Pukul 06.50 WIB, Kamis 12 Februari 2026, Tapaktuan baru saja beranjak dari kantuknya. Dari ibu kota Kabupaten Aceh Selatan itu, perjalanan menuju pedalaman dimulai. Aspal perlahan berganti jalan yang lebih sempit, sebelum akhirnya berhenti di Dermaga Jambur Teka, Desa Lawe Melang, Kecamatan Kluet Tengah.
Pukul 06.50 WIB, Kamis 12 Februari 2026, Tapaktuan baru saja beranjak dari kantuknya. Dari ibu kota Kabupaten Aceh Selatan itu, perjalanan menuju pedalaman dimulai. Aspal perlahan berganti jalan yang lebih sempit, sebelum akhirnya berhenti di Dermaga Jambur Teka, Desa Lawe Melang, Kecamatan Kluet Tengah.

Warung papan berdiri sederhana di tepian.
“Parkir di sini, aman kok,” ujar penjaga warung, sembari menunjuk sudut tanah berpasir. Tarifnya dua ribu rupiah. Kepercayaan menjadi karcisnya.
Tak jauh dari dermaga, seorang nelayan berdiri di atas perahu kecil. Jala dilempar dengan ayunan yang nyaris tak bersuara. Di bawah permukaan air yang kehijauan, ikan kerling berenang mengikuti arus.
“Selain ke kebun, kami ya mencari ikan kerling,” kata warga Manggamat, Irvan.Â
“Sekarang masih gampang dicari dan harganya mahal. Satu kilogram bisa Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu.” tambahnya.

Kerling bukan sekadar komoditas. Ia adalah pengikat antara hutan dan dapur warga. Nelayan itu lalu memandang ke arah hulu.
“Kalau hutan rusak dan sungai tercemar, pasti sulit dapat ikan ini.” tuturnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pada 2024, luas kehilangan tutupan hutan di Aceh Selatan mencapai 1.357 hektare, tertinggi di Aceh. Setahun sebelumnya, 2023, angka itu bahkan mencapai 1.854 hektare, juga di peringkat pertama.
Angka-angka itu mungkin terasa jauh dari sungai yang tampak tenang pagi itu. Namun bagi warga di hilir, kehilangan hutan di hulu menjelma menjadi banjir setiap musim penghujan. Air meluap, berubah cokelat, membawa lumpur dan kayu, merendam rumah beserta kebun.
Tekanan pada hutan tak hanya menghadirkan banjir. Ia juga memaksa satwa liar keluar dari ruang jelajahnya. Harimau sumatera, salah satu satwa kunci di bentang Kawasan Ekosistem Leuser kian sering terlibat konflik dengan manusia. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat, pada 2023, tiga individu harimau sumatera ditemukan mati akibat interaksi negatif.
Kematian itu menjadi alarm sunyi dari rimba yang menyempit.
Perjalanan ke Stasiun Penelitian
Perjalanan menuju hulu memperlihatkan bagaimana sungai dan hutan saling bertaut. Dua puluh menit pertama, kebun pinang dan pisang masih terlihat. Namun semakin jauh, dinding hijau hutan rapat berdiri di kiri kanan sungai. Kami memasuki bentang Kawasan Ekosistem Leuser, hamparan seluas 2,6 juta hektare yang membentang di 13 kabupaten/kota di Aceh dan sebagian Sumatera Utara.
Air kian jernih. Batu besar tersembunyi di bawah permukaan, memaksa juru kemudi membaca arus dengan hati-hati. Setelah satu setengah jam, perahu berbelok ke anak sungai yang lebih sempit. Arusnya deras, dangkal, dan lebih liar.
Di sebuah dermaga kecil dari batang kayu, perjalanan berhenti. Tangga tanah setapak sepanjang sekitar 100 meter menanjak ke dalam hutan. Udara terasa lebih lembab. Bau tanah basah bercampur daun gugur menyergap. Suara serangga bersahut-sahutan, memecah kesunyian.
Di ujung tanjakan itu, berdiri bangunan papan beratap biru, Stasiun Penelitian Sarah Baru.
Stasiun ini dibangun sejak Mei 2024 oleh Forum Konservasi Leuser, seluruh materialnya diangkut melalui sungai yang sama. Pada 2026, fasilitas itu resmi beroperasi sebagai stasiun penelitian keempat di bentang Leuser.
Bangunan seluas 17 meter Ă— 6,5 meter itu berdiri di atas lahan 486 hektare yang mencakup Area Penggunaan Lain dan Hutan Lindung. Dahulu, kawasan ini bekas perkebunan warga, jejaknya masih terlihat dari pohon durian tua yang menjulang di sekitar camp.

Kini, kawasan itu menjadi ruang riset. Empat staf rutin melakukan patroli dan pemasangan kamera trap. Penelitian difokuskan pada empat satwa kunci Leuser: gajah sumatera, badak sumatera, harimau sumatera, dan orangutan sumatera.
“Harapannya, ini menjadi ruang belajar sekaligus menjaga alam melalui penelitian,” kata Kepala Stasiun Penelitian Sarah Baru, Erwin Zuhri.
Di balik bangunan kayu itu, kerja-kerja sunyi berlangsung: mencatat curah hujan, membaca jejak, memeriksa kamera, memastikan tidak ada jerat. Upaya kecil di tengah bentang hutan luas yang terus tertekan.
Sungai Krueng Kluet tetap mengalir di bawahnya. Di hilir, nelayan masih melempar jala dan menghitung harga kerling. Di musim hujan, warga masih was was menunggu air naik. Di rimba, harimau masih berusaha mempertahankan ruang jelajahnya.
Semua terhubung oleh satu hal yang sama, hutan.
Di hulu yang sunyi itu, masa depan sungai sebenarnya sedang dipertaruhkan. Jika rimba tetap tegak, air akan tetap jernih, kerling akan tetap berenang, dan konflik mungkin dapat ditekan.
Namun jika hutan terus menyusut, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah keseimbangan antara manusia, satwa, dan sungai yang selama ini menghidupi mereka.
Di tengah luas Leuser yang 2,6 juta hektare, stasiun kecil itu mungkin hanya setitik. Tetapi dari titik kecil itulah, perlawanan terhadap kehilangan dimulai.
