Ekuatorial

Environmental News Syndication

SOLAR SEL SUMBANG POLUSI UDARA LEBIH SEDIKIT

Agustus 28, 2010

thumbnailJakarta – Solar sel atau solar panelyang membangkitkan energi dari tenaga matahari telah lama disebut-sebut sebagai sumber energi yang lebih ramah terhadap lingkungan, bila dibandingkan dengan sumber energi dari bahan bakar fosil. Namun dalam perkembangannya, muncul kekhawatiran bahwa proses pembuatan atau produksi solar sel akan menyebabkan terjadinya polusi yang lebih berbahaya daripada polusi yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil.

Untuk mengurangi tingkat kekhawatiran yang ada, para ilmuwan mempelajari hal itu dengan cermat dan seksama. Sekarang ini, telah dapat disimpulkan bahwa solar sel menghasilkan polusi udara yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan sumber energi dari bahan bakar fosil. Data emisi polusi udara dikumpulkan oleh para peneliti dari 13 produsen di 4 besar tipe solar sel komersial di Eropa dan Amerika Serikat dari tahun 2004 hingga tahun 2006.

Pembuatan atau produksi solar sel atau yang biasa disebut photovoltaic memang membutuhkan bahan-bahan dari logam berat yang berbahaya, seperti timbal, mercury, dan cadmium. Bahan logam tersebut ternyata menghasilkan Gas Rumah Kaca (GRK), seperti karbon dioksida, yang berkontribusi terhadap terjadinya pemanasan global. Meskipun begitu, para peneliti menemukan fakta bahwa jika kita lebih memilih untuk beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi solar sel, maka polusi udara akan berkurang hingga 90 persen.

Meskipun pembuatan solar sel membutuhkan bahan-bahan dari logam berat, para peneliti mencatat bahwa batubara dan minyak juga mengandung bahan-bahan dari logam berat, yang tentunya dapat dilepaskan selama proses pembakaran berlangsung.

“Salah satu teknologi photovoltaic yang paling menjanjikan itu berasal dari cadmium telluride, tetapi cadmium itu sebenarnya adalah salah satu logam berat yang paling buruk. Namun, jika kita membandingkan secara langsung emisi dari cadmium telluride dengan bahan bakar batubara, maka emisi gas beracun akan berkurang sebanyak 300 kali lebih rendah,” papar seorang insinyur lingkungan dari Brookhaven National Laboratory di Upton, New York, Amerika Serikat, Vasilis Fthenakis, seperti dilansir dalam situs resmi LiveScience.

Fthenakis menambahkan bahwa sebenarnya kebanyakan emisi gas beracun dari pembuatan solar sel itu secara tidak langsung berasal dari bahan bakar fosil, yang membutuhkan energi listrik dalam proses pembuatannya. Memang sungguh ironis, pabrik-pabrik pembuat solar sel akan sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk proses pembuatan solar sel itu, karena tenaga solar sel sangat cepat habis ketika dipakai.

Fthenakis juga menambahkan bahwa para ilmuwan sedang meneliti berbagai cara untuk menyimpan kekuatan ekonomi solar sel dalam skala yang besar. Dengan melakukan hal tersebut, maka diharapkan akan dapat membantu terciptanya pabrik-pabrik solar sel yang mampu mengaliri tenaga surya, “Sebuah proses mandiri yang berkelanjutan,” begitu ucapnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) sekaligus ahli energi terbarukan dan anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi, Jumat  (27/8), menerangkan bahwa sekarang ini sumber energi dari solar sel memang masih sangat mahal bila dibandingkan dengan sumber energi dari bahan bakar fosil, terlebih lagi dengan kenyataan bahwa sumber energi dari bahan bakar fosil masih disubsidi oleh pemerintah sehingga harganya relatif lebih murah.

Saat ini, penggunaan sumber energi solar sel memang baru diterapkan di beberapa negara saja di dunia. Misalnya, di Taiwan sudah ada stadion yang menggunakan sumber energi solar sel, meskipun subsidi dari pemerintahnya masih sangat besar. Selain itu, sudah ada juga apartemen dan rumah di Amerika Serikat dan Jepang yang total menggunakan suplai solar sel sebagai sumber energinya. Meskipun memang dianggap masih terlalu mahal, penelitian ke arah efisiensi terhadap penggunaan solar sel ini memang sudah dilakukan oleh para ilmuwan dunia.

“Saya yakin dalam 10 hingga 20 tahun ke depan di pasaran sudah muncul solar sel yang lebih murah bila dibandingkan dengan sumber energi dari bahan bakar fosil. Nantinya, rumah-rumah penduduk akan menggunakan solar sel sebagai sumber energi tanpa disuruh dan diperintahkan, begitu juga dengan sektor industri sebagai salah satu pengguna energi terbesar di dunia,” prediksi Rinaldy. (prihandoko)

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta