Liputan ini pertama kali terbit di Liputan6.com pada tanggal 16 Juli 2021 dengan judul “Para Perempuan Cawang Gumilir, Tergusur dan Bertahan di Tengah Ketidakpastian.

Oleh Nefri Inge

Kaos lengan panjang dengan noda-noda hitam bekas getah karet kering, topi caping, dan celana bermotif loreng yang sudah lusuh, tergantung di pintu belakang rumah Suharmi (55).

Pakaian yang sering disebutnya ‘seragam’, digunakan Suharmi untuk beraktivitas di lahan karet milik warga, di Desa Bumi Makmur, Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan (Sumsel).

Dia, bersama suaminya Marsudi (60) dan puteranya Bagas (21), setiap pagi berangkat ke lahan karet untuk mengumpulkan getah karet hingga sore menjelang. Ada tiga lahan karet yang digarapnya secara bergantian, hari demi hari, untuk mendapatkan pundi-pundi uang.

Tak terasa, sudah lima tahun lamanya Suharmi dan keluarganya menjadi kuli penyadap karet di desa induk ini. Pekerjaan yang dulu tak pernah digelutinya, dengan terpaksa harus dilakoni demi bertahan hidup.

Kendati disibukkan dengan pekerjaan ini, Suharmi masih tak bisa melupakan bagaimana luka, amarah, sedih, dan putus asa saat dia, keluarganya, dan para warga Cawang Gumilir Kabupaten Musi Rawas diusir secara sepihak oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Musi Hutan Persada (MHP) di tahun 2015 lalu.

Lahan konservasi seluas 1.626 hektare yang berada di atas izin PT MHP tersebut dulunya menjadi tempat penghidupannya dan ratusan Kepala Keluarga (KK) selama beberapa tahun.

Tanaman penghidupan seperti padi, singkong, jagung, hingga karet yang ditanamnya dulu, mampu menopang kehidupan mereka hingga berada di ‘kasta’ ekonomi menengah. Namun akhirnya, 300 KK harus kehilangan tempat tinggal dan tanaman penghidupan mereka karena penggusuran tersebut.

“Sedih rasanya ketika ingat itu. Tanah tempat kami hidup dan menata masa depan, harus hilang karena penggusuran. Padahal hidup kami tenang dan nyaman di sana, semuanya serba ada. Tapi sekarang, kami hidup tanpa kepastian,” ucapnya kepada Liputan6.com, sembari mengingat-ingat tragedi penggusuran beberapa tahun silam.

Seluruh lahan tanamannya harus hilang sekejap, ketika PT MHP melakukan penggusuran di bulan Juli 2015. Bahkan pada bulan April 2016, penggusuran dilanjutkan dengan menyasar rumah-rumah warga Cawang Gumilir.

Alasan kawasan konservasi yang harus dijaga, membuat mimpi-mimpi mereka buyar. Perekonomian mereka pun carut marut. Bahkan pasca-digusur, ratusan warga Dusun Cawang Gumilir harus hidup berbulan-bulan di Balai Desa Bumi Makmur Musi Rawas, dengan kondisi bangunan yang miris dan kumuh.

Satu per satu warga Dusun Cawang Gumilir akhirnya pindah dari balai desa menuju ke berbagai daerah di Sumsel, bahkan hingga ke luar Pulau Sumatra. Hingga akhirnya, hanya 40 KK yang tersisa dan memilih menetap di Desa Bumi Makmur.

Perempuan dan Tanah

Suharmi bersama ratusan warga lainnya yang bertahan, terlunta-lunta tak tentu arah. Hingga akhirnya mereka harus menumpang ke rumah-rumah yang sudah tak ditinggali. Tak jarang, mereka diusir dari pemilik rumah dengan berbagai alasan.

Tak mudah untuk bisa menetap di Desa Bumi Makmur. Para warga yang tak terbiasa dengan pekerjaan menyadap karet, terpaksa memilih pindah ke tempat lain. Namun bagi Suharmi, dia harus bisa bertahan demi terus memperjuangkan hak-hak mereka yang terampas oleh PT MHP.

Perempuan terlibat langsung dengan kehidupan, dengan tanah. Tanpa tanah, perempuan tidak bisa hidup, tidak bisa menanam. Makanya hingga kini saya masih bertahan di sini, agar bisa terus menyuarakan aspirasi kami

Suharmi, Ketua Serikat Petani Cawang Gumilir

Bagi seorang perempuan, dampak penggusuran sangat memukul perasaannya. Suharmi, yang ditunjuk menjadi Ketua Serikat Petani Cawang Gumilir, harus siap jikalau dia diajak pendamping mereka, LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

Walhi Sumsel akan mendampinginya untuk terus berorasi, menyuarakan keinginan mereka untuk kembali ke Dusun Cawang Gumilir, areal tempat tinggalnya dulu, bisa keluar dari izin PT MPH, dan bisa mengajukan Perhutanan Sosial kepada KLHK.

Di sisi lain, dia juga menjadi bagian dari tulang punggung keluarga dan ibu rumah tangga. Pagi hari harus berangkat bekerja, sebagai buruh penyadap karet. Sore hari, harus mengurusi seluruh kebutuhan di rumah.

Demi membantu perekonomian keluarga, dia harus merelakan terbuangnya waktu bersama anak bungsunya, Syifa (11), yang kini sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).

Bahkan, di saat ibu-ibu bisa memantau tumbuh kembang anaknya yang sudah remaja, serta bisa memperhatikan apa saja yang dipelajari anaknya di sekolah, Suharmi tidak bisa melakukan itu secara rutin, karena waktunya tersita di lahan karet dan di dapur.

“Tidak ada waktu lagi untuk memantau, apa saja yang Syifa lakukan dari sepulang sekolah, hingga sore hari. Padahal di sini, tindakan kriminal cukup tinggi, narkoba merajalela, pencurian pun hampir setiap hari,” ujarnya.

Sebagai seorang ibu, Suharmi selalu cemas meninggalkan anak perempuan sendirian di rumah. Namun dia tak punya pilihan, waktunya terkuras bekerja, membereskan rumah dan ditambah rasa lelah yang menggelayut setiap malamnya.

Di tengah himpitan hidup, Suharmi masih terus bersemangat menyuarakan aspirasinya, dengan adanya dukungan dari pendamping Walhi Sumsel. Apalagi kini, lahan Cawang Gumilir dinilainya tak terurus, hanya ditutupi semak belukar saja, dengan ditanami pohon ekaliptus, yang menjadi produk kayu dari PT MHP.

“Jika kami tidak bisa kembali ke Cawang Gumilir, setidaknya ada solusi yang terbaik untuk kami. Jangan nanti, kami direlokasi di lokasi yang jauh dari pemukiman dan tidak strategis. Pikirkan juga, kami mau bertahan bagaimana jika harus memulai hidup di kawasan terpencil,” ujarnya.

Liputan ini merupakan hasil dari program Fellowship Jurnalis Lingkungan: “Build Back Better, Efektivitas Skema Perhutanan Sosial dalam Penyelamatan Hutan”, yang diselenggarakan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Baca juga:

There are no comments yet. Leave a comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.