Jakarta, Ekuatorial — Di masa depan, biofuel akan menjadi primadona untuk mengatasi krisis energi global. Sebab, bahan nabati seperti kelapa sawit, tebu, singkong, sorgum atau jarak bisa diubah menjadi bahan bakar nabati, yaitu bioethanol, biodiesel, biogas, dan arang, serta dapat diperbarui.

Salah satu yang berkembang pesat adalah microbial fuel cell, sel bahan bakar yang memanfaatkan interaksi bakteri di alam. Bakteri yang terdapat dalam medium organik mengubah bahan organik menjadi energi listrik.

“Sebab, di masa mendatang minyak bumi makin lama makin habis sehingga kebutuhan bioenergi berbasis biomassa dengan proses biologi akan meningkat,” tutur Kepala Prodi Biochem-Technology Engineering, Lindawati, Senin (15/7), seperti dilansir dalam Harian Tempo.

Sementara, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan proyek percontohan penanaman tanaman sorghum di lahan seluas 200 hektar di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dahlan mengatakan, tanaman sorghum tersebut nantinya dapat menghasilkan bioethanol sebagai pengganti bahan bakar dari fosil yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga seperti memasak. Lahan sorghum seluas 200 hektar tersebut mampu memberikan manfaat untuk 1.000 rumah tangga.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.