Ekuatorial

Data. Maps. Storytelling.

Meningkatkan daya saing petani di NTT dan produknya melalui benih lokal dan big data

Christofel Ullu, Ketua Kelompok Tani Kaifo Ingu di Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT mulai gunakan benih hasil penakar NTT. Foto: Palce Amalo / Media Indonesia 

Januari 14, 2021

Oleh Palce Amalo

DINAS Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat terobosan dengan penakaran benih lokal. Mulai sekarang, tidak ada lagi pengadaan benih pertanian dari luar provinsi. Semua benih harus berasal dari hasil kebun masyarakat setempat. Dengan demikian, anggaran pengadaan benih yang saban tahun mencapai ratusan miliar rupiah, dialihkan untuk membangun ekonomi masyarakat di bidang lain.

“Mengapa harus benih lokal, karena sudah mengalami adaptasi terhadap lingkungan,” kata Kadis Pertanian dan Perkebunan NTT Lecky Frederich Koli, Jumat (27/11). Benih lokal memiliki adaptasi terhadap suhu di NTT yang umumnya berkisar 22-32 derajat celcius, hama, dan persediaan air yang minim.

Baca selengkapnya disini.

Liputan ini pertama kali terbit di Media Indonesia dengan judul “NTT mulai menabur benih dari lahan sendiri” pada tanggal 27 November 2020.

Palce Amalo adalah salah satu peserta dan penerima beasiswa liputan program Build Back Better yang diselenggarakan oleh World Resources Institute Indonesia dan the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

×

Find the location

Find

Result:

Latitude:
Longitude:

Perbesar:

Selesai geocoding

×

Kirim tulisan

Ingin berbagi tentang Indonesia? Mari berkontribusi dalam pemetaan ini dengan mengirimkan tulisan Anda. Bantu lebarkan pemahaman dunia tentang peranan global dari kawasan penting ini.

Cari lokasi dalam peta

Cari lokasi dalam peta