Nyamuk malaria dan demam berdarah merambat dengan cepat ke dataran tinggi, dimana hampir tak mungkin menemukannya beberapa puluh tahun lalu. Pemanasan global memicu epidemi itu.

Ekuatorial, Ternate dan Cimahi – Sampai saat ini malaria dan demam berdarah masih menjadi pandemi di berbagai negara tropis. Kementerian Kesehatan Indonesia juga menyatakan kasus malaria di Indonesia masih tinggi, 70 persen diantaranya terjadi di wilayah timur terutama di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan Andi Muhadir, sampai pertengahan tahun 2013 kasus malaria masih tercatat di 31 provinsi dengan penderita 48.905 orang. Dari jumlah itu 376 orang diantaranya meninggal dunia, yang merupakan angka kematian tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Wilayah endemik malaria di Indonesia tersebar di 84 Kabupaten atau Kotamadya dengan jumlah penduduk berisiko sebanyak 16 juta orang.

Kawasan Rentan
Hasil studi dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia (RCCC UI) menyimpulkan, dari 21 Kabupaten/Kota yang diteliti, semuanya memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap berjangkitnya malaria dan demam berdarah, karena ketidakmampuan mereka menghadapi dampak perubahan iklim.

Penelitian itu juga menyimpulkan, jika terjadi kenaikan suhu 2 – 2,5°C pada tahun 2100 atau per dekade mencapai 0,2°C dapat menyebabkan perubahan pula pada vektor nyamuk demam berdarah dengue dan malaria.

Ketua Bidang Riset RCCC-UI Budi Haryanto menyimpulkan, “Kenaikan suhu dapat membuat rata-rata daur hidup nyamuk menjadi lebih pendek, namun frekuensi makannya lebih sering.” Artinya, perubahan iklim telah menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi yang dapat memicu malaria dan demam berdarah menjadi ganas.

Rata-rata suhu optimum untuk perkembangbiakan nyamuk malaria ada pada kisaran 25-27 derajat Celcius dan waktu hidup 12 hari. Tapi karena pemanasan global, nyamuk ternyata mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih hangat, dan suhu optimum perkembangbiakannya menjadi 32-35 derajat Celcius.

Kondisi suhu yang lebih hangat ini mempercepat metabolisme nyamuk, sehingga cepat dewasa tetapi waktu hidupnya hanya tujuh hari saja. Selama kurun waktu seminggu itulah, frekuensi makannya juga menjadi lebih sering dan lebih cepat, sedangkan ukuran badannya mengecil dan lebih gesit.

Apakah perubahan iklim juga menyebabkan banyaknya kasus penyakit malaria di Kota Ternate? “Iya, sangat terasa,” kata Iswahyudi, pengelola Malaria Center Provinsi Maluku Utara, sembari memaparkan pengaruh perubahan iklim dengan gambaran grafik naik turun puncak penyebaran malaria di kota itu.

Ternate, katanya, sebelum tahun 2008 selalu mengalami puncak malaria pada periode bulan Oktober dan April atau selama periode musim hujan, dengan dua kali puncak epidemi.

Tetapi, mulai 2009 puncak epidemi itu menjadi empat kali. Hal itu disebabkan hujan yang lebih banyak turun pada bulan yang seharusnya sudah masuk musim panas.

Kenaikan frekuensi hujan juga menyebabkan tanah cekung di sepanjang ekosistem bakau di pantai Ternate dalam beberapa tahun terakhir terus tergenang air. Selain air hujan, pasang air laut menyebabkan genangan itu tak pernah mengering.

Kawasan tergenang air yang biasanya dikelilingi tanaman bakau itulah yang kini menjadi lokasi ideal perindukan nyamuk malaria dan ikut menyulitkan dalam pemberantasannya.

Menyebar ke Dataran Tinggi
Kasus malaria yang terjadi di Papua dan Papua Nugini sangat populer di mata para peneliti dunia. Di kedua lokasi itu, mereka sampai pada kesimpulan bahwa penyakit malaria telah merambat ke daerah yang jauh lebih tinggi, dimana beberapa puluh tahun sebelumnya hampir tak mungkin menemukan nyamuk malaria karena suhu yang dingin.

Suhu dingin itulah yang membuat suku-suku dataran tinggi Papua dikenal “kebal-malaria” sampai tahun awal tahun 1960-an.

Perubahan terjadi ketika terjadi industri kayu dan perkebunan masuk ke Papua, lalu membabat hutan atau membuka lahan dalam skala besar. Hutan yang rusak berarti merusak pula habitat nyamuk malaria.

Akibatnya, mereka menyebar sampai ketinggian 3.600 m yang dulu suhunya sering di bawah 16°C, batas suhu minimum nyamuk malaria untuk dapat hidup.

Tahun 2010 misalnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua memastikan malaria telah menjalar ke Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua, tempat dengan ketinggian 1.900 meter dari permukaan laut (mdpl) dan bersuhu rata-rata 19-25°C. Akibat serangan itu, 40 orang dari 4 kampung meninggal dunia.

Sementara itu di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat, di ketinggian 1.075 mdpl sampai sekarang dikenal cukup sejuk, dengan suhu udara rata-rata 18-22°C, tapi kini mulai merasakan sengatan senyap nyamuk malaria. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Cimahi Rina Kuswidiati punya analisis kenapa kota ini terjangkit malaria.

Ia menyebut malaria di Cimahi itu “kasus impor,” pasalnya ribuan tentara datang dan pergi ke kota itu, banyak diantaranya hanya tinggal dalam waktu singkat tetapi sebagian yang lain bertugas untuk waktu cukup lama di sana.

“Banyak anggota tentara itu berasal atau bertugas cukup lama di Indonesia Bagian Timur, yang mungkin saja sudah terinfeksi malaria dan membawanya ke sini,” ungkapnya.

Di Cimahi, malaria memang menyerbu dalam senyap karena tanpa peringatan tiba-tiba saja menyerang, Walaupun serangan itu datang setiap tahun, tetapi Rina yakin akan segera berakhir. “ Di Kota Cimahi lokasi perindukan nyamuk malaria tidak ada, karena tak ada ekosistem air payau, rawa-rawa atau daerah pantai. Cimahi bukan daerah yang cocok untuk Anopheles,” katanya.

Demam Berdarah Dengue
Nyamuk lain yang ikut menunjukkan sengatannya bersama berubahnya iklim dan memanasnya suhu permukaan bumi adalah Aedes aegypti sang vektor demam berdarah dengue (DBD). Selama periode tahun 1968-2009 WHO mencatat Indonesia sebagai negara dengan kasus demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, tahun 2008 kasus DBD di Indonesia sebanyak 137.469 kasus, dengan jumlah kematian mencapai 0,86 persen atau lebih dari 1.200 orang meninggal sia-sia.

Tahun berikutnya tercatat 154.855 menderita demam berdarah, dengan jumlah kematian mencapai 1.316 kasus, dan pada tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus di Asia Tenggara yaitu 156.086 kasus dengan kematian 1.358 orang.

Tahun 2011 kasus DBD turun menjadi 49.486 kasus dengan kematian 403 orang.

Hingga saat ini belum ditemukan vaksin maupun obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini.

Serbuan demam berdarah boleh dibilang hampir merata di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, baik di dataran rendah maupun tinggi.

Sejak tahun 2013, laporan DBD dari kota-kota dataran tinggi yang sebelumnya berudara sejuk seperti Bandung, Lembang, dan Pangalengan mulai tercatat di dinas kesehatan.

Di antara kota-kota di Jawa Barat, Kota Cimahi adalah salah satu yang paling parah terpapar demam berdarah, setelah sebelumnya mereka juga diserbu malaria.

Aksi Nyamuk di Kota Tentara
Menjadi hunian ribuan tentara, tak lantas membuat nyamuk-nyamuk kecut. Kota Cimahi yang dijuluki Kota Tentara, karena di sana berdiri 31 pusat pelatihan dan markas tentara dan polisi, malah seluruh kelurahan yang berjumlah 15 itu berstatus endemis demam berdarah.

Pada tahun 2013 kota ini ada di peringkat ke-13 nasional jumlah penderita DBD dengan angka kesakitan atau angka serangan mencapai 55 orang setiap 100 ribu penduduk.

Aktivitas nyamuk demam berdarah biasanya dua jam setelah matahari terbit dan dua jam sebelum terbenam, sekitar jam 9-10 pagi dan 4-5 sore. Namun, suhu yang lebih panas telah memperpendek daur hidup dengue dan membuat mereka semakin aktif makan, seperti temuan RCCC-UI, sehingga dapat menyerang dari pagi sampai sore tanpa jeda.

Kota Tentara itu pernah pula mengalami kejadian luar biasa DBD tahun 2007 dan terjadi kembali tahun 2012, jadi semacam siklus lima tahun. Biasanya ledakan jumlah penderita tertinggi terjadi sepanjang Januari dan Februari, lalu naik lagi di bulan Juni-Juli.

Namun pola itu kini berubah, karena beberapa tahun belakangan hujan turun sepanjang tahun sehingga puncak penyebarannya ikut berubah. “Perubahan pola hujan dan musim panas itulah yang menyebabkan puncak demam berdarah merata setiap tahun,” kata Rina Kuswidiati dari Dinas Kesehatan setempat.

Karena perubahan pola serangan itulah, Rina yakin penyebaran demam berdarah dipengaruhi oleh perubahan iklim, karena kehidupan nyamuk Aedes aegypti sangat berkaitan dengan suhu lingkungannya dan curah hujan.

Masalahnya, saat ini Pemerintah Kota Cimahi kesulitan untuk memperkirakan datangnya musim hujan. “Kalau musim hujannya panjang maka gak jadi masalah karena telur-telur nyamuk terbawa hujan.

Kenyataannya, beberapa tahun terakhir musim hujan diselingi kemarau, terus hujan lagi dan kemarau lagi, begitu terus berganti-ganti,” katanya, sembari melanjutkan, “Karena bisa datang setiap tahun, sekarang demam berdarah di Cimahi tidak ikut siklus lima tahunan lagi.”

Nyamuk Aedes dikenal menyukai tempat yang bersih untuk berkembang biak, seperti di air bersih, rumah berlantai semen, itu sebabnya dijuluki “nyamuk elit.”

Tetapi, nyamuk dengue juga masih bisa bertahan di habitat alaminya seperti di antara pelepah dedaunan, batang pohon yang membusuk atau di lembar daun yang menampung air. Telurnya mampu bertahan selama enam bulan di tempat kering, dan berkembang biak ketika hujan datang.

Air dan Sampah
Usman, seorang buruh di salah satu pabrik garmen dan sudah 14 tahun tinggal di Cimahi pernah dua kali terserang DBD. Ketika Ekuatorial menyambangi rumahnya di perbatasan Kota Cimahi-Bandung, ternyata ia tinggal di rumah petak yang cukup bersih, tidak pernah tampak sampah, tidak juga ada air yang tergenang atau pakaian yang bergantungan.

Ventilasi di rumahnya sudah dilengkapi kasa nyamuk. Ia juga mengaku cukup sering menguras bak mandinya dan memakai obat nyamuk semprot. “Saya terkena demam berdarah ketika bekerja di pabrik, karena ada saluran air tergenang dan kotor, ditambah lagi banyak tempat penampungan air untuk campuran pewarna tekstil,” ungkapnya.

Cimahi telah berkembang menjadi kota industri, dan puluhan pabrik tekstil, pakaian jadi, dan industri kulit berdiri di situ. Penduduknya dengan cepat bertambah, datang dari berbagai penjuru mengais rejeki pada puluhan pabrik yang ada.

Situs resmi Kota Cimahi mengakui kota itu mulai menghadapi masalah limbah cair dan sampah yang dibuang ke lingkungan. Buruknya pula, beberapa kawasan di dalam Kota Cimahi menjadi lebih padat dibandingkan kawasan lain, karena para pekerja pabrik dari luar kota berebut menyewa kos atau mengontrak rumah yang tak jauh dari tempat mereka bekerja di pusat kota.

Resep pertama untuk penyebaran malaria dan demam berdarah pun dimiliki oleh Kota Cimahi: sampah, tempat-tempat lembap, dan genangan air di berbagai penjuru kota.

IGG Maha Adi (Jakarta), Januar Hakam (Cimahi, Ternate)

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.