Edisi khusus Hari Perempuan Sedunia dibuka dengan perspektif Safina Maulida, seorang pegiat lingkungan muda soal Hari Perempuan dan dampak kerusakan lingkungan, Omnibus Law, dan akses informasi terhadap perempuan.

Perempuan dan lingkungan hidup tak dapat dipisahkan satu sama lain. Keberadaan alam yang lestari akan membuat perempuan lebih berdaya. Ketika sebaliknya, perempuan terancam kehilangan tempat tinggal. Banyak konflik agraria, perampasan lahan, pembangunan infrastruktur, hingga perluasan perkebunan beerbuntut pada kondisi perempuan kehilangan ruang hidup.

Saat perempuan berada di garis depan sebagai upaya memertahankan lahan, hal tersebut bukan semata menjaga kecukupan pangan. Melainkan bentuk penyelamatan atas lingkungan dan alam. Perempuan sedari dulu telah menyadari rusaknya alam juga akan merusak sendi-sendi hidup manusia.

Dalam rangka Hari Perempuan Sedunia, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mengangkat tema  khusus perempuan dan lingkungan. Edisi kali ini, SIEJ berbincang-bincang dengan Safina Maulida, perempuan muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, pada Jum’at 5 Maret 2021.

Safina Maulida. Credit: dokumentasi pribadi

Tanggal 8 Maret adalah Hari Perempuan Sedunia, bagaimana Anda memaknai hari perempuan?

Ini pengingat sejarah buruknya pemberlakuan terhadap perempuan. Ini juga sekaligus menjadi alarm bahwa perempuan berjuang dan akan terus berjuang. International Women’s Day adalah hari untuk jeda sejenak, terima kasih sama diri sendiri yang sudah berjuang sampai sekarang —apapun itu yang diperjuangkan. Kita tahu bahwa berjuang tidak gampang, butuh banyak pengorbanan.

Beberapa konflik agraria yang muncul, perempuan kerap berada di garis depan untuk mempertahankan lahan, bagaimana Anda melihat peristiwa tersebut?

Saya melihatnya dari sisi pandangan ekofeminisme. Lingkungan hidup tidak bisa lepas dari manusia. Mereka hidup secara berdampingan. Kalau lingkungan hidup tidak dijaga maka ia akan rusak. Saat melakukan penebangan pohon untuk diambil hasilnya maka sewaktu-waktu akan habis. Pada akhirnya kita mengambil lingkungan hidup dari perspektif utility.

Pada 1970-an di Amerika tercetus paham tentang etika lingkungan. Ternyata, etika lingkungan dalam dunia nyata sudah ada. Orang-orang yang mencintai lingkungan hidup tidak hanya dari sisi keanggunan semata. Mereka itu adalah kelompok perempuan. Kita bisa katakan perempuan sudah lama berperan menyelamatkan lingkungan. Bisa dikatakan sebelum ada pengetahuan etika lingkungan, perempuan sudah melindungi perempuan. Itu sebab mengapa mereka selalu mencoba memertahankan lahan.

Dari hal tersebut, tidak sedikit mengaitkan perempuan sebagai ibu bumi-menjaga lingkungan dan alam dari ancaman. Bagaimana tanggapan Anda?

Ini hal menarik karena ada dua perspektif yang bisa dipakai. Pertama, esensialis, sebenarnya hal ini ditentang oleh para feminis karena dianggap meromantisir. Mereka berpandangan pada akhirnya definisi tersebut akan memfeminimkan perempuan. Padahal perempuan sedari dulu sudah berjuang sebagai pemberi balas kasih tak terhingga. Dalam perpsektif politik, namun kita tahu bahwa Emma Goldmen pernah membuat bulletin dengan nama Mother earth untuk menyampaikan informasi tentang perempuan. Tentu saja Ini sangat baik. Nah sekarang tergantung mau melihat ibu bumi dari sudut mana.

Bagaimana situasi perempuan dan kaitannya dengan lingkungan hidup saat ini?

Saat ini kondisinya kritis. Kita semestinya bertanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan hidup ini. Dalam perspetif ekofeminisme, ketika perempuan ditindas maka lingkungan hidup juga ditindas. Dari kacamata ekologi sosial untuk menghentikan eksploitasi dan krisis lingkungan hidup, ini kita harus hentikan dulu aksi perampasan terhadap ruang hidup perempuan.

Pemerintah bersama DPR telah mengesahkan Omnibus Law, bagaimana dampak aturan tersebut terhadap perempuan?

Omnibus Law adalah bentuk pencederaan hak asasi perempuan. Hak asasi manusia untuk hidup di lingkungan yang layak, air bersih, hingga udara bersih. Kenapa harus mengubah lingkungan hidup dengan membuatnya menjadi modern? Kenapa tidak menggunakan kultur atau budaya daerah masing-masing untuk melestarikannya tanpa mengubahnya dengan pembangunan infrastruktur. Kita tinggal di Indonesia, memang negara kaya, tapi apa perlu dirusak?

Apakah hal tersebut akan membentuk kekerasan baru untuk perempuan?

Merusak lingkungan hidup yang juga berpengaruh pada kekerasan terhadap perempuan. Ini saya pikir masih berkaitan satu sama lain, apalagi bicara soal masyarakat adat. Dengan adanya perusakan alam, perempuan menjadi semakin terpinggirkan.

Tidak sedikit perempuan masih memiliki keterbatasan akses informasi untuk mendapatkan data atau informasi tentang lingkungan di sekitarnya, bagaimana tanggapan Anda?

Kita sebagai masyarakat sipil punya hak atas informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita butuh pendidikan. Perempuan memang tidak pernah masuk ke dalam hitungan ruang publik. Kondisi perempuan dalam sebuah rumah ada tamu dan dapur. ketika datang tamu, perempuan diminta ke dapur dan laki-lakinya di ruang tamu. Perempuan tidak pernah ada di ruang publik. Perempuan seperti tak biasa menuntut haknya. Akses pendidikan, hak informasi dan data harus diperbaiki untuk perempuan.

Dampak kerusakan alam terhadap perempuan?

Saat eksositem alam rusak, maka hal tersebut akan berdampak ke mana-mana, seperti pernikahan di bawah umur mulai meningkat. Hal ini bisa kita lihat dari peristiwa gempa dan tsunami di Palu. Tata kelola pesisir dan pemanfatan kota buruk akibatkan korban berjatuhan. Selain itu, ekonomi rumah tangga juga kian terpuruk.

Secara kualitas hidup, saat hutan dibabat, tambang semen dan industri ekstraktif dizinkan beroperasi oleh pemerintah. Secara langsung hal tersebut akan membikin perempuan kehilangan ruang hidupnya. Mereka akan kehilangan sumber air bersih, sumber pangan, dan tempat tinggal. Praktik tersebut akan memunculkan kekerasan baru bagi perempuan.

Indonesia memiliki rasio anak muda lebih tinggi dibanding orang tua, bagaimana semestinya peran perempuan muda untuk menjaga, mengakampanyekan sekaligus berkontribusi aktif menjaga lingkungan?

Anak muda harus lebih peduli lingkungan. Kondisi saat ini kan anak muda menggunakan teknologi namun secara kualitas untuk penyelamatan lingkungan masih minim. Menurutku kita belum siap dengan jumlah angka anak muda yang tinggi. Anak muda harus mulai aware dengan lingkungan saat ini. Kami berharap pemuda bisa terlibat dalam gerakan penolakan Omnibus Law.

Apa harapan Anda untuk perempuan?

Alam akan semakin parah, lingkungan hidup akan semakin kacau. Saya masih punya optimisme bahwa perjuangan ada di darah daging perempuan. Masih akan ada orang-orang yang berjuang dan kita tidak akan kalah. Kita akan tiba di sana.

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.