya cukup progresif dalam pelaksanaan jangka benah. Penggantian sawit sudah mulai dilakukan, penananam pohon hutan dan buah juga telah berjalan, ditambah lagi dengan penanaman gambir yang mulai digalakkan. Penanaman gambir ini bisa diduplikasi kelompok lainnya terutama yang berada di areal Hutan Harapan.
Reforestasi yang dilakukan oleh kelompok tani ini menjadi Langkah positif untuk perbaikan kondisi ekosistem Jambi yang semakin kritis. Dalam catatan KKI Warsi, Jambi mengalami kehilangan tutupan hutan sekitar 2,5 juta hectare dalam 52 tahun terakhir. Luas tutupan hutan Jambi kini tersisa 929 ribu ha, atau setara dengan 18,54 persen dari luas daratan di daerah ini. Kerusakan masih terus terjadi, termasuk dalam 10 tahun terakhir, Jambi kehilangan 112 ribu ha tutupan hutan.

Mewariskan Kehidupan
Pelaksanaan penanaman pohon serentak di Provinsi Jambi dihadiri sejumlah petinggi Kementerian Lingkungan Hidup, Gubernur Jambi, dan unsur terkait lainnya. Staf Ahli Menteri LH, Nur Adi Wardoyo menyampaikan apresiasi pelaksanaan penanaman pohon serentak di Provinsi Jambi sebagai bagian dari HUT Provinsi Jambi.
Nur Adi menyebut, gerakan penanaman pohon sebagai bentuk kesadaran dalam menjaga lingkungan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Menanam pohon merupakan upaya mewariskan kehidupan yang lebih baik untuk generasi saat ini dan yang akan datang.
Ia mengingatkan agar menanam pohon serentak dilakukan secara berkelanjutan. “Tidak berhenti di acara hari ini, tetapi bergulir ke seluruh penjuru Jambi, dilakukan semua stakeholder,”kata Nur Adi Wardoyo dalam sambutannya, mewakili Menteri LH yang sudah sempat di Jambi namun mendadak pulang lagi ke Jakarta sebelum acara dimulai.
Penanaman pohon di daerah kritis, termasuk di DAS Batanghari, kata dia, akan mengurangi resiko longsor dan banjir.
Gubernur Al Haris menyatakan gerakan penanaman pohon serentak ini upaya pemulihan areal yang sudah terdegradasi atau mengalami kerusakan. Bibit yang digunakan untuk penanaman serentak ini meliputi bibit kayu-kayuan, bibit penghasil hasil hutan bukan kayu, dan jenis-jenis multipurpose tree species (MPTS).
Sementara di Pematang Telang, di hadapan perwakilan kelompok tani yang turut melaksanakan aksi penanaman pohon serentak, Direktur PT REKI, Adam, mengatakan bahwa upaya melestarikan hutan, termasuk di dalamnya penanaman pohon, merupakan ikhtiar mewariskan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Dia meminta kelompok tani hutan yang bermitra dengan PT REKI terlibat aktif dalam menjaga dan melestarikan kawasan itu. “Kami mengharapkan bapak/ibu yang hadir hari ini, dan anggota yang tak bisa datang, juga menjaga perpanjangan mata dan telinga kami menjaga wilayah ini,” kata Adam.
Hutan Harapan, yang dikelola PT REKI, memiliki luas 98.555, berada di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Kawasan ini jadi konsesi restorasi ekosistem pertama di Indonesia, dan merepresentasikan sekitar 20 persen keanekaragaman hayati di pulau Sumatera.
Dikutip dari website Hutanharapan, di areal restorasi ekosistem sedikitnya terdapat 374 spesies yang terdiri atas 55 spesies klas mamalia, 293 spesies klas aves, 38 spesies klas reptilia dan 26 spesies klas amfibia. Jumlah spesies fauna yang tergolong dalam spesies endemik atau dilindungi oleh undang-undang di dalam areal restorasi ekosistem terdapat sebanyak 44 specses atau 29,33 persen terdiri atas 20 species klas mamalia, 22 spesies klas aves, dan 2 spesies klas reptilia.

Kami Mau Hidup Di Sini
Di Kawasan Hutan Harapan, secara turun temurun telah dihuni oleh Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan. Mereka sangat menggantungkan hidupnya pada hasil hutan. Hingga kini masih demikian tapi sudah mulai melakukan budidaya. Bahkan sudah ada juga yang menanam kelapa sawit.
Nurdin, satu di antara warga SAD Batin Sembilan, menyebut mereka memiliki ketergantungan yang sangat besar dengan hutan. Mereka memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti getah jelutung, madu sialang, dan yang lainnya. Pria ini merupakan Ketua Kelompok Tani Hutan Maliki.
Saat ini ia dan anggota kelompoknya sedang membudidayakan karet dan tanaman buah pada areal di Kawasan PT REKI. Mereka menempati bekas lahan kebakaran. Cukup berat perjuangan mereka di wilayah itu, sebab karet dan tanaman lain yang sudah mereka tanam juga pernah kebakaran.
Walau begitu Nurdin tetap yakin pada akhirnya mereka semua akan berhasil. Saat ini tanamannya sudah mulai menjulang tinggi. Ia juga melakukan penanaman ubi dan pisang. Kelompok ini berada di zona penting, sebab berbatasan langsung dengan kawasan yang telah dirambah. Mereka di titik itu berperan juga mengadang perambah masuk ke kawasan Hutan Harapan.
“Kami mau tetap hidup di sini. Kalau ini (hutan harapan) rusak, hidup kami juga akan terganggu. Di sini kami mencari makan, di sini keluarga kami, di sini kehidupan kami,” ucap Nurdin.
Kebutuhan pada hutan dengan kondisi baik bukan semata-mata untuk sumber kehidupan sehari-hari. Tapi di sana juga tempat tumbuhnya tanaman kunci dalam pengobatan tradisional suku Batin Sembilan, dan untuk ritual. Untuk pelaksanaan tradisi pengobatan basaleh, mereka mencari bahan-bahannya dari dalam hutan.
Yunani, perempuan dari Suku Batin Sembilan, mengajak langsung ke hutan di belakang rumahnya. Di sana ia menunjukkan berbagai jenis tanaman yang menjadi obat. Di antaranya adalah pasak bumi. Akar tanaman ini digunakan mereka untuk berbagai jenis penyakit. “Khasiatnya banyak, bisa dibilang untuk semua jenis penyakit bisa pakai akar pasak bumi,” katanya.
Bahkan, mereka juga membudidayakan gandum dalam skala kecil. Namun gandum ini bukan untuk dikonsumsi sehari-hari. Yunani menyebut hanya digunakan untuk ritual seperti untuk sesajen.
Hanya saja, saat ini pengobatan tradisional sudah mulai jarang digunakan. Yunani mengatakan obat kimia sudah lebih banyak dikonsumsi saat sakit. “Kalau obat dari dokter kan lebih cepat sembuhnya, dan lebih praktis. Kalau pakai tanaman obat ini, bisa dibilang lebih lama, dan harus mencari lagi ke hutan,” tuturnya.
- Arifin Bangga Tebang 37 Pohon Sawit di Hutan Restorasi
- Tanah Ulayat Masyarakat Adat Rantau Kasai Dihimpit Kepentingan Korporasi
- Petani di Bengkulu Ditembak, lalu Dijadikan Tersangka
- Nelayan Sulit Makan, Air Sungai Siak Kian Menghitam karena Limbah
- Kecemasan Publik terhadap Rencana Pembangunan PLTN
- Labirin Lumpur di Perbukitan Kapur Jampang