Dinas LHK DKI Jakarta mengatakan sampah rumah tangga di ibu kota meningkat sejak pandemi. Sementara hasil survei LIPI juga menunjukkan peningkatan sampah medis. Sampah alat pelindung diri termasuk masker dan sarung tangan, yang semula tidak ada di muara sungai kini naik mencapai 16 % dari sampah yang ditemukan pada Maret hingga April 2020.

Oleh Sorta Tobing dan Verda Nano Setiawan

Rutinitas Yuliana Fauzi berubah sejak pandemi Covid-19 muncul pada awal tahun ini. Tak ada lagi aktivitas berbelanja di supermarket. Untuk membeli bahan makanan, termasuk sayur dan buah, perempuan 27 tahun ini memilih aplikasi pesan-antar.

Selain lebih praktis, cara itu membuatnya tak perlu bepergian keluar rumah. “Jadi sudah ketergantungan. Apalagi, semua yang dibutuhkan dapat dibeli secara online,” ujar Yuliana kepada Katadata.co.id, Jumat (20/10).

Konsekuensi dari rutinitas barunya itu adalah jumlah plastik di rumah Yuliana meningkat. Barang-barang yang ia beli mayoritas dikirim memakai bungkus plastik sekali pakai. Tak jarang ada bubble wrap pula di dalamnya untuk mencegah barang rusak.

Perempuan pekerja di Jakarta itu berusaha mengurangi tumpukan sampah tersebut dengan memanfaatkannya kembali. “Kalau plastiknya masih bagus dan dapat dipakai untuk bungkus lain, biasanya disimpan dulu,” kata Yuliana.

Banyaknya plastik di rumah karena gandrung belanja online selama pembatasan sosial skala besar atau PSBB juga Niken Pratiwi rasakan. Perempuan yang tinggal di Jakarta Selatan ini kerap mengakses aplikasi e-commerce untuk kebutuhan anaknya yang berusia delapan bulan.

Kantong kresek pembungkus paket pesanan terpaksa ia buang. “Karena di tengah pandemi Covid-19 ini, saya khawatir plastiknya kotor,” kata pekerja kreatif berusia 35 tahun tersebut. Hanya bubble wrap saja yang masih ia simpan untuk keperluan mengirim barang.

Perubahan pola konsumsi masyarakat membuat jumlah sampah plastik rumah tangga meningkat. Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Edy Mulyanto menyebutkan sampah itu tak hanya dari belanja daring, tapi juga layanan pesan-antar makanan. Padahal, pandemi sebenarnya membuat jumlah sampah dari Ibu Kota ke tempat pembuangan akhir atau TPA Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menurun. Dari angka normal 8 ribu ton per hari menjadi 7 ribu ton per hari selama pemberlakuan PSBB.

Jumlah sampah anorganik atau yang tak dapat terurai sekitar 35% dari angka itu. Dari total komposisi sampah anorganik, sebanyak 14% merupakan bahan plastik dan sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga. “Kertas dan plastik jumlahnya saat ini bersaing,” kata Edy.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang kewajiban memakai kantong belanja ramah lingkungan. Namun aturan ini baru menyasar toko swalayan, supermarket, pusat perbelanjaan, dan pasar tradisional.

Sampai sekarang belum ada larangan kantong kresek untuk belanja daring. Anies lalu mengeluarkan Pergub Nomor 77 Tahun 2020 tentang pengelolaan sampah lingkungan rukun warga atau RW. “Setiap RW wajib memilah sampah dengan adanya aturan ini,” kata Edy.

Targetnya, pengelolaan sampah tersebut dapat terlaksana di Jakarta mulai Desember. Pengurus RW dapat memberikan sanksi kepada rumah tangga yang tidak memilah sampah. Sanksinya, tergantung pada kebijakan dan kesepakatan warga.

Dengan aturan itu, minimal rumah tangga dapat menyiapkan pewadahan. Lalu, petugas penanganan prasarana dan sarana umum alias Pasukan Oranye akan membantu menjadi fasilitator dalam memilah sampah.

Warga dapat memilah sampah menjadi dua bagian, yaitu organik dan anorganik. Nah, anorganik itu dapat terpisah lagi menjadi plastik kresek, botol air mineral, kertas, tisu, dan lainnya. “Tanpa pemilahan, dalam dua hingga tiga tahun Bantargebang akan full, kolaps, dan overload,” kata Edy.

Hasil survei dan observasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI di Bantargebang menunjukkan adanya penurunan sampah Jakarta selama pandemi. Namun, serupa dengan pernyataan Edy, komposisi sampah plastik justru meningkat.

Peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Intan Suci Nurhati mengatakan dampak PSBB dan banyak orang bekerja di rumah alias work from home membuat belanja online berbentuk paket naik 62 %. Untuk layanan antar makanan melonjak 47 %.

Survei pada 20 April hingga 5 Mei 2020 itu juga menampilkan angka aktivitas belanja online masyarakat Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Dari hanya satu hingga lima kali menjadi satu sampai sepuluh kali per bulan selama PSBB dan WFH.

Makanan dan disinfektan menjadi produk favorit belanja online. Namun 96 % paket yang warga terima berbahan plastik, terutama selotip, kantong kresek, dan bubble wrap. Sampah dari pembungkus tersebut menyaingi sampah kemasan produk yang dibeli.

Intan menyebut plastik dalam paket itu mayoritas tak dapat didaur ulang. “Paling hanya bubble wrap bisa dipakai lagi. Itu pun dengan syarat membukanya dengan rapi,” katanya. “Tapi hampir semuanya tak bisa digunakan kembali.”

Survei itu juga menunjukkan tingkat kesadaran warga terhadap isu sampah plastik sebenarnya cukup tinggi. Tapi kesadaran itu belum dibarengi dengan aksi nyata, misalnya dengan memilah sampah. Kondisi ini yang berpotensi meningkatkan beban di tempat pembuangan akhir.

Pengolahan plastik tanggung jawab siapa?

Para penjual online sebenarnya sadar dengan kondisi sampah plastik tersebut. Dinda Audriene, misalnya, memulai bisnis kuliner khas Jawa Tengah dan Yogyakarta secara daring sejak pandemi muncul. Bisnis rumahan ini ia lakoni bersama sang suami untuk mendapatkan pemasukan tambahan.

Dalam seminggu, perempuan 27 tahun itu dapat mengolah lele untuk masakan mangut hingga delapan kilogram. “Sistemnya pre order Sabtu-Minggu. Kalau udah delapan kilogram, kami tutup. Pemesanan dibuka kembali minggu depannya,” katanya.

Untuk pemasaran produknya, Dinda memanfaatkan media sosial Instagram dan Facebook serta jejaring grup di WhatsApp. Pengantaran mangut memakai jasa pengiriman kurir. Adapun pengemasannya masih memakai plastik sekali pakai.

Ia menyadari cara itu tidak ramah lingkungan. Sampai sekarang Dinda masih kesulitan menemukan wadah pengganti untuk mengemas makanan berkuah tersebut. “Sebenarnya, saya masih cari opsi wadah lain agar tidak boros pakai plastik,” ucapnya.

Penjual daring pakaian bermerek Slipa, Jessica Tandayu, berusaha mengemas produknya lebih ramah lingkungan. Baju yang ia kirim dari Jakarta ke para pembelinya terbungkus plastik berbahan dasar singkong dan ditata di dalam kotak kardus.

Ongkosnya memang lebih mahal. Dengan memakai plastik biasa, ia hanya mengeluarkan Rp 800 per paket. Kalau kemasannya berubah menjadi bioplastic dan kardus, harganya menjadi Rp 3.500 per paket. “Kalau ada alternatif bisa go green, why not?” kata perempuan 36 tahun yang berdomisili di Jakarta itu.

Senior Corporate Communications Manager Bukalapak, Gicha Graciella mengatakan seluruh kegiatan pengemasan dan pengiriman barang dilakukan oleh pelapak sesuai permintaan pengguna. Pengolahan kemasannya pun diserahkan kepada pembeli sesuai pilihan masing-masing.

Perusahaan berkomitmen menjaga transaksi online dapat terlaksana secara aman dan nyaman untuk seluruh masyarakat. “Tentunya kami selalu mengimbau pelapak untuk mengemas barang dengan efektif dan efisien,” ujarnya.

Tokopedia pun melakukan upaya serupa. Unicorn Tanah Air itu mengimbau mitranya menjual produk dengan cara ramah lingkungan. External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan semua proses pengemasan barang diserahkan kepada mitra penjual atau merchant.

Masyarakat pun didorong memakai kembali kantong plastik dan kardus yang didapat saat memesan produk dari Tokopedia. “Ini upaya kami mengurangi konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjaga keberlangsungan lingkungan,” katanya pada akhir Mei lalu.

Juru kampanye urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi berpendapat Jakarta sebenarnya memasuki babak baru dalam mengurangi sampah plastik sekali pakai. Kondisi itu muncul usai Pergub Nomor 142 Tahun 2019 berlaku efektif pada Juli lalu.

Masalahnya, sampah plastik tak sebatas kantong kresek saja. Ada pula bungkus sachet, styrofoam, plastik pembungkus makanan, dan lainnya. Jenis sampah ini yang belum jelas bagaimana aturan dan penanganannya.

Kantong berbahan dasar tanaman pangan, menurut dia, tak bisa menjadi solusi. Data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa alias UNEP pada 2016 menyebutkan proses terurainya butuh kelembaban dan panas tertentu. Sebagian besar justru banyak ditemukan di laut, seperti plastik pada umumnya.

Atha mengatakan pemakaian masif bioplastic berpeluang mengancam ketahanan pangan dan mendorong pembukaan lahan. Akibatnya, emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian meningkat. Tren pemakaiannya saat ini naik.

Indonesia butuh peraturan lain yang dapat mengatur produk-produk plastik sekali pakai lainnya. Selain itu, pengelolaan sampah perlu didorong agar dapat berbasis pemilahan dengan didukung pembatasan plastik sekali pakai yang lebih luas.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi DKI Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi mengatakan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 hanya mengatur plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, ritel, kemudian pasar tradisional. “Nah, di luar itu memang menjadi masalah,” kata Bagus.

Yang perlu menjadi catatan juga, menurut dia, seharusnya sampah plastik menjadi tanggung jawab produsen. “Misalnya, produk mie instan dan air mineral. Yang membuat wajib melakukan pengurangan,” kata dia.

Sampah medis belum tertangani dengan baik

Tak hanya belanja daring, pemakaian masker dan sarung tangan sekali pakai juga berkontribusi meningkatkan jumlah limbah plastik selama pandemi. Kedua alat pelindung diri atau APD itu terbuat dari plastik.

Hasil survei LIPI juga menunjukkan peningkatan sampah medis selama pandemi terjadi. Sampah alat pelindung diri atau APD, termasuk masker dan sarung tangan, yang semula tidak ada di muara sungai kini naik mencapai 16 % dari sampah yang ditemukan pada Maret hingga April 2020.

Yang mengkhawatirkan adalah limbah medis dari rumah tangga. Sampai kini penangannya tidak memiliki standar yang jelas. Hal ini berbeda dengan limbah dari rumah sakit atau pelayanan kesehatan.

Bagus mengatakan limbah medis masuk dalam kategori bahan beracun dan berbahaya atau B3. Tanpa ada Covid-19, penanganannya cukup mengkhawatirkan. Pemerintah perlu mengawasinya dengan ketat.

Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya memiliki standar untuk mengatasi hal itu. “Masker sekali pakai itu harus dipilah dan dibuang dalam wadah terpisah,” kata Edy. Lalu, warga harus menandai wadah tersebut dan menyampaikannya ke petugas pemungut sampah supaya dapat masuk ke limbah infeksius.

Dari situ, petugas kemudian akan membawanya ke tempat pembuangan sementara atau TPS khusus B3 di kecamatan. Edy mengatakan paling lambat dua atau tiga hari truk akan menjemput sampah tersebut untuk diolah di TPS khusus B3 berskala kota.

Lalu, pihak ketiga akan mengambil sampah medis tersebut untuk dimusnahkan. “Tempat pemusnahannya di Cilegon, Banten,” ucapnya. Sampah tersebut akan dibakar dalam insinerator khusus bersuhu seribu derajat Celcius.

Ia menyebut limbah infeksius dari rumah tangga di Jakarta sepanjang April hingga Oktober 2020 mencapai 857,71 kilogram. Yang terbanyak berasal dari wilayah Jakarta Barat. “Mayoritas masker bekas,” kata Edy.

Baca liputan selengkapnya disini. Liputan ini merupakan bagian utama dari proyek liputan berbasis data dengan judul ‘Banjir Sampah Plastik Selama Pandemi – Analisis Data Katadata’ yang terbit di Katadata pada tanggal 2 Desember 2020.

Liputan ini didukung oleh program Journalism Fellowship “Build Back Better” yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Environtmental Journalists (SIEJ) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia.

TIM PRODUKSI

Kepala Proyek Sorta Tobing

Penulis Andrea Lidwina, Happy Fajran, Ivan Jonathan (magang), Muhammad Ahsan Ridhoi, Sorta Tobing, Verda Nano Setiawan, Yosepha Pusparisa Editor Aria W Yudhistira, Muchamad Nafi, Yuliawati

Teknologi Informasi Firman Firdaus, Christine Sani, Donny Faturrachman

Desain Grafis Lambok Hutabarat, Pretty Juliasari Zulkarnain Illustrator Joshua Siringo Ringo

Fotografer Adi Maulana Ibrahim

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.