Posted in

SIEJ ADAKAN PELATIHAN REDD+ DAN LAHAN BASAH DI BALI

thumbnailFakta hutan nusantara yang semakin gundul, mendorong SIEJ (The Society of Indonesian Environmental Journalists) bekerjasama dengan dua organisasi non pemerintah tingkat internasional mengadakan pelatihan REDD+ (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation) dan Lahan Basah bagi 17 jurnalis media lokal dan nasional, di Sanur, Bali.

Sanur, Bali– Laju deforestasi di Indonesia yang mencapai lebih dari satu juta hektar per tahun dan posisi nusantara sebagai negara pemilik hutan bakau terbesar di dunia, mendorong SIEJ (The Society of Indonesian Environmental Journalists) bekerjasama dengan dua organisasi non pemerintah tingkat internasional mengadakan pelatihan REDD+ (Reduction Emission on Deforestation and Forest Degradation) dan Lahan Basah bagi jurnalis.

Tujuan pelatihan ini agar para jurnalis dapat meningkatkan pemahaman mereka akan isu kehutanan dan lahan basah yang semakin marak dibahas di tingkat  internasional, nasional maupun lokal.

“Kami (SIEJ) berharap pelatihan semacam ini dapat menjembatani pemahaman isu kehutanan terutama REDD+ bagi para jurnalis (di Indonesia), karena tidak semua jurnalis mendapatkan kesempatan untuk meliput COP (Conference of Parties) secara langsung,” kata Ketua SIEJ Maha Adi.

Maha Adi mengacu pada COP sebagai konferensi perubahan iklim yang dilakukan setiap tahun secara internasional, di mana isu REDD+ dibahas.

Pelatihan REDD+ dan Lahan Basah yang dilaksanakan 9-11 April 2011 di Bali ini diikuti oleh 17 jurnalis dari Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kendari, Riau dan Papua. Selain isu REDD+, salah satu lembaga mitra SIEJ yang adalah lembaga penelitian kehutanan internasional, CIFOR, juga banyak memaparkan hasil riset mereka mengenai lahan basah di Indonesia. Fakta yang diungkap antara lain mengenai pentingnya peranan lahan basah menyimpan karbon, yang diperkirakan mampu menyimpan karbon 10 kali lebih banyak daripada hutan hujan tropis.

“Selama ini, media banyak membahas berapa jumlah karbon yang diserap oleh pohon, tanpa menyadari sebenarnya lebih banyak jumlah karbon yang diserap oleh tanahnya, terutama tanah lahan basah,” kata Matthew Warren, Pakar Kehutanan dari US Forestry yang menjadi salah seorang nara sumber.

Sementara dari sisi jurnalisme, para peserta juga dibantu oleh seorang pelatih dari Internews, lembaga pelatihan jurnalisme independen internasional.

Selain pelatihan secara teori, para jurnalis juga mendapat kesempatan secara langsung mengunjungi kawasan konservasi hutan bakau yang dikelola Coral Triangle Center di Pulau Nusa Lembongan, Bali. Dalam kunjungan lapangan ini, para jurnalis menemui  para warga lokal dan juga didampingi dua ahli emisi karbon hutan bakau dari US Forestry dan CIFOR.

Musa Abubar, jurnalis dari Jubi Online Papua menyatakan mendapat banyak pemahaman baru akan isu kehutanan Indonesia, setelah mengikuti pelatihan ini.

“Sebelumnya saya tidak mengerti apa itu REDD+, tapi setelahnya saya cukup mengerti (tentang REDD+) dan juga mengerti ternyata lahan basah itu banyak gunanya,” kata Musa. “Selama ini, di Papua, orang-orang kami hanya memotong pohon bakau untuk jadi kayu bakar saja.”

Sehari-hari sebagai reporter politik, hukum dan pelanggaran hak asasi manusia, membuat Musa awalnya bingung mengikuti pelatihan ini. Namun di hari terakhir pelatihan, Musa menyatakan mulai paham pentingnya pemahaman isu kehutanan, karena kebanyakan kasus pelanggaran hak asasi manusia di Papua terkait pembalakan liar, sengketa pengalihan lahan dan isu lingkungan lainnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Maturidi, jurnalis peserta dari Kalteng Pos. Namun Maturidi menyarankan agar selain para pakar, pelatihan serupa di masa depan juga menghadirkan narasumber dari pihak pemerintah. Demikian, kata Maturidi, para jurnalis dapat memahami isu ini tidak hanya dari sisi sains atau humaniora saja, namun juga dari sisi kebijakan politis pemerintah.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.