Ekuatorial

Data. Maps. Storytelling.

BIODIVERSITAS DAN JURNALISTIK LINGKUNGAN

July 18, 2010

thumbnailOleh : Mike Shanahan

Tulisan ini menjelaskan mengapa berkurangnya biodiversitas akan menjadi sebuah cerita yang teramat penting dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini telah memunculkan berbagai cara bagi para jurnalis untuk terus menambah hasil berita mereka dan membuatnya memiliki arti lebih bagi para pembacanya.

Biodiversitas – keanekaragaman jenis gen, spesies, dan berbagai ekosistem di planet bumi – berkurang lebih cepat dibandingkan waktu kapan pun terutama sejak punahnya dinosaurus. Dampaknya sangat besar, bagi kemanusiaan dan bagi berbagai usaha untuk mengurangi kemiskinan dan perubahan iklim. Sebelumnya, media telah memberitakan soal ancaman lingkungan paling penting ini, sebagian karena para peneliti dan para pembuat kebijakan telah gagal dalam menyampaikan isu ini dengan cara yang sesuai bagi kebanyakan orang.

Poin Utama:

– Biodiversitas itu diperlukan bagi kehidupan yang lebih baik tetapi kini terancam oleh makin tuanya usia bumi. Sebelumnya, pemberitaan di media tidaklah membahas mengenai masalah ini, dan paling tidak hal ini disebabkan oleh istilah “bio-diversitas” itu sendiri yang sulit untuk dimengerti.

– Para jurnalis perlu untuk memberitakan hal ini secara lebih baik dengan cara lebih banyak belajar mengenai isu ini sendiri dan membingkainya dengan segala cara agar dapat dimengerti oleh para pembacanya.

– Para peneliti dan para pembuat kebijakan juga harus bekerja lebih keras untuk menjelaskan mengenai bagaimana pentingnya alam bagi manusia, baik dengan menggunakan jargon-jargon dan berbagai contoh yang membuat isu ini menjadi begitu nyata.

– Kunci keberhasilan dari penyampaian informasi ini terlihat melalui kemampuan untuk menunjukkan kepada masyarakat tentang bagian dari bio-diversitas, kepercayaan terhadap manfaat bio-diversitas dan rasa kehilangan yang mendalam jika bio-diversitas makin berkurang.

– Bio-diversitas akan semakin banyak dan semakin penting dalam beberapa tahun ke depan, sebagai cerita utama dalam masyarakat internasional dan terjadinya perubahan iklim pun bisa ditekan.

 

Di mana pun dan kapan pun

Obat-obatan alami…air bersih dan makanan bernutrisi…keadaan iklim yang stabil…inspirasi yang muncul setiap hari, reakreasi dan kehidupan yang tenteram untuk semuanya. Semuanya telah didapat secara gratis oleh nenek moyang kita dari alam dan apa yang kita lakukan sekarang, dengan merusak alam, telah memunculkan berbagai resiko bagi keturunan-keturunan kita dan tentunya diri kita sendiri. Beranekaragamnya kehidupan di bumi – dan berbagai cara yang berbeda dari interaksi di dalam bagian-bagian biodiversitas – memberikan kita sebuah jasa di mana kita tergantung terhadapnya tanpa kita pernah sadari.

Bagaimana pun juga, jenis-jenis keanekaragaman itu cepat sekali rusak atau punah. Pada masa lalu, segalanya pernah juga terjadi, yaitu pada 65 juta tahun yang lalu, ketika tiga dari keseluruhan spesies, termasuk dinosaurus, yang hilang dalam sebuah pemunahan massal. Baru-baru ini, kita telah berulang kali diingatkan tentang cepatnya arus kepunahan dari segala unsur pembentuk alam yang telah berdampak besar terhadap semua orang di bumi. Pada tahun 2005, UN Millennium Ecosystem Assessment menunjukkan bahwa banyak sekali jasa dari alam sekitar terhadap kehidupan kita – misalnya saja dalam penangkapan ikan – yang kini mulai berada di ambang pengrusakan dan bisa saja rusak suatu hari nanti. Setahun yang lalu, laporan dari UN Environment Programme’s 4th Global Environment Outlook telah memperingatkan bahwa berkurangnya atau rusaknya bio-diversitas secara terus menerus, tentu akan membatasi berbagai pilihan dalam kemajuan-kemajuan di masa yang akan datang.

Sebelumnya telah disampaikan oleh media bahwa akan sangat mudah untuk menganggap bahwa perubahan iklim adalah tantangan utama dalam masalah lingkungan hidup secara global. Sebagai bagian dari para jurnalis, media memang jarang memberitakan secara mendalam soal kerusakan bio-diversitas. Para jurnalis sebenarnya bisa lebih mempertajam cakupan dari pemberitaan mereka, untuk menekan para politisi agar menepati janji-janji yang telah mereka buat, dan agar kekuasaan rakyat dapat memilih apa yang dikira lebih baik bagi kehidupan mereka. Pada saat yang bersamaan, para jurnalis berpengalaman percaya bahwa informasi yang ada telah gagal menyampaikan isu-isu ini dengan cara yang penuh arti. Mereka perlu bekerja keras dalam mendeskripsikan mengenai pentingnya alam bagi kehidupan manusia dan menjelaskan seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan jika kita merusaknya. Bagian dari masalah ini sebenarnya berada dalam konsep mengenai bio-diversitas itu sendiri.

 

Apakah ini dan mengapa ini terjadi?

Biodiversitas memang kompleks dan bukanlah konsep yang mudah untuk dijelaskan. Kata “bio-diversitas” tercipta pada tahun 1980 dan sampai sekarang masih diselimuti kesalahan dalam pemahamannya dan kesalahan dalam penggunaannya. Media selalu memberitakan soal buruknya keadaan dari spesies langka yang karismatik seperti harimau, atau mengenai ancaman terhadap hutan-hutan tropis dan terumbu karang. Tetapi biodiversitas memiliki arti yang lebih dari sekedar kehidupan di alam liar atau di tempat-tempat terbuka. Biodiversitas meliputi keseluruhan dari keanekaragaman jenis gen, spesies dan berbagai ekosistem di planet bumi.

Biodiversitas mencakup tanaman pokok yang kita makan dan berbagai serangga yang menyerbukinya; tumbuh-tumbuhan yang kita gunakan untuk obat-obatan tradisional dan obat-obatan modern; bakteri yang membantu tanah menjadi subur sehingga menyukseskan proses bertani; dan plankton kecil di dasar rantai makanan yang berakhir ketika dimakan ikan atau tersaji di piring kita saat makan malam. Bio-diversitas mencakup berbagai ekosistem seperti hutan-hutan yang mengatur persediaan air dan mengatur iklim. Dan, biodiversitas mencakup keanekaragaman di dalam dan di antara jenis-jenis gen, spesies, dan berbagai ekosistem yang menciptakan susunan dalam kehidupan manusia. Ini semua adalah jaring-jaring alam yang aman. Mereka membantu masyarakat dengan berani menghadapi ketidaktentuan dan ketidakjelasan seperti variabel-variabel iklim.

Kahidupan yang alami memang sangat rentan terhadap campur tangan manusia di mana pun itu, tetapi tidak bagi desa-desa tertinggal yang ada di negara-negara berkembang, di mana ditemukan berbagai spesies di bumi dan terdapat ancaman yang besar terhadap spesies-spesies itu. Dalam beberapa tahun ke depan, akan banyak ketetapan yang diumumkan dan mulai menghubungkan kembali manusia dengan bio-diversitas di dalam agenda politik global. Kita akan mempelajari berbagai hasil dari usaha keras yang telah dilakukan untuk menemukan nilai-nilai ekonomi dari keanekaragaman hayati di muka bumi. Kita akan melewati batas tenggat waktu bagi pemerintah agar setuju mengenai bagaimana membagi secara adil dan wajar terhadap keuntungan-keuntungan yang akan dihasilkan oleh keanekaragaman hayati yang ada. Dan, kita akan mempelajari soal apakah negara-negara di dunia akan menepati janji-janji mereka untuk menekan punahnya biodiversitas di bumi. Berita buruk atau pun berita baik yang akan muncul di kolong langit, para jurnalis dan para narasumber mereka mesti bersiap untuk menberitakan hal tersebut dengan lebih baik.

 

Emas hijau dan “malapetaka-dan-kesuraman”

Dari dulu media telah memberitakan keadaan dari kehidupan alami bumi melalui sebuah lensa malapetaka dan kesuraman, yang diinspirasi oleh pesan-pesan dari berbagai NGO dan para peneliti. Kita mendengar soal keadaan darurat dan perang (baik itu oleh alam atau bukan), dari sebuah “perpustakaan kehidupan” yang telah terbakar sebelum buku-bukunya bisa untuk dibaca, akibat “kiamat ekologis”. Tetapi para peneliti menunjukkan bahwa bencana ini secara naratif segera menjadi sebuah persimpangan. Hal ini menjadi benar terutama ketika berita yang ada lebih fokus pada spesies-spesies tertentu atau menempatkan biodiversitas pada sebuah skala yang global. Beberapa pendekatan bisa memberikan kesan bahwa berbagai masalah juga dapat terjadi di mana pun, ketika sebenarnya kerusakan biodiversitas merupakan sebuah isu lokal dari semakin tuanya bumi.

Baru-baru ini, media mulai menyajikan garis positif dalam menceritakan sebuah bencana, salah satunya adalah sorotan mengenai masalah keuntungan ekonomi dan sosial dalam pelestarian alam. Cerita positif ini memfokuskan pada beberapa hal seperti keberhasilan konservasi atau fokus pada “emas hijau” – berbagai cara baru bagi dunia bisnis untuk mendapatkan keuntungan dari hasil atau jasa yang diperoleh dari alam. Bentuk pemberitaan seperti ini memang lebih mendominasi. Hal itu juga membuat menusia untuk berbuat sesuatu yang lebih baik bagi biodiversitas (dan manusia itu sendiri) dan menunjukkan nilai jual dari berbagai keutuhan ekosistem.

Meskipun terjadi perubahan, biodiversitas menunjukkan kecenderungan yang datar dan hanya berjalan satu sisi saja. Berbagai cerita yang ada seringkali hanya menjadi sebuah janji (misalnya saja para peneliti “bioprospecting” untuk obat-obatan potensial yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan hutan hujan) atau hanya menjadi sebuah ancaman (misalnya saja “biopiracy”, ketika para peneliti keliru dalam penelitian biologi dan/atau keahlian tradisional untuk mendapatkan keuntungan komersial). Media jarang menyajikan sebuah penilaian yang berimbang dari dua hal yang tengah bertikai tersebut. Dalam beberapa berita yang cukup besar, antara negatif dan positif, selalu ada yang dikorbankan, sebuah sisi cerita yang sebenarnya tidak bisa ternilai jika keduanya dilibatkan.

Berbagai laporan tentang kerusakan biodiversitas jarang sekali mempertanyakan mengenai seberapa besar peran kita sehingga mengakibatkan hal ini terjadi. Laporan itu cenderung untuk tidak memberikan penjelasan bahwa beberapa kerusakan biodiversitas ternyata sangat berpengaruh dalam menopang dan memperbaiki kehidupan manusia. Maksud mereka bahwa kebanyakan bentangan alam itu kaya akan spesies atau habitat karena manusia telah memodifikasi lingkungan sekitar. Sebagai contoh, wilayah pertanian kaya akan dua hal, yaitu varietas hasil panen dan spesies alam yang mengganggu tanaman tersebut, ini adalah habitat yang terbuka.

Cerita positif yang ada ternyata jarang menganalisa apakah inisiatif dalam melakukan konservasi atau wujud dari hasil biodiversitas itu benar-benar cukup atau benar-benar berkelanjutan, dan siapa saja yang mengambil keuntungan dari hal ini. Media juga bertahan untuk tidak menyuarakan hal ini dan memandang bahwa manusia paling bergantung kepada alam, seperti masyarakat pribumi dan masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang. Masyarakat yang disebutkan tadi seringkali menjaga bio-diversitas yang ada dan memiliki sebuah pengetahuan tradisional yang kaya raya, tetapi mereka hanya memiliki sedikit kesempatan bersuara untuk memutuskan apa yang lebih penting untuk diselamatkan, dan bagaimana melindungi dan memanfaatkannya dengan baik.

 

Melindungi biodiversitas

Memang sangat sulit untuk menjelaskan soal ancaman yang ditujukan pada berjuta-juta spesies ketika kebanyakan orang – terutama penduduk urban – secara personal hanya memiliki sedikit pemahaman terhadap masalah ini. Setengah dari kalori yang kita makan, misalnya, hanya diperoleh dari 3 tumbuhan (total 30.000 tumbuhan di dunia yang dapat dimakan) di dunia yang dapat dimakan (beras, gandum, jagung). Tantangannya bagi media dan para narasumber adalah membuat cerita yang menghubungkan kekayaan alam dengan kehidupan manusia setiap harinya. Dengan angka mengenai cerita-cerita global yang muncul, para jurnalis akan menemukan cara untuk membuat cerita-cerita global tersebut menjadi isu lokal yang relevan. Lensa yang ada telah menganjurkan berbagai cara kepada para jurnalis agar menyajikan konteks yang lebih relevan dengan mencari segi yang menarik dan juga para narasumbernya.

– Uang Beberapa orang mengeluarkan banyak uang untuk merusak biodiversitas, beberapa yang lain menggunakan uangnya untuk membuat biodiversitas terus terjaga. Bagaimana sebenarnya kekayaan ini dibagi? Bagaimana bisa dampak dari aktivitas ekonomi yang berasal dari kekayaan alam dibawa ke dalam neraca?

– Hak Asasi Manusia Konservasi yang objektif bisa dengan mudah bertabrakan dengan kebutuhan manusia, terutama ketika hak asasi manusia terabaikan. Bagaimana masyarakat bisa sangat bergantung kepada alam di mana mereka menilai bahwa mereka memiliki cara untuk mengatur biodiversitas? Ini tidak hanya sebuah pertanyaan tentang manusia versus taman-taman. Tentu serupa dengan isu mengenai hak-hak masyarakat dalam mendapatkan tanah, air dan sumber daya alam lainnya, ada beberapa pertanyaan tentang hak-hak mereka untuk memelihara kontrol dari pengetahuan tradisional dan penelitian-penelitian biologis yang diambil dari tanah nenek moyang mereka. Pada tahun 2007, UN General Assembly mengadopsi deklarasi Rights of Indigenous Peoples, yang mendorong negara-negara untuk memberikan masyarakat pribumi sebuah kontrol yang lebih terhadap tanah tradisional dan sumber daya alam di dalamnya. Bagaimana pun juga, deklarasi itu memang tidak legal di mata hukum dan ditentang oleh Australia, Kanada, Selandia Baru dan Amerika Serikat (Australia sekarang sudah mengadopsi deklarasi tersebut).

– Politik Internasional

The UN Convention on Biological Diversity (CBD) secara resmi telah mengikat 190 negara dan Uni Eropa untuk melindungi sumber daya biologi, menggunakannya secara berkelanjutan, dan membagi keuntungan yang didapat dari penggunaan sumber daya genetik secara wajar dan pantas. (Amerika Serikat telah menandatanganinya tetapi tidak meratifikasi CBD.) Anggota CBD bertemu secara rutin untuk merundingkan bagaimana caranya mengimplementasikan isi dari konvensi dan ada banyak intrik politik dan tekanan dari ketertarikan pihak pribadi seperti perusahaan-perusahaan multi-nasional. Para jurnalis jarang menutupi masalah ini, tetapi hal ini mungkin tidak mengejutkan. Proses CBD benar-benar merupakan sebuah teknik yang tinggi, kaya akan jargon, dan membagi banyak kelompok kerja. Hal ini memang sulit bagi para jurnalis yang baru masuk dalam CBD dan baru mengerti apa yang tengah terjadi. Tentu tidak sama dengan UN Framework Convention on Climate Change, yang menjadikan Kyoto Protocol sebagai target dan peraturan yang mengikat, keputusan dalam CBD lebih sulit untuk dikaitkan dengan berbagai perubahan di muka bumi.

– Perubahan Iklim Kepedulian publik terhadap perubahan iklim sangat tinggi dan terus meningkat, dan hal ini memberikan para jurnalis sebuah poin masukan untuk juga membahas biodiversitas, dan banyaknya pertanyaan yang mesti dijawab. Akankah perubahan iklim – dan berbagai upaya untuk menanggulanginya – mempengaruhi kehidupan alam? Apakah semuanya adalah berita buruk atau akankah beberapa spesies memberikan keuntungan dan memberikan manfaat bagi manusia? Apakah dampak dari produksi biofuel di hutan, keanekaragaman hasil panen, masyarakat pribumi dan masyarakat lokal? Bagaimana caranya konvensi UN tentang biodiversitas dan perubahan iklim dapat bekerja secara bersamaan, dan kapan terjadi perselisihan di antara keduanya? Apakah lebih baik melindungi sebuah keutuhan, bio-diversitas hutan demi konservasi, atau lebih baik mengatur perkebunan dengan keanekaragaman yang minim yang bisa membawa keuntungan komersial, dengan tujuan menyimpan karbon untuk mitigasi perubahan iklim?

– Kesehatan Kehidupan di alam ikut mempengaruhi kesehatan dalam berbagai cara. Kehidupan di alam merupakan sumber dari dua hal, yaitu diet yang seimbang dan kemunculan banyak penyakit baru, seperti SARS dan Ebola. Alam juga menyediakan berbagai jenis pengobatan. Lebih dari setengahnya biasanya adalah obat-obatan – senilai 10 milyar dolar – diperoleh dari hasil-hasil alam. Dan sekitar 60 % manusia di negara berkembang masih percaya kepada pengobatan tradisional – kebanyakan yang berasal dari tumbuhan – demi perlindungan kesehatan mereka. Tetapi beberapa spesies mulai punah sebelum potensinya dalam mengobati penyakit dapat diketahui. Yang juga mempengaruhi kesehatan adalah makanan yang kita makan, yang kebanyakan darinya berasal dari spesies yang menjadi bagian dari berbagai ekosistem fungsional yang kompleks, baik di alam atau lahan pertanian. Ancaman bagi bio-diversitas dengan pengaruh potensialnya yang bisa merugikan nutrisi manusia termasuk serangan penyakit populasi dari serangga penyerbuk, dan penurunan jumlah benih buah-buahan oleh kelelawar, burung dan primata sebagai hasil dari perburuan dan pengrusakan habitat. Sementara itu, keanekaragaman dari hasil tanaman panen telah berkurang di banyak wilayah yang dijadikan sebagai industri monokultur yang menggantikan pertanian tradisional. Jika kecenderungan ini terus berlanjut dan perubahan iklim terus terjadi, ada sebuah bahaya bagi manusia yang akan memperoleh lebih sedikit makanan dan juga lebih sedikitnya pilihan hidup mereka. Manusia juga bisa menggunakan bio-diversitas untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim, seperti penggunaan keanekaragaman tanaman untuk memilih varietas yang lebih baik yang cocok untuk kondisi yang berubah.

– Religi Banyak kepercayaan yang melihat kehidupan alam dan hubungannya dengan sebuah dimensi spiritual. Hal ini berasal dari keanekaragaman hidup di bumi yang bersifat ketuhanan dan dorongan dari para pengikutnya untuk peduli terhadap alam. Bahkan dalam masyarakat religius yang fanatik, biodiversitas turun dengan drastis dan media jarang menampilkan komentar dari para pemimpin religius tentang kerusakan atau penurunan bio-diversitas ini. Baru-baru ini, kelompok-kelompok religi dalam sebuah kesempatan telah mulai membuat pernyataan terhadap kondisi lingkungan. Ini merupakan sebuah sudut lain bagi para jurnalis yang bisa dikembangkan lebih dalam lagi sebagai sesuatu yang mempunyai hubungan dengan sebagian besar pembaca.

 

Kembali ke alam

Selama bertahun-tahun, redaktur media telah mendorong pemberitaan mengenai lingkungan untuk terus diterbitkan. Fenomena perubahan iklim di publik dan berbagai agenda politik telah mengubah ini semua, tetapi para jurnalis mesti ingat bahwa masih ada tantangan lingkungan hidup global lainnya yang mesti diungkapkan.

Terutama sekali, cerita tentang bagaimana kehidupan manusia bergantung kepada alam dan bagaimana manusia mengendalikan kerusakan itu yang sebenarnya perlu diceritakan dengan sebuah cara yang lebih canggih. Ketika peringatan tentang bencana arus kepunahan mengisi headline, mereka cenderung untuk mencair dari agenda media. Apa yang seringkali hilang adalah sisi kemanusiaan, dan ini menciptakan jarak bagi persoalan dari sudut pandang manusia.

Para jurnalis dan para ahli percaya pada sebuah informasi yang bisa lebih baik disampaikan mengenai biodiversitas dengan menggunakan cara yang bisa dimengerti oleh semua orang. Hal ini berarti menghindari penggunaan jargon – termasuk kata “biodiversitas”, yang sering kita lihat sebagai sebuah kesesuaian dan ketepatan tetapi sebenarnya sulit dimengerti dan tidak mudah untuk dijelaskan.

Ada banyak kesempatan untuk menyampaikan cerita dengan segi kemanusiaan yang kuat yang menunjukkan secara langsung tentang manfaat atau keuntungan dari kehidupan alam yang dibawa ke kehidupan masyarakat lokal. Cerita tersebut juga dibutuhkan untuk memberi tahu manusia seperti apa sebenarnya kerusakan alam yang tidak bisa dikendalikan.

Contoh sederhananya adalah hutan mangrove. Habitat di area tersebut ditemukan sepanjang pantai di seluruh wilayah tropis dan subtropis yang seringkali terlihat sebagai lahan kosong yang siap untuk dibangun. Tetapi masyarakat lokal memilih untuk mempertahankannya demi memperoleh makanan bagi generasi penerus mereka, berbagai pengobatan, dan materi bangunan dari mangrove tersebut. Banyak spesies dari ikan komersial penting berkembang-biak di antara pohon-pohon mangrove yang akarnya berada di dalam air dan hutan telah membantu untuk mengurangi toksin dari sungai sebelum mereka memasuki laut. Pepohonan juga melindungi area pantai dari hantaman angin besar dan gelombang air laut. Penelitian telah menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari sumber daya alam dan keuntungan tanaman mangrove adalah lebih besar bila dibandingkan dengan pertanian atau peternakan udang. Justru yang menyedihkan adalah pengrusakan akibat bencana tsunami pada tahun 2004 di Samudera Hindia yang bagi kebanyakan pembuat kebijakan telah menyadari resiko dari deforestasi mangrove akibat hal itu.

Keanekaragaman dalam hidup telah mengelilingi kita dan mungkin telah membuat kita menjadi buta akibat nilai kekayaannya. Tantangan utamanya adalah untuk mengingatkan manusia bahwa mereka merupakan bagian dari jaringan kehidupan, dan tidak terpisahkan darinya. Tanpa hal ini, maka semuanya akan dengan mudah dilupakan dari kehidupan kita – dan generasi ke depan – yang secara erat terhubung pada takdir dari berbagai bentuk kehidupan lainnya di bumi.

Diambil dari situs http://www.iied.org/pubs/pdfs/17037IIED.pdfdan diterjemahkan oleh Prihandoko

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Zoom:

Finish geocoding

×

Submit a story

Do you have news to share from the Amazon? Contribute to this map by submitting your story. Help broaden the understanding of the global impact of this important region in the world.

Find location on map

Find location on map