Ekuatorial

Environmental News Syndication

Krisis Air Bersih di Ibukota Baru

Hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan Kompas dengan pH Strips-Indikator Universal menunjukkan air di rumah salah satu warga di Sepaku. pH air mencapai 57 yang artinya air berada di bawah standar baku mutu untuk air minum. Sumber: Debora Laksmi.

Januari 07, 2020

Liputan ini pertama kali diterbitkan di Kompas pada tanggal 23 Desember 2019 dan bagian pertama dari serial liputan tentang Daya Dukung Air di Kawasan Ibukota Baru.

 

Oleh M. Putri Rosalina dan Yosep Budianto

Sebagian besar luasan Pulau Kalimantan menurut kajian “Daya Dukung dan Daya Tampung Eko Region Kalimantan (2016)”, memiliki peran penyedia air bersih kategori tinggi dan sangat tinggi. Luasannya mencapai 38 juta hektar (70,9 persen).

Potensi yang sama juga dimiliki Kalimantan Timur. Bentang alam Kalimantan Timur dialiri oleh 31 daerah aliran sungai (DAS) dan mempunyai luasan tutupan hutan tertinggi se-Kalimantan (5,2 juta hektar).

Luasan areal hutan akan menjadi kawasan resapan air yang cukup besar yang bisa mengaliri sungai dan mengisi cadangan air tanah. Selain itu, ada kawasan karst dengan luasan terbesar se-Kalimantan yaitu 470.000 hektar, yang berperan penting untuk menjamin pasokan air melalui sungai bawah tanah dan mata air.

Kajian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2018) menyebutkan kelebihan alam di Kaltim. Sekitar 9,2 juta hektar (17,2 persen) lahan di Kaltim masuk dalam klasifikasi penyedia air bersih tinggi. Kawasan jasa ekosistem pengaturan tata air dan banjir juga memiliki luasan tertinggi, yaitu 8,3 juta hektar (15,56 persen).

 

Sumber: Resource Watch

 

Hal tersebut dibenarkan oleh Yohanes Budi Sulistioadi (42), Dosen Kehutanan Universitas Mulawarman yang menyebutkan kuantitas air di Kaltim cukup banyak. “Debitnya sangat banyak. Apalagi kalau bicara debit Sungai Mahakam. Debitnya 5.000 liter/detik dan bisa menghidupi 700 juta jiwa. Itu tiga kali orang Indonesia”.

Namun volume air yang berlimpah tersebut tidak bisa langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Kuantitas air juga harus dikonversi dari seberapa banyak air yang mampu didistribusikan ke masyarakat dan berapa yang mampu dibayar oleh masyarakat.

Kenyataannya, tak semua ketersediaan air di Kaltim bisa dijangkau oleh masyarakat. Contohnya, masyarakat Sepaku yang sekitar 15 tahun terakhir ini masih mengalami krisis air bersih. Hal itu tidak terlepas dari kehadiran perkebunan sawit dan distribusi air yang tidak merata. Padahal tahun 2024 nanti Sepaku akan menjadi salah satu wilayah Ibukota baru.

Bagaimana sebenarnya potensi air bersih di wilayah ibukota baru? Dari sisi ketersediaan, ada tiga sumber cadangan air yang bisa digunakan sebagai air baku, yaitu air hujan, air tanah, dan air permukaan (bendungan dan sungai). Ketiganya memberikan gambaran besarnya potensi dan ancaman keberlanjutannya.

 

 

Curah hujan tinggi

Lokasi ibukota negara (IKN) yang terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara memiliki jenis iklim tropis yang kaya akan hujan. Dalam setahun, persentase hari hujannya mencapai 40,8 persen dengan total curah hujan tahunan sebanyak 2.223 milimeter. Sementara rata-rata curah hujan di seluruh dunia hanya sebesar 990 milimeter per tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara mencatat selama tahun 2018, lokasi IKN memiliki curah hujan sekitar 0,9 milimeter dalam satu kali kejadian hujan. Dilihat dari luasan wilayah, besar air yang tertampung mencapai sedikitnya 1,66 triliun meter kubik.

Bila seluruh air hujan yang turun di wilayah IKN dimanfaatkan oleh penduduk, maka air tersebut mampu memenuhi kebutuhan air baku air minum dan sanitasi selama 5 tahun. Jumlah penduduk yang digunakan adalah proyeksi penambahan yang mencapai 6 juta jiwa.

Tak hanya itu. Jika diandaikan air hujan ditampung dalam mobil tangki penampung air, akan dibutuhkan 1,6 miliar unit tangki yang berkapasitas 1.050 liter atau 207 juta unit mobil tangki air berkapasitas 8.000 liter. Ketersediaan air hujan tersebut bisa untuk mencukupi kebutuhan 30,3 juta jiwa dalam setahun atau diandaikan dua kali jumlah penduduk Pulau Kalimantan (13,7 juta).

Jumlah air hujan yang masuk ke wilayah IKN memang sangat besar, namun tidak semua bisa ditampung dan diolah menjadi sumber air baku. Hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan Kompas dengan pH Strips-Indikator Universal menunjukkan, bahwa kualitas air hujan masih sedikit asam dengan derajat keasaman sekitar 6,2. Derajat keasaman air baku untuk air minum adalah antara 6 – 9, menurut Peraturan Daerah Kalimantan Timur No. 02/2011 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Derajat keasaman air hujan tersebut sebenarnya masih memenuhi baku mutu air kelas satu yang digunakan untuk kebutuhan air minum. Namun, diperlukan beberapa tahapan pengolahan sebelum digunakan. Proses pengolahan air yang sedikit asam bisa dilakukan dengan cara menetralkan baik menggunakan zat kimia maupun saringan alami.

 

Air tanah

Cadangan air bersih kedua dapat memanfaatkan air tanah yang tersimpan dalam sistem akuifer. Sistem akuifer merupakan susunan material tanah dan batuan yang mampu menyimpan air dalam jumlah tertentu. Karakteristik akuifer mempengaruhi kualitas air tanah di suatu daerah, termasuk di IKN.

Secara regional, menurut penelitian “Pemodelan Hidrogeologi Cekungan Airtanah Samarinda-Bontang Segmen Penajam dalam Upaya Konservasi Airtanah Berbasis Cekungan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur” (AR Wicaksono dkk, 2019), sistem akuifer di IKN merupakan sistem aliran air tanah melalui antarbutir, celah, dan ruang antarbutir material batuan serta tanah. Sistem tersebut dikenal sistem akuifer bebas.

Data Resource Watch mengenai kerentanan air tanah terhadap kekeringan juga menunjukkan adanya potensi ketersediaan air tanah. Kecamatan Sepaku dan Samboja masuk kategori kerentanan rendah. Hal itu berarti masih dimungkinkan adanya pengembangan air tanah. Namun untuk kecamatan  Muara Jawa yang terletak di pesisir, lebih sulit untuk mendapatkan air tanah karena masuk kategori kerentanan kekeringan sedang.

Menurut perhitungan Kompas, cadangan air tanah di wilayah IKN mencapai 77,92 miliar meter kubik per tahun. Ketersediaan air tanah yang lebih sedikit dari air hujan tersebut, hanya mencukupi 1,42 juta jiwa dalam setahun.

Dari hitungan tersebut, kendati bercurah hujan tinggi, potensi penyimpanan airnya sedikit. Hal itu karena karakteristik batuan yang memiliki pori dan celah batuan terbatas. Artinya, banyak air hujan yang mengalir ke permukaan dan masuk ke sistem sungai atau bendungan.

Chay Asdak, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Nasional, saat ditemui di Bandung mengusulkan penggunaan air tanah sebagai sumber air alternatif yang selama ini menjadi andalan. Usulan tersebut berdasarkan data dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan III yang menyebutkan bahwa setidaknya ada delapan cekungan air tanah (CAT) di sekitar IKN.

Cekungan air tanah merupakan wilayah mengumpulnya air yang terinfiltrasi ke tanah dan batuan. Potensi sumberdaya air di seluruh cekungan air tanah tersebut mencapai 10,23 miliar meter kubik per tahun. Volume CAT tersebut bisa memenuhi kebutuhan 186.849 jiwa dalam setahun.

Terkait hal tersebut, data Resource Watch menggambarkan, wilayah kecamatan Muara Jawa termasuk cekungan air tanah utama dengan tingkat resapan sangat tinggi (lebih dari 300 mm/tahun). Adapun Kecamatan Sepaku dan Semboja, masuk kategori tingkat resapan tinggi (100-300 mm/tahun).

 

 

 

Kualitas air tanah

Air tanah di lokasi IKN mengandung senyawa pirit atau sulfida besi seperti air tanah yang digunakan oleh Imis (47) di Desa Sukaraja, Sepaku. Air sumur Imis yang kedalamannya hanya 5 meter berwarna merah sehingga hanya bisa digunakan untuk keperluan MCK saja.

Imis memerlukan waktu hingga tiga hari untuk bisa menggunakan air tanah. Perlakuan kimiawi dengan menambahkan kapur tidak menjamin air tanahnya layak sanitasi dan bisa digunakan oleh warga.

Senyawa pirit tersebut menyebabkan air tanah di lokasi IKN bersifat asam. Menurut riset Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian RI, pirit merupakan senyawa kimia yang secara alami berada di tanah dengan jumlah tertentu. Air yang mengandung pirit cenderung berwarna oranye hingga merah karena sifatnya asam.

Kadar pirit yang tinggi umumnya terdapat di tanah yang berkembang lanjut atau tua (cenderung berwarna kuning-oranye cerah). Hal ini senada dengan pernyataan Yohanes Budi Sulistioadi (42) Dosen Kehutanan Universitas Mulawarman yang menyebutkan bahwa tanah di lokasi IKN merupakan tanah merah-kuning.

Selain air tanah yang mengandung pirit, potensi penyimpanan air tanah juga cukup sedikit. Hal itu disebabkan oleh karakteristik batuan yang memiliki pori dan celah batuan terbatas. Artinya, banyak air hujan yang menjadi aliran permukaan dan masuk ke sistem sungai serta bendungan.

 

 

Air permukaan

Kondisi sumber daya air di Kalimantan Timur, khususnya wilayah IKN, memang memiliki jumlah yang sangat melimpah, namun dari sisi kualitas air belum layak. Dari tiga jenis cadangan air (air hujan, air tanah, dan air permukaan), hanya air permukaan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Air permukaan bersumber dari bendungan dan aliran sungai. Saat ini, air baku di wilayah sekitar IKN telah disuplai dari enam bendungan dan embung, termasuk pusat pengolahan air sungai Mahakam. Total volume seluruh bendungan dan pengolahan air  tersebut mencapai 22,90 juta meter kubik dengan debit tersedia sebesar 4.827 liter per detik.

Enam bangunan pengambilan air yang ada saat ini masih diperuntukkan bagi wilayah Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara. Bangunan tersebut adalah bendungan Manggar, bendungan Teritip, Embung Aji Raden, Bendungan Samboja, Intake Kalhol Sungai Mahakam, dan Bendungan Lempake. Rata-rata jarak bangunan tersebut ke wilayah IKN sejauh 43,52 kilometer.

Pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah IKN yang seluruhnya bersumber dari sungai dan bendungan membutuhkan jumlah yang cukup besar. Berdasarkan data dari Balai Wilayah Sungai (BBWS) Kalimantan Timur III, nantinya akan ada 14 bendungan dan pengelolaan air sungai yang difungsikan sebagai sumber air bersih IKN. Delapan diantaranya merupakan bendungan dan pengolahan air yang mulai akan dibangun tahun depan. Total volume bangunan air yang akan dibangun mencapai sedikitnya 1.493 juta meter kubik dengan debit sekitar 36.655 liter per detik.

Jika semua bangunan air terbangun, maka volume air baku bisa mencapai lebih dari 1.500 juta meter kubik dengan debit 42.482 liter per detik. Bila dihitung secara harian, maka total ketersediaan air mencapai 3,67 miliar liter per hari. Jumlah tersebut mampu memenuhi kebutuhan 24,47 juta orang atau setara dengan empat kali proyeksi jumlah penduduk IKN nantinya.

Potensi ketersediaan air yang tinggi tersebut bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan air baku di IKN dan wilayah sekitarnya. Namun, jika keberlanjutannya tidak dijaga, daya dukung air yang berlebih akan sia-sia. Degradasi lingkungan karena tambang, deforestasi dan perkebunan sawit akan terus mengancam pasokan dan kualitas air yang ada. (Litbang Kompas)

 

Serial liputan tentang Daya Dukung Air di Kawasan Ibukota Baru oleh Litbang Kompas ini didukung oleh program hibah Data Journalism Lingkungan dari Internews’ Earth Journalism dan Resource Watch.

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta