Para petani di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah telah menerapkan pertanian organik, yang dipandang, lebih ramah lingkungan, walaupun memerlukan ketekunan lebih. Sementara ahli pembangunan rendah karbon mengatakan, pertanian oganik adalah salah satu upaya kebangkitan pasca pandemi COvid-19 di tengah krisis ekonomi dan lingkungan hidup.

Liputan ini pertama kali terbit di Mongabay Indonesia dengan judul ‘Para Petani Organik dari Lereng Merbabu’ pada tanggal 2 Desember 2020

Oleh Lusia Arumingtyas

Purwanto, anggota Kelompok Tani Citra Muda Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sudah lima tahun ini mencoba jadi petani organik. Setahun pertama, dia sempat gagal. Tak ada panen sama sekali.

Tak lantas putus asa, dia teruslan pemupukan organik dan memberikan nutrisi buat tanah. Pemulihkan tanah secara alami dan sesuai kebutuhan. Berat, tetapi dia yakin pasti bisa.

Pokokmen sing penting yakin,” katanya.

Keyakinan ini dia dapatkan dari pengalaman Shofyan Adi Cahyono dan keluarganya, petani muda di desanya yang dinobatkan sebagai Duta Tani Millenial oleh Kementerian Pertanian. Mereka yang terlebih dahulu beralih ke pertanian organik dan berhasil mendapatkan banyak pelanggan.

Melalui ketelatenan dan kedisplinan, Purwanto menjadi salah satu pemasok jenis daun mint dan daun kucai organik terbaik di Desa Kopeng.

“Kami ingin memberikan lapangan kerja yang berkeadilan,” kata Shofyan Adi Cahyono, pendiri Kelompok Tani Citra Muda di Dusun Sidomukti. Adil bagi petani dan konsumen.

Sejak lahir, pria kelahiran 25 tahun ini sudah lekat dengan petani. Bapaknya, Suwadi pengagas pertanian organik di dusun itu. Dia mengelola lahan tanah warisan seluas 7.000 meter persegi untuk bisa menghidupi keluarga bahkan menyekolahkan Shofyan hingga perguruan tinggi.

Suwadi sudah mengalami asam garam kehidupan sebagai petani. Gagal panen, harga jatuh, hasil tani tidak terjual itu jadi hal biasa. Puncaknya, saat krisis ekonomi 2007, memukul telak para petani, termasuk di desa sekitar Lereng Merbabu.

“Kelangkaan pupuk dan harga pupuk terus melambung tinggi, kemudian harga hasil tani dipermainkan tengkulak, hama tanaman makin menjadi-jadi, dan perubahan musim yang drastis,” kata Suwadi kepada Mongabay.

Saat krisis itulah, Suwadi bertekad mengubah jadi pertanian organik. Dia merasakan dampak pestisida sangat buruk bagi kesehatan tanah dan hama penyakit susah untuk dikendalikan. Target produksi terus menurun namun harga pupuk terus melonjak.

Dia mencoba kembali membaca alam dan mengikuti jejak leluhur. Ada cerita turun-termurun tentang pengolahan tanah, pembuatan pupuk yang biasa digunakan orangtuanya. Satu paling dia ingat, pupuk terbaik dari abu dapur yang dikencingi sehabis bangun tidur.

“Saya punya cita-cita, anak saya harus menjadi petani. Jadi, saya harus membuat lahan harus sehat. Saya ingin menyelamatkan aset yang diwariskan simbah saya ini,” kata Suwadi.

Hanya berbekal kearifan lokal dan pengetahuan turun temurun, baik Suwandi dan Shofyan pun jadi petani organik hingga kini. Awalnya, dia hanya bermodal pupuk kandang dalam mengolah lahan.

Pertama-tama, lahan ‘kaget’ saat terjadi perpindahan ke pertanian organik. Dengan ketekunan, produksi pertanian Suwadi pun terus meningkat.

Pada 2013, usaha sempat jatuh. Dia menjual sayuran ke tengkulak karena pengetahuan pemasaran masih minim.

Pada 2014, berbekal pengetahuan dia dapatkan dari perguruan tinggi, Shofyan, anak semata wayangnya mendirikan PO Sayuran Organik Mandiri. Nama ini sebenarnya lahir dari tugas kuliah Kewirausahaan Pertanian di kampusnya.

“Pemasaran itu kunci dalam pertanian organik,” kata Shofyan. Shofyan mencoba merintis SOM dan bertahan hingga kini.

Baca juga: Bertani organik kala pandemi mendorong petani milenial dan regenarasi petani di Indonesia

Terpenting itu proses

Purwanto mengatakan, pertanian organik ini efesien biaya produksi dibandingkan pertanian konvensional. Begitu pula dari segi harga, lebih stabil dibandingkan sayuran konvensional.

“Ini lebih mudah dan murah, kalau konvensional itu mahal karena harus membeli fungisida dan pestisida.”

Selain pakai pupuk organik, biasa mereka menanam tanaman-tanaman refugia, yakni yang identik dengan warna bunga mencolok. Kini, Purwanto jadi petani spesialis tanaman herba seperti daun mint dan kucai.

Kelompok Tani Citra Muda pun melakukan kreasi pupuk organik dengan memperbanyak cendawan Trichoderma fungi propagation untuk mengendalikan hama tanaman sayuran. Bahan nya sederhana, hanya nasi dengan kondisi steril.

Pertemuan kelompok biasanya setiap awal bulan untuk membahas analisis usaha tani. Biasa, pembahasan mulai dari pola tanam, komoditas apa yang akan ditanam disesuaikan data penjualan konsumen. Tujuannya, agar produksi pertanian bisa berkelanjutan setiap minggu, dua minggu, dan bulan.

“Petani menanam sesuai klaster kesukaan dan keahlian masing-masing. ”Ada 70 jenis sayuran organik ditanam petani dengan jenis berbeda dalam satu lanskap.”

Shofyan bilang, terpenting dari pertanian organik adalah proses. “Ini tidak instan, memiliki standar operasi dan teknik budidaya tepat serta tidak bisa disamakan dengan pupuk kimia. Hingga harus telaten dan tekun.”

Proses inilah yang membuat pertanian organik perlu mendapatkan harga pantas.

Darsih, petani dari Dusun Cingklok, Kecamatan Getasan mengatakan, pertanian organik gagal kalau tidak ada yang mau menerima. Untuk itu, penting untuk punya pasar hasil produksi pertanian organik.

“Jika sudah ada hasil, orang lain bisa turut serta ikut,” kata Darsih, Kelompok Perempuan Tani Mekar Asih.

Sebagai ibu dengan dua anak, kata Darsih, bertanam organik selain meningkatkan ekonomi, juga memberikan makanan terbaik bagi keluarga. Asupan gizi terpenuhi, setelah itu baru untuk jual.

Sebelumnya, dia pernah gagal panen. Saat itulah, Darsih mencoba bangkit dan beralih ke pertanian organik. Ternyata, dia menyadari, pengendalian hama tanaman di tanaman organik terbilang lebih mudah dibandingkan saat menggunakan pestisida.

Darsih menanam sayuran organik untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan peningkatan ekonomi. Credit: Lusia Arumingtyas / Mongabay Indonesia

Suryo Banendro, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah mengatakan, budidaya pertanian organik di Jawa memiliki konsep tetanen ingkang lumintu (pertanian yang berkelanjutan).

“Tanaman organik itu, masyarakat menghargai bumi dan lingkungan hidup.”

Selain ramah lingkungan dan memiliki biaya produksi rendah, pertanian juga beremisi rendah.

Menurut Suryo, kunci proses peralihan ke pertanian organik ada pada masyarakat sendiri. Mereka yang menginisiasi dengan basis kearifan lokal.

“Pertanian organik itu dampaknya pada ekonomi dan bekerja dengan proses bukan hasil. Kalau memikirkan ekonomi saja pasti tidak akan berhasil.”

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah menunjukkan perkembangan luas lahan dan petani organik yang tersertifikasi meningkat setiap tahun. Hingga kini, luas lahan organik tersertifikasi mencapai 3.024 hektar dengan petani mencapai 6.800 orang.

Langkah perubahan oleh masyarakat di Kopeng jadi satu contoh kegiatan pembangunan yang menggunakan pendekatan “build back better” yang diusung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Program ini memiliki tujuan mencegah kerentanan dan menghidupkan kembali ekonomi dengan membawa perbaikan melalui transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.

Shofyan Adi Cahyono, petani muda yang dinobatkan sebagai Duta Tani Millenial oleh Kementerian Pertanian. Credit: Lusia Arumingtyas / Mongabay Indonesia

Build back better

Anang Noegroho Setyo Moeljono, Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas mengatakan, Indonesia perlu memmiliki sistem pangan handal dan berkelanjutan seperti tercantum dalam RPJMN 2020-2024.

Dalam RPJMN, peningkatan ketersediaan, akses dan kualitas konsumsi pangan jadi salah satu program prioritas, antara lain, pengembangan pangan lokal, diversifikasi bahan pangan di masyarakat, peningkatan ketersediaan pangan hasil pertanian, dan pangan hasil laut berkelanjutan. Juga, peningkatan produktivitas, keberlanjutan sumber daya manusia pertanian, dan kepastian pasar.

Selain itu, peting ada peningkatan produktivitas keberlanjutan sumber daya pertanian dan digitalisasi pertanian juga peningkatan tata kelola sistem pangan nasional.

Pertanian organik, kata Anang, jadi salah satu cara mengimplementasikan pembangunan rendah karbon dengan pendekatan build back better.

“Kami sangat prihatin sumber daya manusia dalam pertanian ini cenderung menurun. Siapa yang mau menggantikan? Hingga dengan muncul anak muda dalam pertanian mampu memberikan inovasi baru.”

Egi Suarga, Program Manajer Low Carbon Development Indonesia (LCDI) World Resources Institute (WRI) Indonesia menyebutkan, pertanian oganik salah satu upaya kebangkitan pasca Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di tengah krisis ekonomi dan lingkungan hidup. Upaya pertanian organik, katanya, jadi salah satu pembangunan ekonomi rendah karbon.

Pemerintah, katanya, perlu mendukung upaya pembangunan dengan pemulihan pasca pandemi lewat pendekatan lingkungan hidup. “Kita harus me-reset model pembangunan dan membangun untuk pulih ke arah lebih baik.”

Egi bilang, ada empat prinsip perlu didorong, untuk build back better pasca pandemi, yakni, build fairer atau pembangunan lebih adil, build stronger atau membangun lebih kuat, build safer atau pembangunan beralih ke rendah karbon dan build cleaner atau pembangunan rendah karbon untuk mendorong ekonomi.

Said Abdullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan mengatakan, penting memperluas pertanian organik. “Ini pertanian yang sesungguhnya.”

Setiap warga negara, katanya, memiliki hak mengakses pangan sehat dan berkelanjutan dengan harga terjangkau. Sayangnya, pertanian organik lebih pada orientasi sertifikasi dan mendorong pasar ekspor.

“Pemerintah perlu memberikan dukungan pada para petani organik untuk bisa memenuhi pangan sehat secara nasional. Kalau nasional sudah terpenuhi, ekspor bisa jadi peluang.”

Shofyan ingin membuat sistem berkeadilan bagi petani. Petani untung, konsumen terjangkau dan banyak orang mendapatkan manfaat maupun lapangan pekerjaan baru.

Sistem jual beli mereka adalah fairtrade (perdagangan berkeadilan) karena yang menentukan harga adalah kelompok tani, bukan tengkulak seperti tata niaga sayur mayur umumnya. Kondisi ini, jadi keunggulan dalam pertanian organik.

Dia contohkan, biaya produksi sayur A dengan harga Rp3.000 per kilogram, SOM akan membeli Rp6.000. Jadi, rata-rata keuntungan petani antara 50-100% tergantung biaya produksi dan masing-masing komoditas.

“Petani yang menentukan harga. Penerima keuntungan terbesar adalah petani.”

Shofyan ingin pola pertanian seperti ini tak hanya pada pertanian organik, juga jadi praktik pada sistem pangan Indonesia, lebih meluas.

Liputan ini didukung oleh program Journalism Fellowship “Build Back Better” yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Environtmental Journalists(SIEJ) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.